Kenapa Harus Selingkuh?

Kenapa Harus Selingkuh?
EPISODE 18


__ADS_3

"Segera kabari saya kapanpun nyonya pulang. Jangan buat kesalahan lagi".


"Baik tuan", ucap wanita paruh baya itu masih menunduk. Dia tak berani menatap Hary, jika Hary dalam mode marah. Wanita itu baru berani mendongak ketika dirasa langkah Hary menjauh meninggalkannya.


Jam menunjukkan pukul 07.55 ketika Hary memarkirkan mobilnya di parkiran kantor. Gedung perkantoran yang megah itu membuat banyak orang ingin merasakan kenyamanannya menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Perusahaan Asing yang terkenal dengan kesejahteraan nya yang bagus untuk semua karyawan dari segala level.


"Pagi Pak", sapa Diana reception cantik yang selalu tampil segar menyapa Hary yang melewati meja nya.


"Pagi Di", balas Hary enggan. Lalu Hary menaiki tangga melingkar yang ada di sebelah kiri meja reseption menuju ruangannya.


Ketika pintu ruangannya dibuka, Hary menemukan Ados baru saja meletakkan kopi pahit di meja nya.


"Pagi pak", sapa Ados santun.


Hary hanya mengangguk. Meletakkan tas nya, lalu duduk di kursi kebesarannya. Di nyalakan pc yang ada di meja nya. Membuka email email yang masuk, sebelum akhirnya dia harus ke factory untuk cek lapangan. Laporan terakhir yang diterima nya kemarin adalah masalah pencurian hasil produksi. Dan sempat ada rumor bahwa barang tersebut di selipkan dalam truk limbah keramik. Dan yang menjadi masalah adalah tak mungkin Scurity mengecek detal mobil limbah yang keluar dari area factory. Satu satunya cara saat ini adalah memasang cctv di area pintu gerbang pengangkutan limbah ke truk. Baru saja Hary hendak membuka pintu ruangannya ketika ponsel nya berdering.


"Kenapa Bi?" Tanya Hary langsung ke inti nya


"..."


"Da lama?"


"..."


"Biarkan aja. Aku segera pulang".

__ADS_1


"..."


Hary kembali ke meja nya, menyambar kunci mobil yang tergelatak di sana.


"Di, saya pulang sebentar ada sesuatu yang harus saya selesaikan. Kalo ada tamu untuk saya, suruh hubungi ke ponsel saja", pesan Hary pada reception yang selalu stand by dengan senyumenggamaskan.


"Baik pak", diiringi dengan anggukan kepala ketika Diana menjawab pesan Hary. Lalu Hary segera keluar melalui pintu belakang menuju tempat parkiran mobil.


Hary melajukan kuda besi nya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan sudah tak macet lagi. Karena jam kantor sudah berlangsung beberapa saat lalu. Jadi lalu lalang kendaraan telah berkurang. Beberapa waktu kemudian...


Bi Sari telah menunggu kedatangannya di depan pintu. Wanita paruh baya itu hanya menundukkan kepala nya, tak berani menatap majikannya. Tak mampu dia membayangkan, betapa kepulan asap amarah telah memenuhi kepala Hary. Bi Sari masih ingat, betapa kejam nya Hary saat dulu mengusir Rainy istri pertamanya dari rumah mewah yang saat ini mereka tempati.


"Kamu bukan istriku lagi, jadi aku harap secepatnya kamu angkat kaki dari rumah ini. Karena calon istriku akan segera pindah ke sini", datar sekali kata-kata Hary kala itu saat mengusir Rainy. Namun ucapan itu cukup mengiris hati Bi Sari yang mendengarnya. Mantan majikan perempuan itu hanya terdiam, tapi Bi Sari bisa merasakan keperihan yang di rasakan nya. Padahal dulu rumah mewah ini penuh kehangatan. Awal awal Bi Sari bekerja di rumah itu, atmosfir rumah ini adalah penuh cinta. Tapi setelah prahara itu datang, semua berbalik 360°. Tak ada lagi tawa kebahagian yang terdengar. Keseharian nya hanya ada suara tangis, tamparan untuk Rainy, dan makian-makian dari Hary.


Bi Siti terhenyak dari lamunannya ketika indera penglihatannya menangkap sebuah mobil mewah terparkir di luar gerbang. Tergopoh gopoh wanita paru baya itu mencoba berdiri dan menyambut majikannya dengan mengikis jarak.


"Tadi ada di kamar Tuan", masih dengan menundukkan kepala nya. Lalu Hary melangkah dengan bergegas menuju rumah. Tujuannya adalah kamar nya. Betapa meluap amarahnya ketika sampai didepan pintu kamar utama, mendapati pintu itu tertutup rapat.


"Emil, buka pintunya!", teriaknya sambil menggedor pintu. Setelah sebelumnya dia memcoba membuka pintu, tapi tak berhasil.


"Emil, cepat buka pintunya. Atau kamu ingin aku dobrak pintu ini".


Masih tak ada respon dari penghuni kamar.


Amarah Hary makin memucak karena ancaman dan gedorannya di pintu tak dihiraukan oleh Emily.

__ADS_1


"Emil, kamu nantang aku?"


Teriak Hary dari balik pintu.


Masih tak ada jawaban.


"Kamu yakin mereka di dalam?"


Hary beralih tanya pada Bi Sari. Wanita paruh baya yang di tanya hanya mengangguk.


"Emil, aku kasih kamu kesempatan untuk membuka pintu ini dan memohon maaf padaku. Tapi kalo kamu bersikeras tidak membuka pintu kamar ini, maka aku akan dobrak", teriak Hary masih diikuti dengan tangan nya yang menggedor pintu. Setelah ditunggu beberapa detik Hary sudah tak dapat menahan emosinya. Segera di tendangnya dengan kuat pintu kamar itu. Dalam 2 kali tendangan, pintu itu terbuka dengan paksa. Dan tampak rusak dibagian engsel pintu. Dengan membabi buta, segera dihempaskan selimut yang menutupi tubuh salah satu penghuni kamar. Hari segera melayangkan bogem mentah pada sosok lelaki yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Lelaki itu tak bisa melawan, karena jika dia melawan maka seluruh auratnya akan terlihat. Lelaki itu hanya berusaha menghindari bogeman mentah Hary yang tak urung tetap saja bersarang pada tubuh nya. Emily yang melihat dua orang lelaki bertarung tak seimbang hanya bisa menjerti. Dia tak punya keberanian untuk melerai apalagi ketika melihat Hary yang sedang mengamuk. Setelah puas memukuli lelaki itu, Hary segera mendekati Emily. Menarik rambut nya penuh amarah.


"Dasar wanita ******, seperti ini balasanmu setelah aku berkorban banyak untukmu?" Sentak Hary emosi.


"Sakit..", jerit Emily tak berdaya.


"Pe*****. Aku bener bener bodoh sudah menikahimu", umpat Hary.


"Kamu pikir kamu doang yang bodoh, aku juga bodoh karena mau menerima kamu. Ternyata kamu bukan lelaki kaya seperti yang ku harapkan", Emily balas memaki.


Hary makin tak terkendali. Di tamparnya wanita didepannya tanpa ampun. Hingga Emily menjerit kesakitan.


"Ternyata yang kamu cari bukan sekedar uang, tapi juga kenik***** di ranjang. Dasar wanita gi** s**", umpat Hary tak karuan.


Hati dan pikirannya saat ini tak mampu dia kendalikan lagi. Amarah sudah mencapai puncaknya. Mungkin dia ingin segera menghabisi nyawa Emily dan lelaki yang telah menodai ranjangnya andai tidak datang beberapa lelaki yang berpakaian polisi menghalangi kekejamannya. Rupanya dalam ketakutan nya tadi Bi Sari memanggil scurity perumahan untuk melerai perkelahian di rumah majikannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Ini rumah saya, saya berhak menghajar mereka".


Hary memberontak ketika tiba tiba tubuhnya dipegangin seseorang sehingga dia tak bisa melampiaskan amarahnya.


__ADS_2