
"Maaf kan saya pak. Saya tidak bermaksud melalaikan perintah Pak Hary, tapi saya benar-benar lupa. Tadi saya ke kantin ketemu teman-teman driver, lalu saya makan siang. Kemudian kami ngobrol, mungkin hal itu yang membuat saya jadi lupa tujuan utama saya ke kantin", jelas Sriyanto yang dia sendiri sangsi akankah atasan nya itu bisa menerima alasan nya?
"Kamu selalu begitu. Aku heran, bagaimana dulu Personalia Departemant bisa nerima kamu Sri. Di mana nilai mu yang menonjol sehingga kamu patut menjadi Karyawan di sini?"
"Ketika Psyko tes, nilai saya tertinggi di antara para pelamar waktu itu pak. Juga saat tes interview, nilai saya juga tertinggi pak", jawab Sriyanto tak mau kalah.
"Sulit di percaya dengan . yang ada saat ini", balas Hary jengkel.
"Mungkin karena usia juga pak", Sriyanto tak mau kalah.
"Sudahlah, ngomong sama kamu gak pernah ada jelas nya. Ribet mulu, cepat ke luar dari ruangan saya", usir Hary jengah.
"Siap pak. Maaf- kan saya". Sriyanto mengangguk kecil, lalu menundukkan kepala nya. Kemudian keluar dari ruangan Hary. ' Dasar atasan gak jelas, dia yang aneh kok aku yang disalahkan', monolog Sriyanto dalam hati.
Sementara di dalam ruangan nya Hary merenung memikirkan apa yang harus di lakukan nya untuk memperbaiki hubungan nya dengan Rainy dan anak-anak. Menjalin kembali apa dulu pernah terjalin dengan indah. Setidak nya, anak-anak nya mau menerima kehadirannya kembali. Rasanya Hary ingin terbang menemui mereka, minta maaf. Jika perlu bersujud memohon ampun pada mantan istri dan anak-anak nya. Terutama Alfa, yang telah menggantikan posisi nya menjadi lelaki dewasa yang harus bisa melindungi adik dan ibu nya. Hary sangat merasa bersalah terutama ketika mengingat kehidupan mereka setelah dengan sepihak Hary menceraikan Rainy. Mengusir mereka dari rumah dinas nya, tanpa memberi mereka sedikitpun uang apalagi harta gono gini. Hary masih ingat, ketika dia mengajukan perceraian itu, dia sengaja tinggal di rumah Emily hingga putusan sidang perceraian nya dengan Rainy. Saat itu Hary pun tak memberi waktu untuk Rainy dan anak-anak tinggal lebih lama di rumah dinas nya. Hanya beberapa hari setelah perceraian mereka di putuskan secara syah oleh Pengadilan Agama Rainy dan anak-anak harus segera pergi dari rumah mewah itu. Hanya 2 motor yang memang atas nama Rainy dan Alfa saja yang boleh mereka bawa. Selain dari 2 kendaraan itu, Hary melarang nya untuk di bawa. Deposito yang sedia nya untuk bea kuliah Alfa dan Mitha pun sepersen tak diberikannya untuk memenuhi bea pendidikan anak-anak mereka. Bahkan perhiasan yang dulu Hary berikan untuk Rainy sebagai hadiah pernikahan mereka pun telah di minta Hary sebelum putusan sidang itu di tetapkan. Yang lebih menyedihkan, Hary melalaikan putusan sidang yang mengharuskannya untuk tetep memberi tunjangan bea pendidikan anak-anak mereka. Hary menjambak rambutnya dengan kesal, betapa banyak rentetan salah dan dosa nya pada mantan instri dan anak -anak nya hanya kerena kebodohan nya yang tergoda oleh kemolekan Emily yang ternyata pemain ulung.
"Aaahhh bagaiamanapun aku harus secepatnya bertemu dengan mereka. Sebelum kebencian Alfa padaku semakin memuncak", desis Hary dengan mantap.
__ADS_1
#
Senja itu, akhir nya Hary di sini. Di bawah bayang bayang lampu sudut sebuah rumah makan tepi sungai. Setelah menunggu hampir 3 bulan untuk membujuk dan menyakinkan Rainy bahwa dia benar-benar ingin bertemu. Bukan untuk membujuk nya agar mau rujuk, namun membujuk nya untuk memberi kesempatan padanya agar bisa bertemu anak-anak mereka terutama Alfa. Karena selama ini Alfa selalu menolak menerima telfon nya. Bahkan setelah beberapa kali Hary memberanikan diri sarapan nasi uduk di warung Rainy, Alfa pun mengacuhkan sapaan nya. Alfa tak pernah menganggap nya ada. Berbeda dengan Mitha yang masih mau menegur nya meski hanya sekedar nya.
"Apa yang mas inginkan lagi?" Tanya Rainy datar tanpa menatap wajah mantan istri nya.
"Kita makan dulu, baru nanti kita bicara", bujuk Hary mencoba menatap Rainy dalam-dalam. Rainya yang di tatap dengan intens segera membuang nafas jengah.
"Aku tak punya waktu banyak mas, setelah makan aku akan langsung pulang. Kasian anak-anak kalo mereka pulang aku tidak di rumah", jawab Rainy memberi alasan.
Ya, Rainy mau memenuhi ajakan Hary karena hari ini Mitha harus Praktek Lapangan di Rumah Sakit daerah dan baru pulang sekitar jam 19.30. Sementara Alfa, keluar kota melihat perkembangan proyek baru nya. Dan hari ini rencana nya dia baru akan pulang setelah hampir sepekan di sana.
"Apa kamu belum memaafkan ku dek?"
Pertanyaan Hary lebih mirip ******* yang penuh penyesalan.
"Apa kamu minta kita ketemu hanya untuk menanyakan pertanyaan konyol itu mas?"
__ADS_1
Rainy balik bertanya dengan nada jengkel. Hary terdiam seperti kehabisan bahan obrolan.
"Kamu masih marah ke aku dek?"
Hary masih berkutat di pertanyaan yang senada. Rainy terdiam, menghela nafas panjang.
"Kita sudah tua mas, kamu bilang ada sesuatu yang pengin kamu sampaikan. Dan aku menunggu itu. Aku berharap kamu tidak lagi mengulangi pertanyaan bodoh mu yang seperti tadi. Kalo ternyata hal penting yang ingin kamu sampaikan hanya berkutat seputar pertanyaan bodoh tadi, artinya sebenarnya tidak ada sesuatu yang penting yang ingin kamu sampaikan".
Rainy tampak jengah dan menahan kejengkelan yang dalam.
"Ya baiklah, aku gak akan lagi membicarakan hal tadi". Akhirnya Hary mengalah. Perdebatan mereka terhenti, saat ada pramusaji mengantarkan pesanan minum mereka.
"Aku ingin kamu memberi ku kesempatan untuk memperbaiki semua nya", ucap Hary saat pramusaji itu telah pergi. "Jangan di sela dulu, dengarkan sampai aku selesai bicara", ujar Hary cepat ketika dilihatnya Rainy hendak mengatakan sesuatu. Rainy mengangguk, anggukan yang memberi kelegaan tersendiri untuk Hary. "Kesempatan yang ku maksud adalah agar aku bisa dekat dengan anak-anak. Aku ingin mereka juga mau menerima aku sebagai ayah nya. Meski kamu tidak mau rujuk sama aku".
Rainy hanya diam, mendengarkan Hary bicara mengungkapkan apa yang dia rasakan. Entahlah, tiba-tiba ada iba di hati Rainy untuk Hary melihat kondisi hubungan antara mantan suami nya itu dengan anak-anak nya, terutama Alfa.
"Sungguh dek, aku hanya ingin bisa dekat dengan anak-anak seperti dulu. Aku tidak akan mengganggu mu, asal kamu mau janji untuk membantuku bisa dekat dengan anak-anak".
__ADS_1
"Apa ucapanmu bisa dipercaya mas?"
Rainy menatap Hary, mencoba mencari kebohongan. Namun tak ada kebohongan yang di temukan dalam tatapan mata Hary. Rainy mencoba mengatur gejolak bahagia yang dirasakannya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Rainy pun ingin anak-anak dapat menerima kehadiran Hary lagi sebagai ayah mereka.