
Queen benar-benar sangat khawatir, karena Raffi terus saja mengganggunya. Queen takut Raffi akan melakukan hal yang nekad.
Di saat Queen sedang melamun di ruangan kerjanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan tertera nama Pak Darna di sana.
📞"Halo, ada apa Pak?" tanya Queen.
📞"Non, Nenek Arini pingsan."
📞"Apa? baiklah aku segera pulang."
Queen segera membereskan barang-barangnya dan segera menutup klinik. Tidak ada orang yang lewat, jadi Queen memutuskan untuk jalan kaki.
Di saat Queen sedang jalan terburu-buru, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan Queen.
"Bu dokter mau ke mana? kok, buru-buru sih?" tanya Raffi.
Queen tidak memperdulikan Raffi, dia kembali berjalan dan ternyata Raffi keluar dari mobilnya dan mengikuti Queen dari belakang. Queen semakin panik, kali ini dia benar-benar merasa takut.
"Bu dokter santai saja, aku tidak akan ngapa-ngapain Bu dokter kok," seru Raffi dengan santainya.
"Lebih baik kamu pergi dan jangan ganggu aku lagi."
"Bu dokter, aku ini pria yang tidak gampang menyerah dan aku akan melakukan apa pun supaya apa yang menjadi keinginanku tercapai dan menjadi milikku."
"Kamu gila."
Queen berlari dan meninggalkan Raffi, sedangkan Raffi hanya bisa tersenyum.
"Lihat saja, aku akan mendapatkanmu Queen," gumam Raffi.
Tidak lama kemudian, Queen pun sampai di rumah Nenek Arini dengan napas yang ngos-ngosan.
"Astagfirullah Non, Non kenapa?" tanya Pak Darna.
"Tidak, aku tidak apa-apa kok, Pak."
Queen pun segera masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar Nenek Arini, di dalam kamar ternyata Nenek Arini di jaga oleh Bi Atikah dan juga Bu Nur.
"Bagaimana keadaan Nenek?" tanya Queen.
"Tadi Nenek tiba-tiba pingsan, Non," sahut Bi Atikah.
Queen langsung memeriksa keadaan Nenek Arini dan ternyata Nenek Arini mengalami serangan jantung.
__ADS_1
"Bi, tolong bilang sama Pak Darna untuk siapkan mobil karena kita harus segera bawa Nenek ke rumah sakit."
"Baik Non."
Bi Atikah segera berlari untuk memberitahukan kepada Pak Darna.
"Apa Rifki sudah diberi tahu, Nak?" tanya Ibu Nur.
"Belum Bu, nanti Queen kasih tahu Mas Rifki."
Pak Darna pun mengangkat tubuh Nenek Arini dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Fitri, tolong kamu jaga rumah dan Putra dulu ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku," seru Queen.
"Baik Bu."
Semuanya pun ikut ke rumah sakit, tinggallah di rumah hanya Fitri dan Putra. Fitri memperhatikan setiap sudut rumah Nenek Arini yang besar itu, dan di ruangan tamu terdapat foto pernikahan Queen dan Rifki.
Fitri berdiri di depan foto itu. "Suaminya Bu Queen sangat tampan ya, mana dia seorang polisi lagi. Dari dulu aku sangat mendambakan punya suami seorang polisi, seandainya suaminya Bu Queen mau sama aku, aku rela dijadikan istri keduanya," gumam Fitri.
Fitri pun masuk ke dalam kamar Putra yang saat ini sedang tertidur.
Sementara itu, di rumah sakit Queen sangat khawatir dengan keadaan Nenek Arini. Hingga tidak lama kemudian, Rifki pun datang dengan langkah terburu-buru.
"Mas."
Queen segera memeluk suaminya itu. "Bagaimana keadaan Nenek?" tanya Rifki.
"Masih diperiksa, Mas."
"Ibu, Pak Darna, dan Bi Atikah, lebih baik sekarang kalian pulang biar Rifki dan Queen yang menjaga Nenek Arini. Lagipula, di rumah ada Putra jangan biarkan Putra berdua dengan baby sitternya," seru Rifki.
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang ya Nak," sahut Bu Nur.
Akhirnya ketiganya pun pulang, setelah hasil pemeriksaan Nenek Arini selesai dan Nenek Arini di bawa ke ruangan rawat inap, Queen dan Rifki pun merasa sangat tenang.
Queen mengerutkan keningnya dan tangannya memegang perutnya, keringat sudah mulai muncul di kening Queen.
"Sayang, sepertinya kita harus pasang cctv di dalam rumah biar kita bisa mantau keadaan Putra karena aku tidak mau Putra sampai mendapatkan perlakuan macam-macam dari pengasuhnya," seru Rifki dengan fokus mengotak-ngatik ponselnya.
Queen sudah tidak bisa menjawab ucapan Rifki karena perutnya sudah semakin sakit, Rifki yang merasa tidak ada jawaban dari sang istri, langsung menoleh ke arah istrinya dan betapa terkejutnya Rifki saat melihat Queen yang sudah meringis kesakitan sembari memegang perutnya.
"Ya Allah sayang, kamu kenapa?" seru Rifki panik.
__ADS_1
Queen terus menggeliat sembari memegang perutnya.
"Pasti maag kamu kambuh lagi, apa tadi siang kamu tidak makan?"
Queen menggelengkan kepalanya, Rifki pun segera berlari ke luar untuk memanggil dokter. Queen pun segera di berikan obat oleh dokter dan sekarang sudah mulai mendingan.
"Aku ke luar dulu sebentar, mau beli makanan buat kamu."
Queen menganggukkan kepalanya, dan Rifki dengan cepat membelikan makanan untuk Queen.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rifki pun sudah kembali lagi ke ruangan rawat Nenek Arini.
"Kamu makan dulu ya, sayang."
Queen pun duduk di sofa, dan Rifki mulai menyuapi Queen.
"Kenapa kamu sampai melupakan makan siang? sudah tahu kamu punya penyakit maag dan tidak boleh telat makan."
Queen hanya bisa terdiam, dan itu membuat Rifki merasa sangat curiga karena wajah Queen sangat terlihat jelas kalau ada sesuatu yang sedang dipikirkan istrinya itu.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?" tanya Rifki.
Queen menatap suaminya, dia terlihat bingung antara jujur atau dia harus diam saja.
Rifki mengusap pipi Queen dengan lembut. "Katakanlah, ada masalah apa? kamu tidak bisa membohongi aku karena terlihat jelas, ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan," seru Rifki.
Queen masih terdiam, dia masih terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya kepada Rifki. Hingga Rifki pun menggenggam tangan Queen. "Katakanlah, bukanya sekarang kita sudah menjadi suami istri? aku tidak suka kalau ada rahasia diantara kita."
"Mas, Raffi selalu mengganggu aku Mas. Aku benar-benar merasa tidak nyaman."
"Apa?"
"Tadi siang juga dia datang ke klinik dan memaksa aku untuk makan siang bersamanya."
"Kurang ajar, dia mulai berani menantang aku rupanya," geram Rifki.
"Aku takut Mas, takut dia nekad dan melakukan hal-hal di luar nalar soalnya ucapan dan prilakunya sudah gila banget."
"Kamu tenang saja sayang, aku juga tidak akan tinggal diam saja. Pokoknya mulai besok, rumah dan klinik aku pasang cctv ya, soalnya biar aku bisa mantau kondisi kamu dan Putra."
Queen menganggukkan kepalanya, dan Rifki kembali menyuapi Queen.
"Awas kamu Raffi, berani kamu menyentuh istriku sedikit saja, aku tidak akan mengampunimu," batin Rifki.
__ADS_1