
Bisa jadi bawahannya itu akan makin membeberkan semua hal tentangnya. Segara Hary memejamkan matanya dan mencoba merebahkan tubuh nya senyaman nya dengan kondisi sandaran mobil yang ditidurkan semaksimal mungkin.
Hary mendengar pintu mobil nya di ketuk dari luar, tapi dia tetap diam dan berpura-pura telah tertidur.
"Bapak yakin ada orang di dalam mobil ini?"
Hary fahal betul suara itu. Pasti itu suara Rainy.
"Iya bu, atasan saya tidak mungkin keluar dari mobil ini tanpa ketahuan".
Itu pasti suara Sriyanto, Hary mengenalnya.
"Maksud Bapak?"
"Yang seperti saya bilang tadi, bahwa kondisi atasan saya saat ini tidak memungkinkan untuk pergi jauh. Pasti akan merepotkan beliau sendiri jika atasan saya itu nekad keluar dari mobil ini".
Berakhirnya kalimat Sriyanto, ketukan halus di mobilnya kembali terdengar. Hary menghela nafas mencoba mengusir kegugupan nya.
__ADS_1
"Pak Hari mohon maaf tolong buka pintunya. Bapak masih di dalam kan?" Suara Sriyanto di barengi dengan ketukan halus di pintu. "Saya ke sini dengan Bu Rainy", lanjut sriyanto yang semakin membuat Hary blingsatan.
"Mungkin Pak Hary nya tertidur pak. Ya sudahlah, Bapak bisa datang lain waktu. Sepertinya Pak Hary juga belum ingin bertemu dengan saya", suara Rainy terdengar lembut di telinga Hary. "Saya balik ke rumah dulu, karena tadi belum kelar beresin perabot kotornya", pamit Rainy.
"Baik bu, mungkin Pak Hary ketiduran. Karena akhir-akhir ini beliau sering lembur", ujar Sriyanto meski dia sendiri tak yakin kalo atasan nya itu benar-benar tertidur. Setelah perempuan itu pergi, perlahan Sriyanto membuka pintu depan. Yang tertangkap oleh netra nya adalah Hary tengah melotot menahan amarah yang luar biasa.
"Kamu selalu bertindak bodoh. Apa maksdumu dengan mengajak mantan istri ku ke mari? Apa kamu ingin membalas ku karena aku telah memberi mu hukuman konyol itu?"
Hary langsung memberondong Sriyanto dengan pertanyaan ketika pintu itu telah terbuka.
"Maaf pak, saya tidak sengaja. Semua terjadi begitu cepat, jadi saya tidak tahu harus bagaimana. Yang saya tahu, tiba-tiba saja saya sudah berada di depan ruko itu pak", jelas Sriyanto namun tak dapat di pungkiri hatinya sangat kwatir akan mendapat hukuman baru.
"Mana ada seperti itu pak? Mana berani saya membalas bapak, kalo sampai hal itu saya lakukan bisa-bisa saya ga gajian 3 bulan karena di skors. Siapa sih yang ga kenal Pak Hary, Si Raja Tega yang gak punya perasaan. Jadi saya gak berani lakukan itu. Tadi juga saya ga tau kenapa kok tiba-tiba saya ada di depan rumah Bu Rainy. Kayak ada yang ndorong-ndorong saya supaya ke situ. Terus neken bel, terus minta Bu Rainy melihat Pak Hary. Udah cuman seperti itu pak, gak lebih", Sriyanto bicara panjang lebar yang tanpa dia sadari telah mengolok-olok Hary. Hary terbungkam takjub antara pengin marah juga pengin ketawa menjadi saksi kepolosan anak buah nya yang satu itu. Hary hanya menatap Sriyanto datar, tanpa makna.
"Apa aku semengerikan itu Sri di mata para driver?" Kali ini Hary sedikit melembut.
"Iya pak, sangat mengerikan. Dulu Bapak itu terkenal sebagai atasan yang sangat peduli dengan anak buahnya. Bapak dulu sering bersama kami para driver duduk-duduk dan ngopi di kantin setelah kita selesai makan siang. Bahkan dulu Bapak secara bergiliran sering ngajakin kami makan-makan di Restoran Padang Uda samping kantor. Tapi gak tau, beberapa tahun lalu Bapak berubah, jadi arogan dan kejam. Bapak sering tidak mau mentolerir kesalahan kami meskipun kesalahan kami tidak lah fatal. Tapi Bapak dramatisir seolah-olah itu kesalahan fatal dan berakibat hilang nya nyawa orang lain. Bapak malah terlihat konyol di mata kami, bukan berwibawa tapi malah konyol. Hahahahah...". Sriyanto tertawa lebar di luar kesadarnnya. Hary menatap Sriyanto jengkel tapi juga ada rasa bersalah.
__ADS_1
"Apa para driver membenciku Sry?"
"Bukan benci lagi pak, tapi da ill fiil banget deh. Bapak jadi kayak momok di mata driver. Hahahaha", lagi-lagi ucapan Sriyanto diakhiri dengan tawa lepas nya. Sungguh Sriyanto benar-benar di luar kontrol akal sehat nya ketika mengatakan itu semua.
"Kamu juga?!" Pertanyaan yang di diakhiri dengan nada bentakan itu sontak langsung menghadirkan kesadaran Sriyanto.
"Maaf pak, jangan ambil hati apa yang saya katakan tadi. Karena saya tak sadar mengatakan semua itu. Maafkan saya pak", Sriyanto tertunduk. Wajahnya pucat, entah ini untuk yang keberapa kalinya dia lontarkan kata-kata di luar kontrol akal sehat nya.
"Dari tadi kamu itu ngomong tentang kejelekanku Sri. Sekarang gak ada satu pun perbuatan ku yang baik. Apa aku sudah se-mengerikan itu Sri? Padahal selama ini aku hanya melakukan semua ketentuan dan aturan Perusahaan. Kalo dulu aku terkesan baik, dekat sama driver, dekat sama Office Boy juga Scurity semata karena aku sangat menghargai kerja keras kalian. Tapi ketika aku melakukan semua itu, semakin banyak kasus pencurian, kasus driver terlambat menjemput Bos kita juga request dari pantri yang rasanya kurang masuk akal. Akhirnya aku mencoba mengambil jarak, semakin banyak teguran dan surat Peringatan yang ku berikan, aku merasa mulai ada perubahan. Driver makin disiplin, pantri tertata juga pencurian di Perusahaan mulai ada titik terang nya".
Hary terdiam setelah panjang lebar dia menceritakan sisi gelap alasannya. Sriyanto yang dulu merupakan teman dekat nya ketika masih sama-sama menjadi seorang driver hanya terdiam. Memcoba mentelaah dan memahami apa yang disampaikan atasannya. Namun, semakin keras dia berusaha mencerna maka semakin bingung dia memahami.
"Maaf pak, saya malah tidak faham apa yang Bapak ceritakan tadi", ujar nya dengan polos dan expresi tanpa dosa.
"Sriiii", teriak Hary jengkel. "Ternyata selain lola kamu itu juga menyebalkan. Percuma aku cerita panjang lebar, ternyata inti nya saja kamu juga gak faham".
Dalam nada bicara Hary tersimpan rasa jengkel yang luar biasa. "Sudahlah kita pulang sekarang. Bisa stress aku kalau lama-lama ngobrol sama kami. Tapi ingat aku tetap akan memberi kamu hukuman karena telah berani mempermainkanku. Dan soal hukuman itu akan aku pikirkan kira-kira hukuman apa yang pantas buat kamu", ujar Hary akhirnya.
__ADS_1
"Hukumannya jangan yang berat-berat ya pak",Sriyanto masih berusaha membujùk Hary mengenai hukuman itu. Sungguh, Sriyanto tak faham dengan apa yang di maksud kan Hary. Sriyanto segera berlari memutar untuk bisa duduk di belakang kemudi. Tak lama kemudian Sriyanto melajukan mobil nya meninggalkan area rumah Rainy.