Kenapa Harus Selingkuh?

Kenapa Harus Selingkuh?
EPISODE 47


__ADS_3

Sementara itu di salah satu sudut kota yang sama. Seorang wanita seksi tampak uring-uringan. Karena apa yang di cari nya belum juga dia temukan.


"Bimaaa... kamu di mana sayang? Jangan main petak umpet. Mami sayang sama Bima, keluar lah nak. Peluk mami, mami kedinginan nak", suara nya mulai bergetar.


Ya dia adalah Emily, setelah hampir 30 menit dia mencari Bima di seluruh sudut kamar hotel nya, namun tubuh kecil Bima tak juga di temukannya. Kamar mandi sudah di obrak abrik nya. Bahkan lemari kecil di dalam kamar mandi sudah di periksanya dengan teliti namun orang yang di cari nya tak juga dia temukan. Di bawah kolong kasur yang sempit pun tak luput dia obrak abrik, namun Bima tak juga dia temukan. Bahkan lemari-lemari kecil pun berkali-kali di buka nya, berharap Bima bersembunyi di sana, namun lagi-lagi wanita seksi itu hatus kecewa. Karena anak kecil yang menjadi pelampiasan nafsu **** nya tak dia temukan.


Akhir nya Emily hanya sanggup menggigit kuku jemari lentik nya mencoba menghalau gelisah dan letupan-letupan panas bi**** nya. Ya Emily ternyata punya kelainan s**, wanita seksi itu bukan sekedar hiper ***. Tapi lebih dari itu, yang setiap saat harus tersalurkan. Karena jika tak tersalurkan maka wanita seksi itu akan mengalami kecenderungan untuk menyakiti dirinya sendiri. Demi mencapai kepuasannya.


"Bimaaa, mami kangen pada mu nak. Keluar lah nak, jangan sembunyi. Peluk mami nak, mami kedinginan nak. Bima, kamu di mana?" Tubuh Emily gemetar, perempuan itu semakin kuat menggigit kuku jari tangan nya.


"Bimaaa...", panggil Emily dengan suara yang bergetar. Wanita itu terduduk lemas di lantai kamar hotel, mendekap kedua lutut nya. Matanya mulai bergerak memutar tanpa dia sadari, kepala nya menggeleng-geleng tak terkendali, sementara tubuhnya semakin bergetar hebat.


"Bimaaa, kamu di mana sayang. Cepat keluar nak, jangan sembunyi. Mami kedinginan nak, peluk mami", ujar Emily mencoba mengendalikan diri nya agar tidak terlalu larut dengan tubùh nya yang terus bergoncang hebat. Tangan nya mencoba menggapai remote televisi yang tadi sempat di buang nya tak tentu arah dan ternyata terjatuh tak jauh dari tempatnya terduduk.

__ADS_1


Segera di raihnya remote tv itu, lalu mencari aplikasi yang diharapkannya bisa sekedar untuk menyalurkan naf** *** nya. Setelah apa yang di carinya dia dapat yaitu sebuah situs porno, segera Emily menatap layar televisi itu tak berkedip. Di sana terlihat sebuah adegan yang sangat vulgar terekpose begitu sempurna. Membuat tangan Emily mulai beraksi meraba-raba tubuh nya sendiri. Menikmati setiap sentuhan yang dilakukannya dengan fantasi s** yang di bayangkan nya. Terdengar ******* yang sangat menggoda keluar dari bibir nya seolah-olah Emily tengah benar-benar melakukan hubungan *** dengan lawan jenis nya. Entah berapa kali dia melakukan oral *** yang sangat menjijikkan untuk pandangan manusia normal. Tapi bagi Emily dengan cara seperti itu, dia mendapatkan kenikmatan yang sempat hilang. Setelah melakukan hal tersebut getaran-getaran di tubuh Emily berangsur mulai berkurang, terlihat dia mulai tenang. Sejurus kemudian wanita itu merapikan penampilannya yang semula berantakan dengan penampilan yang lebih rapi. Setelah nya wanita itu segera keluar dari kamar hotel dengan tujuan mencari anak lelaki nya dan sekalian mencari sarapan yang terlambat. Karena jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 11.30 wib.


Bergegas Emily menuju meja reception setelah keluar dari lift. Di sana ada 2 orang wanita cantik dengan make up tebal dan jangan lupakan lipstick nya yang merona dan menggoda. Juga ada scurity hotel yang berdiri tegap di samping meja reception. Perawakannya yang tegap dengan tubuh padat berisi mengenakan seragam coklat yang press body membuat saliva Emily hampir menetes. Tiba-tiba fantasi *** nya bermain liar di otaknya. Digigit nya bibir bawah nya sekedar mengusir fantasi liar yang bermain- main di otak nya agar dia tidak salah fokus yang bisa mengakibatkan tubuhnya akan menegang dan gemetar di luar kendali nya.


"Siang ibu, ada yang bisa kami bantu?" Sapa ramah salah seorang petugas reception tersebut sambil berdiri dari posisi duduk nya. Sekilas mata Emily melirik pemilik postur tegap yang berdiri tak jauh dari meja reception. Lagi-lagi Emily harus segera menelan saliva nya.


"Oh iya, saya mau nanya...apa tadi ada anak kecil usia 11 tahun an yang bermain di sekitar sini?" Tanya Emily mencoba fokus pada tujuannya keluar kamar. Kedua reception itu saling pandang mengisyaratkan bahwa mereka tak faham arah pembicaraan Emily.


"Maksud ibu?"


Emily mengarang cerita yang jelas sekali kebohongannya.


"Mohon maaf, ibu menginap di lantai berapa?", tanya salah satu reception itu.

__ADS_1


"13", jawab Emily singkat tanpa menyebut nomer kamar nya.


"Baik ibu. Mohon maaf anak ibu putra atau putri?" Kembali reception itu bertanya.


"Putra mbak", jawab Emily. Dia tampak mulai gelisah, fantasi s** liar nya mulai bermain-main di otaknya. Hari ini dia belum mendapatkan kepuasan seperti hari-hari kemarin. Karena merasa tak tahan, sebelah tangannya mulai dia masukkan ke dalam hot pan nya yang benar-benar pendek. Sedikit bermain sebentar di sana, tanpa dia sadari scurity yang berdiri di pojokan tengah memperhatikan tingkahnya.


"Putra ibu pakai baju apa?"


"Mbak, saya tidak punya banyak waktu. Kenapa tidak diperlihatkan rekaman cctv di loby ini saja?" Emily mulai tak sabar. Satu sisi fantasi liar nya mulai bermian ganas di otaknya, sementara doronga untuk segera menyalurkan li**** nya seolah berlomba-lomba mendorong nya untuk segera di tuntaskan.


"Baik ibu, maafkan kami. Sebelum melihat rekaman cctv kami membutuhkan data nya dulu".


"Tapi ini terlalu bertele-tele. Bagaimana kalo sampai terjadi apa-apa dengan anak saya, apa pihak hotel mau bertanggung jawab? Pasti tidak kan? Saya ga bisa membiarkan anak saya sendirian di jalan", sentak Emily yang sejatinya hanya berusaha menahan gejolak yang ada di otak dan tubuhnya yang terus menghadirkan fantasi liar tanpa ampun.

__ADS_1


Emily tampak mulai tak mampu mengendalikan diri, sebelah tangannya yang tadi bermain di area sensitif nya mulai tak mampu dia kendalikan. Sungguh dia butuh pelampiasan. Keringat dingin mulai terasa mengalir di sebagian tubuh nya. Getaran-getaran halus mulai dia rasakan menyerang kaki nya. Dan tanpa bicara apapun, Emily segera keluar meninggalkan meja receptionis. Setengah berlari dia keluar dari loby hotel. Dia harus bisa mendapatkan penyaluran dari li**** nya. Apa yang dilakukan Emily membuahkan tatapan bingung dari receptionist dan beberapa tamu hotel yang kebetulan ada di lobby. Termasuk scurity yang sedari tadi memperhatikan tingkah Emily.


__ADS_2