
Seperti biasa, Rifki mengantarkan Queen ke klinik terlebih dahulu.
"Sayang, sepertinya nanti aku akan pulang telat jadi kamu pulang sendiri saja ya, minta di jemput sama Pak Darna saja."
"Iya sayang, aku pulang sendiri kamu jangan khawatir."
Rifki mencium seluruh wajah Queen, begitu pun dengan Queen yang bergantian mencium seluruh wajah Rifki.
"I love you."
"I love you, too."
Queen pun masuk ke dalam klinik, dan Rifki segera memakai helmnya tapi di saat Rifki hendak melajukan motornya, sebuah mobil berhenti di depan klinik.
"Itu kan, mobil yang kemarin," gumam Rifki.
Raffi pun keluar dari dalam mobilnya dan membuat Rifki melotot dan kembali membuka helmnya.
"Apa kabar, Bro!" sapa Raffi dengan senyuman sinisnya.
"Ngapain kamu ada di sini?" kesal Rifki.
"Mau berobat lah, memangnya aku gak boleh berobat ke sini?"
Rifki turun dari atas motornya dan mencengkram kemeja Rifki.
"Jangan macam-macam kamu, kamu tahu tidak, dokter klinik ini adalah istriku jadi jangan pernah mendekatinya," geram Rifki.
Raffi menghempaskan tangan Rifki. "Kamu lucu sekali, dia itu dokter jadi mana bisa kamu melarang aku untuk mendekatinya, orang aku mau periksa kok."
"Aku tahu akal bulusmu, tubuh kamu sehat-sehat saja jadi ngapain kamu ke sini?"
Rifki hendak membuka mulutnya tapi ponsel Rifki berdering dan tertera nama Komandannya di sana.
Rifki menjauh dari Raffi dan mengangkat telepon dari atasannya itu. Beberapa saat kemudian, Rifki pun menghampiri Raffi kembali.
"Kamu beruntung karena atasanku menghubungiku, kalau tidak, habis kamu sama aku," geram Rifki.
"Santai Bro, jangan marah-marah terus. Lebih baik sekarang kamu cepat pergi dari sini, soalnya aku mau masuk juga ke dalam klinik itu," seru Raffi dengan senyumannya.
__ADS_1
"Berani kamu macam-macam, awas kamu!" tegas Rifki.
Rifki mengotak-ngatik ponselnya untuk mengirim pesan kepada istrinya, setelah selesai dia pun segera pergi meninggalkan klinik istrinya.
Sebenarnya Rifki tidak mau meninggalkan istrinya, tapi pekerjaannya jauh lebih penting dan yang jelas, Rifki percaya kepada istrinya kalau Queen tidak akan berbuat hal yang macam-macam.
Queen membuka pesan yang dikirimkan oleh suaminya, Queen tampak mengerutkan keningnya.
"Maksudnya apa? siapa yang akan menggodaku?" gumam Queen.
Tok..tok..tok..
Queen tersentak, dia menyimpan ponselnya.
"Silakan masuk."
Raffi pun masuk dengan senyuman yang mengembang.
"Selamat pagi, Bu dokter!"
"Pagi, silakan duduk Mas. Ada keluhan apa, Mas?" tanya Queen ramah.
"Begini, jantungku dari kemarin berdetak tak karuan, bahkan detak jantungnya sangat cepat. Aku takut terjadi masalah dalam jantungku."
Raffi pun dengan senang hati langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Queen mulai mengeluarkan stetoskopnya dan memeriksa jantung Raffi.
Berbeda dengan Raffi yang terus saja memperhatikan wajah Queen.
"Ya Allah, dilihat dari dekat seperti ini dia semakin cantik," batin Rifki.
Queen pun selesai memeriksa Raffi. "Jantung Mas sehat, tidak ada masalah sama sekali," seru Queen.
"Terus kenapa detak jantungku berdetak sangat cepat bila berdekatan dengan anda, Bu dokter?"
Queen mengerutkan keningnya dan menatap Raffi dengan tatapan bingung.
"Maksud Mas, apa?"
"Di saat aku dekat dengan anda, jantung aku berdetak tak karuan. Kalau jantungku sehat-sehat saja, berarti aku sedang jatuh cinta kepada anda," seru Raffi dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku sudah menikah. Dan satu lagi, jika Mas datang ke sini hanya untuk main-main saja, aku katakan lebih baik Mas jangan datang karena banyak pasien yang benar-benar membutuhkan jasa aku dibandingkan dengan Mas yang hanya main-main saja. Silakan, Mas keluar dari sini," seru Queen yang berubah menjadi judes.
Queen mulai mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
"Kalau kamu judes, kecantikan kamu semakin bertambah dan aku suka."
Queen membuka pintu ruangannya dengan kesal. "Silakan Mas keluar dari ruangan aku!" tegas Queen.
Raffi tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Queen, tapi Raffi kembali menghentikan langkahnya.
"Ingat, Bu dokter cantik, aku jamin kalau kita akan sering bertemu dan aku yakin, kalau kita sering bertemu, Bu dokter akan menyukaiku."
Queen semakin kesal dengan ucapan Raffi, Queen pun menutup pintu ruangannya dengan kasar. Sungguh Queen benar-benar sangat jengkel pria yang baru saja dia temui itu.
"Siapa dia? baru bertemu saja sudah berani berkata seperti itu, kalau Rifki sampai tahu bisa-bisa dia marah besar," gumam Queen dengan kesalnya.
Raffi memang sudah gila, sudah tahu Queen sudah punya suami masih saja ingin berusaha mendekatinya.
Mood Queen berubah menjadi jelek gara-gara kedatangan Raffi, hingga akhirnya waktu makan siang pun tiba dan ponsel Queen berbunyi. Ternyata Rifki melakukan video call kepada Queen.
"Halo sayang, kamu kenapa kok cemberut sih?" tanya Rifki.
"Pria tadi pagi siapa sih, sayang?"
"Dia gak macam-macam kan, sama kamu?"
"Enggak, tapi ucapannya bikin aku bad mood."
"Memangnya dia bilang apa sama kamu?"
"Nanti saja aku ceritakan sama kamu kalau sudah di rumah."
"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu tapi jangan dimatiin ponselnya karena aku ingin melihat kamu makan."
Queen pun menurut dan mulai membuka kotak bekal makanan yang dia bawa, Queen dan Rifki saling ngobrol satu sama lain membuat Queen kembali ceria lagi.
Berbeda dengan Raffi yang saat ini sudah berada di kantor balai desa, tadi pagi sepulangnya dari klinik Queen, dia dilantik jadi Kades menggantikan posisi Papanya yang saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.
Raffi duduk di kursi kebesarannya, dan melihat sebuah foto yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Kalau kamu bisa membuat orang yang paling aku sayangi pergi dari dunia ini, maka aku pun bisa membuat orang yang paling kamu sayangi mati seperti Ajeng. Semuanya tinggal menunggu waktu saja dan aku akan membalaskan dendam aku," gumam Raffi.
Raffi meremas foto yang ada di tangannya itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.