Kenapa Harus Selingkuh?

Kenapa Harus Selingkuh?
EPISODE 9


__ADS_3

Rainy menatap motor matic besar warna merah itu. Motor yang biasa dipakai Alfa ke sekolah. Pagi tadi Alfa sudah berangkat ke Jakarta bersama team peserta lomba dan guru pembimbing nya.


Flash back on


Rainy mencium kening Alfa, lama dia memeluk anak sulungnya itu. Doa terbaik terucap dengan sangat khusyuk dalam diam nya.


"Kak, mama tidak ingin menuntut kakak pulang membawa kemenangan. Yang mama inginkan hanya kakak memberikan yang terbaik yang kakak mampu untuk mama dan sekolah", ucap Rainy mengakhiri pelukannya. Alfa menganggguk.


"Iya ma, tapi Alfa sudah bertekad untuk pulang membawa hadiah terbaik buat mama. Alfa akan berusaha semaksimal mungkin ma", ucapa Alfa mantap.


Rainy tersenyum.


"Alfa berangkat ya ma. Doain Alfa ma", lalu remaja tanggung itu mencium tangan Rainy. Beranjak meninggalkan Rainy menuju mobil Hiace yang terparkir di halaman sekolah. Teman-teman satu team nya sudah menunggu di sana.


"Pak Bayu, saya nitip Alfa ya", seraya Rainy mendekat ke arah guru pembimbing putranya.


Guru yang bernama Bayu mengangguk.


"Iya bu siap. Doain yang terbaik buat anak-anak"


Flash back off


Andai saat ini ada Hary di sampingnya tentu kebahagiaan ini akan tampak lebih sempurna. Tapi apa yang bisa diharapkan lagi dari suami nya itu. Ketika semalam dengan jelas Hary sudah mentalaknya meski lewat pesan di salah satu media sosial. Tapi itu telah cukup jatuh talak. Karena jelas-jelas Hary telah mengatakan akan menceraikannya. Setitik air mata menetes di pipi Rainy. Perjalanan hidup sesungguhnya telah tampak di depan mata. Tak ada waktu untuk mengenang masa lalu. Mulai hari ini Rainy harus benar-benar memikirkan apa yang harus dilakukan untuk keberlangsungan hidupnya dan anak-anak.


5 Tahun Kemudian.

__ADS_1


"Ma Alfa berangkat".


"Ma, adek juga berangkat".


"Ya, hati-hati di jalan ya".


Lalu kedua buah hatinya mencium tangan Rainy, Rainy mengelus lembut kepala anaknya sambil berdo'a dalam hati demi kesuksesan buah hatinya.


"Assalamualaikum ma", pamit Alfa dan Mitha bersamaan.


"Walaikumsalam", jawab Rainy.


Perempuan sederhana itu tersenyum menatap kedua buah hatinya yang mulai menjauh. Mereka sekarang tumbuh menjadi anak- anak yang mandiri. Alfa baru lulus kuliah dan sekarang sudah resmi bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang dulu pernah menjadi sponsor lomba Design Rumah Sehat yang diikutinya ketika dia masih SMA. Dari kejuaraan lomba yang dimenangkannya itu dia mendapat Beasiswa Pendidikan dan berhak mendapat ikatan kerja di sana. Sementara Mitha sekarang sudah menjadi Mahasiswi Semester 1 Fakultas Psikologi. Rasanya semua itu adalah karunia yang luar biasa buat Rainy. Dia harus kehilangan suami, tapi Allah menggantinya dengan kebahagiaan lewat keberhasilan anak-anaknya dalam dunia pendidikan. Kehidupan mencari nafkah benar-benar dari bawah mulai dia rintis. Dari hasil menjual motor matic nya, Rainy beserta anak-anaknya harus rela hidup di kontrakan kecil yang jauh dari perumahan elite nya dulu. Merintis berjualan nasi uduk di emperan toko. Pagi-pagi sebelum pemilik toko buka, dengan target para pekerja kantoran atau pekerja pabrik yang mencari menu sarapan. Alhamdulillah sedikit demi sedikit Rainy mulai memiliki pelanggan tetap. Hingga kemudian dari hasil berdagangnya sekarang dia telah mempunyai ruko kecil di dekat pasar. Bangunan yang tak terlalu luas, hanya memiliki 3 ruangan. Ruangan depan yang dia sulap menjadi warung makan sederhana tapi bersih. Dua kamar tidur di bagian belakang. Kamar mandi yang tak terlalu luas tapi cukup nyaman dan dapur yang luas dengan meja makan di pojok. Ya, Rainy lebih memilih membuat dapurnya lebih lebar dari kamar mandi. Dan setidaknya semua itu kini membuat nya merasa puas dan sangat bahagia.


Lamunan Rainy buyar ketika gendang telinga nya mendengar suara alto lelaki. Buru-buru Rainy menoleh ke arah suara itu dan senyum nya terkembang.


"Ya dek, sebentar ya".


Dengan cekatan Rainy meraih stero foam yang telah disiapkan. lalu memgambil nasi uduk sesuai takaran, memberi nya toping lengkap, orek tempe basah, telor mata sapi, mie goreng, ayam suwir, timun, bawang goreng dan sambel yang terpisah di palstik. Tak lupa krupuk yang telah dibungkus dalam plastik terpisah.


"Untuk teh hangat nya gratis dek. Mau dibungkus?" tanya Rainy ramah pada pembeli nya.


"Boleh bu", jawab lelaki di depannya. Setelah menutup stero foam nya Rainy mengambil palstik putih dan menuangkan teh manis hangat. Mengikat nya dengan karet lalu memasukkan ke dalam kantong plastik nasi uduk.


"Ini dek".

__ADS_1


"Berapa bu?"


"10 ribu dek".


Lelaki muda itu mengulurkan uang 10.000 pada Rainy.


"Pas ya dek. Makasih", ucap Rainy ramah.


"Ya bu, sama-sama".


Tak lama kemudian mulai berdatangan para pembeli lain. Warung nasi yang sederhana itu mulai terlihat ramai dengan pembeli yang keluar masuk bergantian. Tak jarang, banyak juga yang makan di tempat. Kesibukan itu membuat Rainy lupa pada luka hatinya. Lupa bahwa betapa dulu dia lebih rela menjadi bulan-bulanan suaminya demi agar tidak dicerai. Tapi ternyata perceraian itu tak semenakutkan yang dibayangkan. Justru perceraiannya membawa berkah tersendiri buat nya.


"Alhamdulillah ya bu, warung nya makin hari makin rame. Sepertinya kita harus menambah porsi masaknya bu", celetuk Ambar ketika membersihkan perabot kotor . Ambar adalah asisten Rainy di warung juga di ruko nya.


"Iya Alhamdulillah mbak. Tapi kalo untuk nambah porsi masak belum untuk saat ini mbak. Karena aku pengin kalo sore kita buka penyetan aja", jawab Rainy asal.


"Wah ide bagus itu bu", sambut Ambar antusias. Rainy tertawa, mendapat respon yang baik dari Ambar. "Kok malah ketawa bu?" tanya Ambar bingung.


"Lha iya aja aku ketawa. Kalo sore kita punya penyetan, trus kapan kita tidur nya mbak? Nasi uduk sama lontong sayur aja udah bikin kita kudu rela bangun pagi. Orang-orang masih pada ngiler-ngiler kita udah kudu bangun main perang ma kompor dan air", jawab Rainy sambil nyengir kuda.


"Iya sih bu. Tapi kalo kita buka penyetan sore kan lumayan nambah pemasukan bu".


"Hust mbak, kalo ngejar cuan mah ga bakal ada puas dan cukupnya. Dikasih cuan sekarung pun pasti masih ngerasa kurang aja. Tau sendiri, cuan itu ibarat fatamorgana di padang pasir. Makin didekatin makin menjauh. Udah ah...yuk beberes biar bisa segera istirahat", Rainy menyudahi obrolannya dengan Ambar. Ambar hanya mengangguk bingung dengan kata-kata Rainy yang dianggapnya aneh. padahal dia sudah semangat untuk mendapatkan tambahan cuan jika Rainy benar-benar akan membuka warung penyetan sore hari. Ambar mendongak, menatap jam dinding di dapur. Padahal baru jam 09.30 tapi dagangan Rainy sudah habis tak bersisa.


'Kalo aku jadi Bu Rainy, porsi daganganku akan ku tambah dan sore nya aku mau buka warung penyetan. Tokh warung ini udah punya pelanggan tetap. Pasti tak susah untuk mendapatkan pembeli sore hari nya', Ambar bermonolog sendiri sambil satu-satu tangannya mulai mencuci perabot kotor.

__ADS_1


__ADS_2