
"Udah kamu diem dulu ga usah banyak ngomong. Ayo kita pulang. Kamu selalu merepotkan kalo mabok begini. Ingetin aku untuk minta ganti rugi karena kejadian hari ini udah bikin aku tekor".
Abu bersungut sungut sambil memapah Hary yang dibantu scrurity untuk segera masuk ke dalam mobil yang telah di parkir nya di depan pintu masuk kelab malam.
"Makasih pak", ucap Abu sopan yang di balas anggukan kepala oleh Scurity. Kemudian Abu melajukan kuda besi nya menembus temaram nya malam yang mulai lengang. Karena pagi akan menjelang. Abu menatap Hary miris, lelaki yang dulu begitu gagah dan selalu rapi kini terlihat sangat berantakan dan tak terurus. Yang ada di fikiran Abu saat ini adalah mengantarkan Hary ke rumah nya. Memastikan lelaki itu bisa tidur nyenyak di waktu yang tersisa sebelum kembali harus berjibaku dengan urusan kantor. Sekarang Hary lebih suka menghabiskan malam nya dengan cara mabok mabok an. Pagi hingga sore dia bekerja dengan tekun dan disiplin. Keluar dari kantor dia akan segera ke kelab malam untuk minum dan melupakan semua masalah yang dihadapinya. Ternyata di balik wajah tegas nya, dia tetap seorang lelaki yang rapuh, yang belum siap menerima kegagalan rumah tangga. Apalagi rumah tangga ke dua yang dibangun di atas perselingkuhannya harus juga berakhir dengan wanita nya yang berselingkuh kemudian meninggalkannya tanpa ampun. Setelah semua tabungan nya dan gaji bulanannya terkuras habis, wanita yang sangat dicintai nya itu memilih pergi bersama lelaki yang lebih mapan dari nya. Dan ternyata itu adalah luka terperih yang harus Hary alami.
Prahara rumah tangga yang dialami Hary ternyata mampu merubah sosok ramah dan disiplin itu menjadi sosok yang menakutkan. Sosoknya sekarang menjadi seorang atasan yang dingin dan minus toleransi. Atomosfer departeman yang dipimpinya kini berubah menjadi begitu mencekam. Kesalahan sekecil apapun yang dilakukan anak buah nya bisa membuahkan keluar nya Surat Peringatan. Seperti pagi ini yang terjadi di dalam ruangannya. Ada Sriyanto yang sedang duduk seperti layaknya terdakwah. Hanya karena dia lupa memeriksa ban mobil nya sebelum berangkat menjemput Mr Gerald Wakil Direktur. Padahal menurut Sriyanto, ban mobil nya hanya kempes sedikit, jadi masih bisa berjalan normal sembari mencari bengkel pinggir jalan untuk tambah angin.
"Kecerobohanmu bisa membahayakan nyawa atasan kita. Dan saya sangat benci dengan semua bentuk kecerobohan", ucap Hary dingin. Matanya menatap tajam pada Sriyanto yang hanya terdiam tak berani bergerak. Dalam kondisi seperti ini memberi penjelasan yang logis pun percuma, yang ada hanya akan semakin menambah runyam masalah. Aura mengintimidasi terasa sekali dari tatapan Hary pada bawahannya. Seolah jika Sriyanto berani bergerak maka Hary akan siap untuk segera mengulitinya hidup hidup. Hary cukup sigap nenyelesaikan segala bentuk permasalahan yang ada di kantor. Meski setiap malam dia mabok, namun saatnya kerja dia mampu bekerja dengan baik. Bahkan sangat baik sehingga menginginkan segalanya harus sempurna. Tak boleh ada kesalahan sedikitpun. Hary menyodorkan kertas yang berisi Surat Peringatan yang harus ditanda tangani Sriyanto.
"Kamu baca dan fahami isinya setelah itu tanda tangani. Saya tak mau kejadian ini terulang lagi". Tegas Hary dengan aura intimidasi.
__ADS_1
"Siap pak", jawab Sriyanto. Lalu segera mengambil kertas Surat Peringatan yang diberikan Hary padanya. Membubuhkan tanda tangan nya, kemudian menyerahkan kembali kertas itu pada Hary.
"Ini adalah Surat Peringatan mu yang pertama. Jika belum genap 3 bulan kamu melakukan kesalahan lagi maka Surat Peringatan ini otomatis akan naik menjadi ke 2. Jika dalam masa itu kamu melakukan kesalahan lagi maka Surat Peringatan ini otomatis naik jadi Surat Peringatan ke 3. Bahkan bisa langsung berujung pada skorsing menuju PKH".
Kata demi kata yang diucapkan Hary mengandung ancaman.
"Ya Pak, siap". Hanya itu yang bisa di lakukan oleh Sriyanto. Ketegangan kembali menghiasi ruangan General Affair.
Deg
Hatinya tiba tiba berdesir perih melihat barang yang dijatuhkan tanpa sengaja. Sebuah foto lawas, tanpa figura. Ada dirinya, Rainy mantan instri yang dicampakkan, Alfa juga Mitha yang telah disia siaķan.
__ADS_1
" Papa jangan pulang malam ya, besok kan ulang tahun Mitha".
Memory 6 tahun silam seolah tanpa ampun kembali berputar di dalam layar ingatannya.
"Enggak, papa pulang cepat, biar kita bisa persiapan ke pantainya", jawab Hary kala itu sambil mentoel hidung mungil putri manja nya.
"Janji ya" kejar Mitha seolah tak percaya dengan jawaban ayahny.
"Papa janji".
Lalu ayah dan anak itu menautkan jari telunjuknya sebagai isyarat berjanji.
__ADS_1
Tapi ternyata Hary mengingkari janjinya. Bahkan dia telah memberi hadiah luka yang amat dalam pada Mitha. Karena di hari yang dia janjikan, Hary justru tak pulang ke rumah. Bahkan beberapa hari kemudian, dia benar benar membuang keluarga kecilnya itu. Dengan pengusiran yang pasti sangat menyakitkan hati anak anak dan mantan istrinya. Hary merobek foto itu dengan gemas. Seolah diapun ingin merobek masa lalunya agar tak pernah hadir lagi. Dia tak ingin fokus nya pada pekerjaannya terganggu. Kembali dibuka nya file kasus pencurian beberapa tahun silam.