
Hari masih cukup pagi, ketika Hary sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Hary duduk di kursi santai depan rumahnya, menunggu Sriyanto anak buahnya yang telah berjanji akan menjemput. Di-mainkan nya benda pipih penjelajah dunia maya. Tanpa sengaja Hary melihat akun sosial media Emily. Tampak di sana, perempuan itu tengah di-peluk dengan mesra oleh seorang lelaki tambun dari belakang. Mereka mengenakan topi lebar dan kacamata hitam untuk menutupi kepala dan silau nya dari terik mentari yang terlihat sangat menyengat. Emily nampak begitu menggoda, dengan kaos tanpa lengan yang begitu seksi. Memperlihatkan setiap lekuk tubuh bagian atasnya. Lalu hot pen hitam yang benar-benar diatas paha. Sehingga sebagian paha seksi nya ter-ekspos sempurna. Jangan lupakan ekspresi wajah Emily yang menggoda. Lidah yang sengaja dijulurkan sedikit ke atas, menyentuh bibir atas nya. Seolah tengah menikmati sesuatu yang sangat lezat. Dengan caption yang membuat Hary melotot. 'Bulan madu bersama Pangeran Hati'. Terasa mendidih darah Hary melihat foto itu, apalagi ketika membaca berbagai komentar dibawahnya.
'Suami baru kak?'
Akun LolaAja berkomentar.
'Calon suami, maklum si Pangeran masih ada buntut resmi'.
Jawab Emily blak-blakan.
'Petualang sejati, laki orang di-embat juga ya kak'.
Tulis akun Aku Memang Pemain berkomentar.
'Itulah seru nya. Ketika kita bisa merebut dari genggaman orang, adrenalin terpacu sempurna', jawab Emily tanpa memikirkan bahwa jawaban-jawabannya akan menimbulkan kontroversi.
Amarah Hary seakan semakin mendidih, ketika melihat foto lelaki yang memeluk mantan istrinya itu. Karena laki-laki dalam foto yang di-unggah-nya bukanlah lelaki yang dulu pernah di-temui nya di kelab malam. Entah siapa lagi korban dari si pemain kelas kakap itu.
__ADS_1
'Semalem bisa kuat berapa ronde?' Hary ikutan berkomentar. Tapi karena terlihat Emily belum on line, maka komentar Hary belum-lah terbaca oleh Emily. Tapi setidaknya, Hary bisa sedikit melampiaskan geram-nya pada Emily. 'Benar-benar perempuan yang tak layak di-perjuangkan', desis Hary. Fokus Hary beralih dari benda pipih ketika pendengarannya menangkap suara mobil yang terparkir di depan pintu pagar. Bergegas Hary meraih kruk nya, kemudian berjalan pelan ke arah gerbang. Tampak Sriyanto terburu-buru mendekat ke arah Hary berjalan.
"Harus nya Pak Hary tunggu di teras saja, biar saya yang bantu bapak".
"Aku tidak cacat Sri, hanya karena kecelakaan itu. Meski sekarang kaki ku kayak gini".
Hary mendengus kesal karena Sriyanto seolah memperlakukannya seperti orang cacat. Dan Sriyanto pun merasa jengah, karena maksud baiknya malah di-salah artikan oleh Hary.
"Maafkan saya pak", ujar Sriyanto. Lalu dia membiarkan Hary berjalan sendiri, tanpa bantuannya. Sriyanto membukakan pintu penumpang, lalu menutup nya pelan setelah Hary masuk dan duduk dengan nyaman. Bergegas Sriyanto juga masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobil nya untuk kemudisn membelah jalan protokol yang mulai ramai. Kurang lebih 30 menit kemudian mobil Sriyanto memasuki gerbang kantor. Sriyanto membuka jendela penumpang di mana Hary duduk di dalamnya. Scurity tampak berjejer memberi hormat pada Hary. Setelah itu mobil melaju memasuki halaman kecil pintu utama kantor. Sriyanto menghentikan mobil nya tepat di depan pintu utama. Lalu dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Hary.
"Boleh saya bawakan tas nya pak?" Tanya Sriyanto terlebih dahulu, karena dia kwatir untuk yang ke dua kalinya melakukan kesalahan.
"Maafkan saya pak", sambil menunduk, lagi-lagi Sriyanto meminta maaf. 'Kenapa kecelakaan itu tak sekalian bikin dia mati di tempat? Kalo aku jadi malaikat maut, da ku cabut nyawa nya dengan kasar dari tahun lalu', umpat Sriyanto namun hanya berani dalam hati. Meski jauh di lubuk hatinya, Sriyanto jengkel bukan main. Namun apalah daya, posisi nya hanya seorang driver, yang tak berhak membantah apalagi mendebat. Bisa habis hari ini dengan Surat Peringatan yang ke 2. Setelah Hary memasuki loby kantor, baru Sriyanto masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil nya dengan pelan menuju area parkiran.
Sementara itu di dalam ruangannya Hary tengah duduk sambil men-selonjorkan kakinya. Perjuangannya naik tangga tadi cukup melelahkan. Beruntung kondisi kantor masih sepi. Diana reception cantik itu pun belum datang. Setelah cukup lama Hary beristirahat, segera dia raih file-file setiap kasus pencurian yang terjadi di kantor nya. Dan dari semua kasus itu selalu melibatkan sosok seorang Scurity.
'Apa mungkin kasus sabotase mobilku juga ada keterlibatan dari Scurity?' Gumam Hary dalam hati. 'Kalo iya, apa alasan Scurity tersebut? Apa ada hubungannya dengan Surat Peringatan yang aku keluarkan untuk mereka?' Lanjut Hary dalam hati. Bergegas dia menyalakan komputer nya. Membuka file-file tentang anak buah nya yang telah terkena SP ( Surat Peringatan) baik SP 1, SP 2, atau SP 3, bahkan yang terkena skorsing. Hary menggeleng, ketika tak menemukan salah satu anak buah nya yang saat ini tengah dalam masa skorsing. Kalaupun ada, skorsing itu telah gugur karena setelah dikaji ulang, kesalahan yang dilakukan masih bisa di-maafkan. Lalu Hary melihat-lihat lagi file yang menyimpan nama-nama anak buah ya yang saat ini tengah berada dalam masa SP 3. Dia menemukan 3 nama scurity. Di lihat nya dengan teliti nama-nama tersebut. Dan dia pun mencoba mengingat kembali kinerja 3 orang tersebut sebelum dan selama dalam masa SP 3. Lagi-lagi Hary tak menemukan sesuatu yang bisa membuat ke 3 anak buahnya itu berbuat nekad dengan men-sabotase mobil nya. Hary masih berkutat dengan komputernya, saat tiba-tiba pintu di ketuk.
__ADS_1
"Masuk", ujar nya sambil matanya melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul 08.15, artinya hampir 1 jam Hary berkutat dengan komputer dan file-file nya.
"Yakin kamu masuk kerja?" Wajah bulat Abu menyembul ke dalam ketika pintu terbuka.
"Seperti apa yang kamu lihat", jawab Hary masih enggan mengalihkan tatapannya dari layar komputer nya.
"Serius amat", ujar Abu lalu tanpa di suruh masuk, lelaki botak yang tambun itu masuk ruangan Hary. Hary menghentikan kegiatannya, menatap Abu sekilas sebelum akhirnya dia kembali menatap layar komputer nya.
"Aku penasaran, apa seseorang yang sengaja men-sabotase mobilku ada kaitannya dengan anak buahku yang terkena SP?"
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Hary adalah sebuah pertanyaan yang Hary ketahui pasti sulit untuk di jawab oleh Abu. Abu hanya mengangkat bahu.
"Yang lebih tak masuk akal lagi, pelaku itu orang luar. Kalo tidak ada kerjasama dengan orang dalam tidak mungkin dia bisa melakukan hal sebebas itu", lanjut Hary. Kembali Abu hanya mengangkat bahu. "Kamu tuh ya, kalo diajak ngomong serius tak pernahau berkomentar", sungut Hary jengkel.
"Aku harus jawab apa? Karena yang aku tahu, kasus mu udah di tangani pihak berwajib. Ya udah percayakan aja semua nya. Kita tunggu hasil nya", jawab Abu akhirnya. Hary melotot mendengar jawaban acuh Abu.
"Hellloooowww udah 2 bulan lho...tapi kasus ku ga ada kemajuan berarti. Biasanya polisi sigap menyelesaikan semua persoalan yang kita laporkan".
__ADS_1
"Karena kasus mu ada kaitannya dengan pencurian hasil produksi perusahaan kita", jelas Abu yang bisa membuat Hary makin melotot mendengar nya.