KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 21 Salah Tingkah


__ADS_3

Setelah selesai makan, Queen pun merebahkan tubuhnya dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Queen pun terlelap.


"Kasihan sekali Neng Queen ya, Rifki," seru Ibu Nur.


"Iya Bu, ternyata harta melimpah tidak menjamin seseorang itu bahagia."


"Ya sudah, sekarang kita ke bawah biarkan Neng Queen tidur."


Bu Nur dan Rifki pun keluar dari kamar Queen dan menuruni anak tangga dan ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Neng Queen sudah tidur, Nek," seru Bu Nur.


"Syukurlah, ayo sekarang giliran kalian makan mumpung masih hangat."


Bu Nur dan Rifki pun akhirnya makan, Bu Nur sudah sejak dulu bekerja di rumah Nenek Arini bantu-bantu Nenek Arini maka dari itu, keluarga Bu Nur sudah sangat dekat dengan Nenek Arini.


"Nek, maaf kalau Rifki sudah lancang, tapi Rifki ingin menanyakan perihal Bu Dokter. Kemarin-kemarin Rifki sempat melihat Bu Dokter di pukuli oleh Pak Darwis, apa salah Bu Dokter sampai-sampai Papanya memukuli Bu Dokter seperti itu? tidak mungkin kan, Papanya langsung memukul begitu saja kalau Bu Dokternya tidak melakukan kesalahan," seru Rifki.


Nenek Arini menarik napasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Nenek Arini mulai menceritakan kehidupan Queen seperti apa, membuat semua orang terdiam bahkan Bi Atikah sampai meneteskan airmatanya saking merasa kasihannya kepada Queen.


"Ya Allah, tega banget Pak Darwis dan Bu Vivian memperlakukan Neng Queen seperti itu," seru Bu Nur iba.


"Bahkan kalian tahu, Queen kuliah di Italia selama 7 tahun, Darwis tega tidak membiayai kehidupan Queen. Queen harus banting tulang bekerja ini itu demi mendapatkan uang untuk makan," seru Nenek Arini dengan meneteskan airmatanya.


"Ya Allah, kasihan sekali Non Queen. Mungkin kalau seandainya itu terjadi kepada saya, saya sudah bunuh diri kali, Nek," seru Bu Atikah.


"Makanya, Queen tumbuh menjadi anak yang introver, dia menutup diri dari orang-orang di sekitarnya karena memang selama ini Queen tidak mempunyai teman sama sekali. Jadi, kalau seandainya Queen bersikap judes dan galak, maafkan dia ya," seru Nenek Arini.


Setelah makan malam bersama, Rifki dan kedua orangtuanya pun pamit pulang.


***


Keesokan harinya....


"Nek, Queen mau jogging dulu ya sebentar."


"Memangnya kamu sudah sehat, Sayang?"


"Sudah Nek."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


Queen pun mulai keluar dari rumah Neneknya, hari ini adalah hari Minggu dan Queen sudah lama tidak jogging.


"Ya ampun udara pedesaan sungguh sangat segar," gumam Queen dengan senyumannya.


Queen jogging mengelilingi perkampungan itu, hingga Queen pun melewati rumah Rifki dan di sana Rifki sedang melakukan push up di teras rumahnya.


Queen tidak memperhatikannya, dia pun melewatinya dengan santai. Sedangkan Rifki tampak menyunggingkan senyumannya.


"Ternyata dia sudah sehat," seru Rifki.

__ADS_1


Rifki menyudahi push upnya, dan memutuskan untuk mengikuti Queen. Entah kenapa semenjak Rifki bertemu dengan Queen, ada rasa ketertarikan sehingga membuat Rifki selalu penasaran akan Queen.


Rifki segera menyusul Queen dan ikut jogging bersama Queen.


"Selamat pagi, Bu Dokter!"


Queen hanya melirik sekilas, lalu dia melanjutkan joggingnya.


"Bu Dokter sudah sehatkah?"


Lagi-lagi Queen tidak menghiraukan Rifki, dia terus saja jogging hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di pinggir pesawahan dan Queen mulai senam sebentar dan diikuti oleh Rifki.


Queen merasa kesal, dia pun menghentikan senamnya dan membalikan tubuhnya lalu menatap tajam ke arah Rifki.


"Kamu ngapain ikutin aku terus?" ketus Queen.


"Siapa yang ngikutin Bu Dokter, ini kan tempat umum siapa pun boleh ke sini," sahut Rifki santai.


Queen malas berdebat dengan Rifki, dia pun pindah tempat dan Rifki dengan jahilnya mengikuti Queen lagi.


"Tuh kan, kamu ngikutin aku lagi!" sentak Queen.


"Tidak, di sini cahaya mataharinya sudah mulai muncul jadi lebih enak kalau olahraganya di sini."


Queen mengeraskan rahangnya, Polisi tampan yang satu ini memang menyebalkan bagi Queen.


"Dasar Polisi menyebalkan," ketus Queen.


"AW...."


Rifki langsung menghampiri Queen hendak menolong Queen, tapi Queen menepis tangan Rifki.


"Sudah, aku tidak apa-apa."


Queen pun mulai berdiri tapi di saat hendak melangkahkan kakinya, Queen merasa kakinya sakit dan Queen pun terjatuh lagi.


"Kenapa?"


"Kaki aku sakit."


"Sini kakinya, biar aku lihat."


"Sudah, tidak usah," tolak Queen.


Rifki tidak mendengarkan ucapan Queen, dia mengambil kaki Queen. Queen menarik kakinya tapi Rifki menahannya.


"Diam, takutnya kaki kamu terkilir. Coba luruskan kakinya dan lemaskan biar aku lihat dulu."


Queen akhirnya menurut lalu Rifki pun melihat kaki Queen, dan membuka sepatu Queen, ternyata benar saja kaki Queen terkilir soalnya pergelangan kakinya terlihat memerah.


"Benar kan, kaki kamu terkilir."

__ADS_1


"Tahan sebentar, aku coba urut kaki kamu."


"Jangan keras-keras, sakit."


Rifki mulai mengurut kaki Queen dan dengan sekali sentakan, Rifki menarik-narik kaki Queen membuat Queen berteriak.


"Coba kamu gerak-gerakan kaki kamu."


Queen pun mulai menggerakkan kakinya, dan benar saja sekarang rasa sakitnya mulai berkurang.


"Bagaimana, apa masih sakit?"


"Sedikit."


Queen pun memakai kembali sepatunya dan mulai berdiri dengan dibantu oleh Rifki, Queen melangkahkan kakinya tapi masih sedikit sakit sehingga jalannya terlihat terpincang-pincang.


Rifki yang melihat itu langsung menyusul Queen dan berjongkok di hadapan Queen.


"Ayo naik ke punggungku."


Queen membelalakkan matanya. "Apaan sih, aku bisa jalan sendiri."


Queen melewati Rifki dan kembali berjalan dengan terpincang-pincang.


"Kalau jalan kamu seperti itu, bisa-bisa sore baru sampai rumah, sudah jangan gengsi-gengsi segala, ayo naik ke punggung aku," seru Rifki yang kembali berjongkok di hadapan Queen.


Queen tampak berpikir, hingga lama-kelamaan akhirnya Queen pun menurut. Perlahan Queen mulai naik ke atas punggung Rifki dan itu membuat Rifki menyunggingkan senyumannya.


Rifki berdiri dan mulai berjalan secara perlahan.


"Aku turun saja, malu dilihatin orang," bisik Queen saat menyadari semua orang memperhatikannya.


"Ngapain malu, kalau malu tutup mata saja."


Wajah Queen terlihat memerah dan itu terlihat menggemaskan untuk Rifki. Rifki sengaja berjalan secara perlahan, supaya bisa berlama-lama dengan Queen. Jantung Queen mulai berdetak tak karuan, begitu pun dengan Rifki. Rifki beberapa kali berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya.


Hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Nenek Arini.


"Astagfirullah, kamu kenapa, Sayang?" tanya Nenek Arini cemas.


"Kaki Queen terkilir Nek."


Rifki pun menurunkan Queen secara perlahan..


"Ya Allah, terima kasih ya Nak Rifki, untung ada Nak Rifki."


"Sama-sama Nek, kalau begitu Rifki pamit pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Queen melihat ke arah Rifki dan menyunggingkan sedikit senyumannya dan itu terlihat oleh Nenek Arini dan ikut tersenyum juga karena merasa bahagia, akhirnya ada orang yang bisa membuat Queen tersenyum.

__ADS_1



__ADS_2