
EPISODE 30
Matahari belum sempurna tenggelam ketika Hary memasuki rumahnya. Dengan dibantu Deni untuk turun dari mobil. Ya, setelah seminggu Hary bangun dari koma, hari ini dia diperbolehkan pulang. Dan besok dia sudah bersi keras untuk masuk ke kantor. Karena ingatannya sudah pulih semua. Abu dan Bayu yang berperan sangat banyak dalam proses kesembuhan Hary. Setiap hari, sepulang dari kantor Abu dan Bayu bergantian untuk menjenguk Hary dan menceritakan semua masalah-masalah di kantor sebelum kecelakaan itu terjadi. Karena sampai hari ini, pelaku masih belum mau berkata jujur siapa otak sabotase itu. Sementara Rainy, sudah menolak untuk datang menemani Hary, setelah Rainy tahu bahwa Hary sudah benar-benar sembuh dari koma nya. Sebenarnya penolakan Rainy untuk menemani Hary, sangat mengecewakan bagi Hary. Karena jauh di lubuk hatinya, dia telah sadar siapa yang tulus mencintainya. Namun rupanya Rainy telah menutup rapat pintu hatinya untuk Hary. Kalo toh beberapa waktu lalu Rainy mau menjaga Hary ketika lelaki itu koma, semata-mata hanya karena rasa kasihan saja, tidak lebih.
"Hati-hati Pak Hary". Suara Deni membuyarkan kilasan-kilasan lamunan Hary tentang Rainy.
"Ya... Makasih Pak Deni", ucap Hary diantara senyum nya. Deni juga menanggapi nya dengan senyum.
"Kalo masih kurang fit, besok kan masih boleh ijin pak".
"Mau ngapain di rumah. Bosen saya pak, lagi pula saya penasaran dengan motif pelaku sabotase mobil saya", jawab Hary.
"Saya sih ragu bahwa ada orang lain yang terlibat. Karena sampai hari ini pelaku juga tidak mengatakan dia bekerja untuk siapa", jelas Deni.
"Itu yang bikin saya penasaran. Karena pelaku kan bukan karyawan kantor kita. Kenapa dia bisa bebas masuk ke area parkiran?"
Pertanyaan yang lebih penegasan itu cukup membuat Deni terhenyak.
"Menurut Scurity karena pelaku mengaku sebagai suplier baru untuk kantin".
"Itu lebih aneh, prosedur-nya kalo ada suplier baru kan dari scurity menghubungi departeman yang bersangkutan", ujar Hary lebih lanjut.
"Katanya sih dari pos depan sudah menginfo-kan ke kantin. Dan mobil suplier dipersilahkan masuk. Dan entah setelah itu ga tau apa yang terjadi", jelas Deni.
Percakapan mereka terhenti ketika perempuan paruh baya memasuki ruang tamu sambil membawa segelas kopi dan mendoan tempe dan tahu isi yang masih terlihat panas.
"Silahkan pak. Maaf, saya permisi ke belakang dulu tuan".
Hary mengangguk : "Makasih Bi"
Lalu perempuan paruh baya yang telah hampir 8 tahun bekerja di rumah Hary menghilang dibalik ghorden pembatas ruang tamu dan ruang tengah.
__ADS_1
"Memang apa rencana Pak Hary setelah ini?" Tanya Deni sembari menyeruput kopi yang disediakan pembantu rumah Hary.
"Liat file-file lama dulu, biasanya setelah liat file-file lama saya dapet ide", jawab Hary. Lalu dia selonjorkan kaki nya. Dan meletakkan kruk di samping nya.
"Dengan kondisi seperti ini, bukannya akan menyulitkan Pak Hary ketika naik tangga ke rungan?"
"Pasti ada jalan pak. Tapi kenapa Pak Deni sepertinya melarang saya masuk kantor?"
Deni reflek menoleh, matanya tajam menatap Hary.
"Maksud Pak Hary?" Deni sengaja menggantung ucapannya.
"Ya, seperti nya pak Deni keberatan jika saya masuk kantor secepatnya", jawab Hary.
'Dasar tak tahu diri, udah ditolong malah ngomong nya asal', gerutu Deni dalam hati.
"Saya hanya gak mau nanti di kantor Pak Hary jadi merepotkan saya juga", balas Deni tajam.
"Syukurlah kalo begitu. Semoga anak buah Pak Hary tidak merasa terpaksa melakukan-nya". Deni tak mau kalah.
"Saya yakin tidak, karena sebenarnya anak buah saya punya rasa solidaritas yang tinggi".
Senyum yang ditunjukkan Hary adalah senyum kemenangan.
"Syukurlah. Setidak nya jika mereka melakukan sesuatu karena terpaksa hasilnnya akan jauh berbeda dengan melakukan sesuatu karena keikhlas-an", sindir Abu. Hary menatap rekan kerja beda departeman.
"Apa Pak Deni membantu saya kali ini karena terpaksa?"
Hary mendapatkan point dari panjangnya obrolan diantara meraka.
"Apa saya bilang begitu?"
__ADS_1
Deni bertanya dengan nada yang menyakitkan telinga Hary.
"Dari kata-kata Pak Deni tadi seolah Pak Deni keberatan mengantar saya pulang. Jika memang benar, kenapa Pak Deni melakukannya?"
Hary tak mau kalah. Deni tersenyum
"Saya tidak mengatakan apapun. Kalo Pak Hary berfikir seperti itu, artinya itu kesimpulan Pak Hary sendiri".
Balas Deni sambil tersenyum. Puas rasanya bisa bikin saingan-nya itu memendam rasa jengkel tingkat dewa. Ya, sudah lama Deni dan Hary terlibat persaingan sengit yang hanya mereka berdua yang tahu dan merasakan. Persaingan jabatan lebih tepat nya. Siapa yang tak tahu, dulu Hary hanya seorang driver, sementara Deny sudah menjadi Manager Produksi. Bahkan dulu awal Hary masuk, Hary adalah driver yang ditugaskan untuk mengantar jemput Deni ke kantor. Tapi beberapa bulan kemudian, Hary di tarik menjadi Driver Big Bos perusahaannya
Kemampuan Hary berbahasa Inggris mempermudah komunikasi Hary dengan Mr Anderson. Pribadi Hary yang ulet dan sigap dalam bekerja sangat menarik simpati Mr Anderson. Hingga kemudian Hary di tarik di bagian Staff General Affair. Disaat ada kekosongan posisi Manager General Affair, Deni pun mencoba ikut tes seleksi. Namun ternyata Hary yang beruntung, karean tiba-tiba dia di-promosikan menjadi Manager General Affair. Tentu saja itu melukai hati Deni. Dari situlah semua berawal. Persaingan mereka ketat tapi hanya dibalik layar. Siapa yang tak ingin posisi se-basah Genersl Affair. Yang selalu punya relasi luas di luar kantor. Hubungan dengan perusahaan-perusahaan lain bahkan ke Instansi Perintah. Lobi-lobi yang kerap dilakukan Departeman itu sering menuai keuntungan tersendiri untuk perusahaan. Karenanya, Deni sangat menginginkan posisi itu. Namun dia kalah nasib. Keberuntungan tengah memayungi Hary dengan baik. Hingga sebagai ucapan terimakasih, beberapa kali Hary menerima penghargaan dengan kenaikan gaji yang fantastik. Mengalahkan gaji Manager Produksi seperti Deni.
"Sudah mau maghrib, Pak Deni belum pengin pulang?"
Sindir Hary yang kehabisan kata menghadapi debatan-debatan Deni. Deni melirik jam di-pergelangan tangannya.
"Baiklah, saya memang harus segera pulang. Istri dan anak saya pasti sudah menunggu kepulangan saya dari tadi".
Lalu Deni bangkit, setelah sebelumnya menyempatkan diri menghabiskan kopi yang di buat asisten rumah tangga Hary.
"Saya pulang dulu Pak Hary. Terimakasih atas semua nya", Deni menjabat tangan Hary.
"Seharusnya saya yang ngomong seperti itu. Tapi ya sudahlah, karena Pak Deni yang terlebih dulu ngomong gitu, saya hanya bisa jawab : Ya sama-sama".
Iiissshhh, rasanya Deni pengin menenggelamkan Hary dalam laut yang paling dalam, agar tak lagi nampak di depan matanya. Kalo perlu biar Hary jadi santapan hiu saja di dasar laut sana. Deni tak peduli.
"Hati-hati di jalan. Sekarang banyak modus kejahatan yang kita tidak sadari".
Ucap Hary di akhir kalimat nya. Sebenarnya Deni ingin melempar Hary dengan kruk yg tergeletak di samping nya, jika tidak ingat semua nya bisa berbuntut panjang.
"Terimakasih sudah mengingatkan". Deni mencoba menjawab se-santai mungkin meski hatinya bergejolak penuh emosi. Lalu Deni seger berlalu dari rumah Hary, mengendarai mobil nya keluar dari lingkungan elite itu. Memikirkan, bagaimana caranya agar Hary tidak segera masuk kantor.
__ADS_1