KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 40 Permintaan Maaf


__ADS_3

Nenek Arini mengusap airmatanya dan menoleh ke arah pintu, Nenek Arini sedikit kaget dengan kedatangan putra beserta istri dan anaknya.


"Darwis."


Queen melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah pintu, terlihat ketiganya menatap Queen dan Queen pun bangkit dari duduknya.


Perlahan Daddy Darwis menghampiri Queen, semuanya bangkit dari duduknya bahkan Rifki dengan sigap berdiri di depan Queen yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Maaf Pak, bukanya saya lancang tapi saya tidak akan membiarkan siapa pun bersikap kasar kepada Queen walau pun itu orangtuanya sendiri!" tegas Rifki.


Daddy Darwis menatap tajam ke arah Rifki. "Minggir kamu, kamu bukan siapa-siapanya Queen. Jadi, kamu tidak berhak melarang-larang saya seperti ini!" seru Daddy Darwin tak kalah tegasnya.


"Saya memang bukan siapa-siapa Queen, tapi sebentar lagi saya akan menikahi Queen dengan atau tanpa seizin Bapak."


Daddy Darwis kembali menatap Rifki. "Apa yang akan kamu berikan untuk anak sulung saya?"


"Maaf Pak, saya memang bukan anak orang kaya dan saya tidak memiliki harta yang banyak tapi satu hal yang harus Bapak tahu, kekayaan saya tidak terdapat pada harta tapi kekayaan saya ada pada diri saya. Buktinya, saya mempunyai sesuatu yang sama sekali Bapak dan keluarga Bapak tidak memilikinya."


"Apa itu?"


"Kasih sayang untuk Queen."


Semuanya tampak terdiam, begitu pun dengan Daddy Darwis. Daddy Darwis mendorong tubuh Rifki, sehingga tubuh Rifki bergeser ke samping.


Saat ini Daddy Darwis berdiri tepat di hadapan Queen, membuat Queen memundurkan satu langkahnya ke belakang dan tetap menundukkan kepalanya.


Nenek Arini hendak menghampiri Daddy Darwis tapi ia mengangkat tangannya ke hadapan Nenek Arini, pertanda kalau Nenek Arini harus diam. Untuk sesaat, semuanya terdiam tanpa ada suara sedikit pun.


Daddy Darwis memandang anak sulungnya itu dengan tatapan iba, Queen benar-benar sangat ketakutan melihat Daddynya sendiri.


"Darwis, Mama sudah bilang sama kamu, jangan pernah kamu temui Queen lagi kalau tujuan kamu hanya ingin memarahi dan menyiksa Queen!" sentak Nenek Arini.

__ADS_1


Daddy Darwis masih mematung memandangi anak sulungnya itu, hingga beberapa detik kemudian Daddy Darwis bersimpuh di hadapan Queen membuat semuanya membelalakkan matanya termasuk Queen.


Airmata Daddy Darwis menetes...


"Queen, maafkan Daddy selama ini Daddy sudah sangat berdosa kepadamu. Setiap hari Daddy tidak bisa tidur dan tidak enak makan karena memikirkanmu, Daddy benar-benar sangat menyesal. Tolong, ampuni Daddy!"


Mata Queen melotot, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini Daddynya terkenal mempunyai pribadi yang keras, dingin, dan kejam bahkan untuk menyunggingkan senyumannya pun untuk keluarganya itu merupakan hal yang sangat tidak mungkin.


Apalagi mengeluarkan airmatanya, tapi sekarang Queen tidak menyangka kalau Daddynya menangis di hadapannya dengan posisi bersimpuh.


"Daddy siap menerima hukuman apa pun dari kamu, supaya kamu puas dengan Daddy Nak. Maafkan Daddy, ampuni Daddy, yang sudah menyakiti kamu tanpa pernah memikirkan perasaan kamu."


Pundak Daddy Darwis bergetar hebat, sungguh kali ini ia benar-benar sangat menyesal sudah memperlakukan anak sulungnya seperti itu.


Mommy Vivian dan Putri yang dari tadi diam saja, perlahan menghampiri Queen dan mereka berdua ikut bersimpuh di hadapan Queen dan lagi-lagi itu membuat semua orang kaget.


"Mommy juga minta maaf Nak, Mommy tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah memikirkan perasaanmu, Mommy hanya bisa memberikan semua fasilitas mewah untukmu tanpa memikirkan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Padahal keinginan kamu sangatlah sederhana, ingin merasakan dipeluk dan disuapi oleh Mommy, maafkan Mommy sayang, maaf, maaf," seru Mommy Vivian.


"Kak, maafkan Putri, selama ini Putri sudah jahat sama Kakak. Putri sudah merenggut semua kasih sayang Mommy dan Daddy, bahkan Putri juga sudah merebut orang yang Kakak cintai. Semuanya Putri lakukan dengan memanfaatkan penyakit Putri, Putri minta maaf, Kak."


Bibir Queen bergetar, Rifki selalu ada di samping Queen untuk menguatkan wanitanya itu.


Queen memperhatikan satu persatu orang yang bersimpuh di hadapannya itu, lalu secara perlahan Queen melangkahkan kakinya menghampiri Daddynya. Dengan tangan yang bergetar, Queen menyentuh kedua lengan Daddynya dan membantu Daddynya bangun.


Daddy Darwis menangkupkan kedua tangannya dengan deraian airmata. "Daddy mohon maafkan Daddy, ampuni Daddy, Daddy sangat menyayangimu, Queen."


Tangisan Queen pecah, dia menghambur memeluk Daddynya itu.


"Queen sudah memaafkan Daddy, walau pun Queen selalu mengucapkan kata benci kepada Daddy, tapi dalam hati Queen yang paling dalam, Queen tidak bisa membenci kalian, Queen sayang sama Daddy," seru Queen dengan tangisannya ya g semakin kencang.


Daddy Darwis memeluk anak sulungnya itu dengan sangat erat, ini pertama kalinya Daddy Darwis memeluk Queen.

__ADS_1


"Maafkan Daddy Nak, Daddy sangat menyayangi kamu."


Mommy Vivian dan Putri pun bangkit, lalu ikut memeluk Queen dan Daddy Darwis.


"Maafkan Mommy juga Queen, Mommy sudah gagal menjadi Ibu untukmu," seru Mommy Vivian.


Daddy Darwis menciumi puncuk kepala Queen, saking bahagianya bisa memeluk anak sulungnya yang malang itu.


Nenek Arini ikut menitikkan airmatanya, begitu pun dengan Ibu Nur dan Ayah Haris yang sudah berpelukan dan ikut menangis juga.


Rifki mengusap sudut matanya yang berair, Rifki tampak menyunggingkan senyumannya karena pada akhirnya kesabaran Queen berbuah manis.


Daddy Darwis dan Mommy Vivian bergantian memeluk dan menciumi Queen membuat Queen sangat bahagia.


"Nak, apa ini calon suamimu?" tanya Ayah Darwis.


"Iya Dad."


Daddy Darwis menghampiri Rifki dan memeluk Rifki.


"Terima kasih sudah menjaga dan memberikan kasih sayang kepada anak saya, sekarang saya sudah tidak khawatir lagi karena Queen sudah ada orang yang akan menjaganya," seru Daddy Darwis.


"Saya sangat mencintai Queen, dan tujuan saya menikahi Queen karena saya ingin membahagiakan Queen."


Daddy Darwis melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Rifki.


"Saya bangga sama kamu, kamu adalah orang pertama yang berani menantang saya dan kamu dengan gagah beraninya menatap mata saya dan berkata tegas, memang salah satu syarat menjadi menantu saya, dia harus pemberani dan berani melawan selama yang dia lakukan adalah benar."


Semuanya tampak tersenyum, Mommy Vivian tidak melepaskan pelukannya kepada Queen begitu pun dengan Putri yang ikut memeluk Queen dari samping.


Tidak ada hal yang paling membahagiakan untuk Queen selain kebersamaannya dengan keluarga dan berkumpul bersama serta tertawa bersama, itulah impian Queen selama ini.

__ADS_1



__ADS_2