
"Astagfirullahal adziiiimmmm....ibuuuu tolongin Mel", teriak perempuan cantik berjilbab polkadot yang ada di dekat pintu gerbang. Gadis itu nampak kesulitan ketika hendak membuka pintu gerbang karena ternyata di sana ada tubuh kecil Bima yang bersandar tepat di pintu gerbang. Dengan tergopoh-gopoh beberapa perempuan paruh baya setengah berlari mendekat ke arah pintu gerbang.
"Astagfirullah.. ini anak siapa?" Teriak beberapa perempuan berkerudung hijau itu saking terkejut nya.
"Ibu pegang tubuhnya, saya dorong pintu gerbang. Tapi tangan ibu hati-hati ya, ikutin gerakannya pintu", pinta perempuan cantik berjilbab polkadot yang di panggil Mel.
"Iya", jawab perempuan paruh baya itu.
"Yan kamu pegang bahu kiri nya, aku pegang bahu kanannya", perintah wanita paruh baya berbaju hijau pada temannya yang bernama Sri.
"Ya bu" jawab Yani singkat.
"Ibu denger aba-aba dari saya ya. Satu...dua...tiga", setengah berteriak gadis yang bernama Mel itu menghitung. Kemudian gadis itu mendorong pelan pintu besi itu, pintu gerbang tergeser sedikit.
"Ibu...saya dorong lagi, belum cukup buat saya lewat".
"Ya", jawab serempak 2 orang wanita paruh baya yang berusaha menahan tubuh Bima agar tidak terjatuh. Sementar Bima masih terus mengulang kata yang sama dengan mata terpejam dan tubuh nya yang gemetar.
"Satu...dua...tiga", teriak Mel lalu mendorong pelahan pintu besi itu. Setelah terbuka, dia berusaha keluar dari celah yang diperkirakan bisa dilewati tubuh kurus nya..
"Alhamdulillah muat", desisnya. Lalu tanpa membuang waktu Mel berlari mendekati tubuh kecil Bima.
__ADS_1
"Jangan mami...ampun. sakit mami...jangan mami...ampun mami. Sakit mami". Bima meracau masih dengan kalimat yang sama. Tubuhnya semakin bergetar hebat. Mel terlonjak kaget mendapati kindisi Bima yang terlihat sangat trauma. Tanpa sadar, dipeluknya tubuh kecil itu mencoba menenangkan tapi yang terjadi di luar dugaan Mel dan beberapa wanita paruh baya yang ikut keluar.
"Jangan mami...ampuuunnn. Sakit mami...sakit", Bima berteriak dan mencoba berontak. Namun masih dengan mata terpejam hanya tangan nya yang berusaha mendorong Mel.
"Dek...buka matamu. Tidak ada mami di sini", Mel masih terus berusaha memeluk Bima. Namun lagi-lagi lelaki kecil itu mencoba berontak.
"Ampun mami...ampun. Sakit mami...", ceracau Bima masih dengan kata-kata yang sama. Dan dengan sekuat tenaga, Mel pun masih mencoba merengkuh tubuh kecil itu. Untuk di gendong nya masuk ke dalam bangunan tua namun terlihat terawat dan asri. Sekuat tenaga Bima mencoba berontak, namun kalah dengan pelukan erat Mel. Bima terus mencoba berontak, namun tenaga nya lemah. Meski usia nya sudah 11 tahun, namun perawakan dan perkembangan Bima dibawah standar. Tak beda nya dengan anak usia 8 tahun. Tubuhnya pun tergolong pendek, kurus dan kecil, tak seperti anak seusianya yang tumbuh normal.
Mel membaringkan tubuh kecil itu diatas sofa ruang tamu. Beberapa wanita paruh baya yang mengikutinya pun ikut tertegun menatap Bima iba.
"Ibu, anak ini sepertinya butuh perawatan khusus. Saya akan membawanya ke Boyolali, karena di sana saya banyak kenalan Psyikolog", ucap Mel yang di jawab anggukan oleh orang-orang di sekitarnya. "Jika kondisinya sudah membaik, insyaallah anak ini akan saya bawa ke sini. Karena melihat ceracau nya sepertinya orang yang di panggil nya mami itu bukan lah orang baik-baik".
Mel mencoba memeriksa detak jantung anak lelaki itu. Cukup lama Mel memeriksa Bima, karena ketika memeriksa denyut nadi Bima...Mel mengulangi nya beberapa kali, seolah tak percaya dengan hasil pemeriksaannya srndiri.
"Ibu, sepertinya anak ini harus segera mendapat perawatan intensif. Ada masalah dengan jantung nya", ujar Mel pada wanita yang ada disampingnya.
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan nak. Ibu percaya padamu", jawab perempuan paruh baya itu.
Sementara di sofa ruang tamu, mata Bima masih terpejam dengan tubuh yang juga masih gemetar. Sesekali dari bibir nya yang pucat keluar ceracau yang masih sama dengan kata-kata sebelumnya.
"Anak ini kira-kira mana ya Yan?"
__ADS_1
"Entahlah bu, kalo dilihat dari pakaiannya tidak mungkin dia kabur panti asuhan. Karena pakaiannya ber merk bu", jawab Yani dengan ekspresi menyelidik.
"Halah kamu ini bisa aja"
"Bu Rus gak liat celana jeans yang dipakai anak ini? Label nya aja masih nempel", jawab Yani saerius dengan mata yang masih menatap Bima. Seolah sebuah alat deteksi yang tengah memindai sebuah obyek yang mencurigakan.
"Kamu ini selalu paling kepo dan paling jeli kalo urusan yang beginian", ujar perempuan paruh baya yang di panggil Bu Rus itu. Sementara Bu Yani hanya menampilkan senyum khas kebanggaannya. Menarik sedikit sudut bibir nya dengan mata kanan yang dikedipkan sebagai isyarat kerlingan mata.
"Jangan mami, ampun mami...sakit. Sakit mami", tiba-tiba Bima berteriak sambil menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri. Kedua tangan nya mencoba menutupi ***********. Beruntung Mel segera menangkap tubuh kecil itu sehingga Bima urung jatuh ke lantai.
"Ampun mami...jangan mami...sakit. Sakit mami...sakit...tolooongg", teriak Bima makin tak terke dali. Mel segera membopong tubuh kurus Bima untuk di baringkan di dalam kamar.
"Taruh di kamar ibu saja Mel", ujar Bu Yani ketika melihat Mel tampak kebingungan membawa Bima.
"Ya bu...", setengah berlari Mel membawa Bima ke kamar Bu Yani. Karena dalam gendongan Mel, Bima masih mencoba memberontak. Bu Yani dan Bu Rus mengikuti langkah kaki Mel. Teriakan Bima yang terakhir cukup keras sehingga membuat beberala anak penghuni bangunan itu terbangun. Dan ikutan melihat keributan yang terjadi di dalam bangunan tua tersebut.
Sesampainya di kamar Bu Yani, Mel segera membaringkan tubuh Bima di kasur yang berseprei kuning. Sementara Bima masih terus menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sambil nyeracau dengan kata-kata yang sama.
"Bu, tolong ibu pegangin tubuh anak ini. Saya akan mencoba memenangkannya", pinta Mel pada ke dua wanita paruh baya itu.
"Ya Mel", jawab kedua wanita itu bersamaa. Lalu Bu Yani berusaha memegang kedua kaki Bima. Dan Bu Rus mencoba membuat diam tubuh Bima dengan cara memegang kedua bahu nya. Sementara dengan cekatan sekali Mel membuka tas dokter nya, mengeluarkan beberapa peralatan yg dibutuhkannya. Mel menusukkan jarum suntik ke dalam botol obat kecil. Setelah cairan itu masuk semua ke dalam alat suntik itu, di sentil nya jarum suntik itu. Agar tak ada ruang kosongnya.
__ADS_1