KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 69 Kebahagiaan Yang Hakiki


__ADS_3

9 bulan kemudian....


Hari demi hari, Minggu demi Minggu, dan bulan demi bulan sudah Queen dan Rifki lalui. Tidak terasa, usia kandungan Queen sudah menginjak usia 9 bulan dan menurut perkiraan, dua hari lagi Queen akan melahirkan.


Malam ini Rifki sedang memasukan kebutuhan Queen dan calon anaknya ke dalam tas bayi yang sudah Queen siapkan.


"Mas, pokoknya nanti Mas jangan jauh-jauh dari aku," seru Queen.


"Pastilah sayang, mana mungkin aku jauh-jauh. Aku akan selalu berada di sampingmu."


Untuk proses persalinan nanti, Daddy Darwis menyewa satu kamar khusus untuk keluarganya supaya semua keluarga bisa menemani Queen dalam proses melahirkan nanti.


"Akhirnya selesai juga," gumam Rifki.


Rifki pun menghampiri istrinya yang saat ini sedang rebahan, Rifki mengusap perut Queen yang semakin besar itu lalu menciuminya tanpa henti.


"Semoga nanti kamu lahir sempurna tanpa kekurangan satu apa pun, dan Mami kamu juga sehat," seru Rifki.


"Amin."


"Sayang, aku sudah tidak sabar melihat wajah anak kita. Kira-kira mirip siapa ya?" seru Rifki.


"Mirip aku dong, masa mirip tetangga," sahut Queen.


"Pasti anak kita cantik seperti Maminya."


Queen memeluk suaminya itu, selama hamil Queen memang tidak pernah membangunkan suaminya dikala malam untuk membeli sesuatu, seperti orang-orang ngidam pada umumnya.


Queen juga tidak rewel, dia makan apa pun tanpa merasa mual dan pusing. Hanya sifatnya saja yang berubah sangat manja, bahkan Rifki kadang-kadang bingung kalau Queen yang ingin terus dikelonin olehnya.


"Aw..."


"Kenapa sayang?" tanya Rifki panik.


"Tidak Mas, ini sudah biasa kok untuk ibu hamil yang akan segera melahirkan. Aku sudah mulai merasakan perutku mules dan sekarang rasa mulesnya sudah lumayan sering," sahut Queen dengan meringis kesakitan.


Rifki merasa kasihan kepada istrinya itu, dia pun lalu mengusap punggung dan pinggang Queen membuat Queen sedikit tenang.


"Seandainya rasa sakit itu bisa dipindahkan kepadaku, aku rela merasakan sakit itu sayang."

__ADS_1


"Apaan sih Mas, mana bisa rasa sakit dipindahkan? kamu ada-ada aja," sahut Queen dengan kekehannya.


"Iya kan, itu kalau seandainya karena aku gak tega lihat kamu kesakitan seperti ini."


"Cukup kamu selalu ada di sampingku, rasa sakit itu akan hilang Mas."


Rifki memeluk istrinya itu, lalu menciumi pucuk kepala Queen berulang-ulang kali. Hingga tidak lama kemudian, Queen pun mulai memejamkan matanya.


"Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat dan hebat, kamu pasti bisa melewati semua ini," gumam Rifki.


Rifki menutup tubuh Queen dengan selimut, tidak membutuhkan waktu lama, Rifki pun mulai memejamkan matanya dan dalam hitungan detik, Rifki juga terlelap dan masuk ke alam mimpinya.


***


Waktu menunjukan pukul 3 subuh, Queen terbangun karena merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Ya Allah, perutku sakit banget, apa ini saatnya aku melahirkan? tapi kan, perkiraan melahirkannya dua hari lagi," gumam Queen.


Queen pun mendudukkan tubuhnya, sembari terus memegang perutnya. Keringat mulai bercucuran di wajah Queen.


"Mas, Mas."


"Ya Allah sayang, kamu kenapa?"


"Perut aku sakit banget Mas, aku sudah gak kuat lagi," lirih Queen.


Rifki begitu sangat panik, dia pun segera bangun dan berlari keluar kamar untuk membangunkan semua orang. Bu Nur dan Ayah Farid sudah ada di Jakarta sejak satu Minggu yang lalu.


"Mommy, Daddy, ayo bangun!" teriak Rifki.


Tidak lama kemudian, Daddy Darwis pun membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Rifki?"


"Dad, kita harus segera ke rumah sakit sepertinya Queen akan melahirkan."


"Hah, ya sudah biar Daddy suruh sopir buat nyiapin mobil."


Setelah itu, Rifki juga membangunkan kedua orangtuanya. Rifki kembali berlari menuju kamarnya dan Queen semakin meringis kesakitan.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit sekarang."


Rifki segera mengangkat tubuh Queen dan membawanya ke rumah sakit.


Semua orang langsung menuju rumah sakit, karena ini baru jam 3 subuh jadi tidak membutuhkan waktu lama, semuanya sudah sampai di rumah sakit.


Queen segera mendapatkan penanganan, suster jaga pun segera menghubungi dokter kandungan untuk segera ke rumah sakit.


Semua orang menunggu di ruangan rawat Queen.


"Mas, sakit Mas," lirih Queen dengan menggenggam erat tangan Rifki.


"Iya sayang, kamu yang sabar ya."


Rifki terus saja mengelus perut Queen, bahkan sesekali Queen minta dipeluk oleh Rifki.


Satu jam pun berlalu, dokter kandungan Queen pun sampai dan ia segera menuju ruangan rawat Queen.


"Semuanya bisa menunggu di luar kecuali suaminya, karena Dr.Queen akan segera melahirkan."


"Baik dokter."


Kedua orangtua Queen dan kedua orangtua Rifki pun keluar, tinggallah Rifki yang selalu ada di samping Queen bahkan Queen tidak mau melepaskan tangan Rifki.


Dokter mengarahkan kepada Queen, Queen pun mulai mengejan, cukup lama Queen berjuang mengeluarkan anaknya hingga tidak lama kemudian, bayi Queen dan Rifki pun keluar.


Oeeek ...ooeeekk...


Tepat adzan subuh, bayi mereka keluar tangisan haru Queen dan Rifki sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Terima kasih sayang, kamu memang wanita hebat," seru Rifki dengan menciumi seluruh wajah Queen.


Dokter segera menyerahkan bayi berjenis kelamin perempuan itu kepada Rifki untuk di adzanin, airmata Rifki kembali menetes.


"Putri Papi cantik sekali," gumam Rifki dengan menciumi wajah putrinya itu.


Setelah selesai di urus, Queen pun dipindahkan ke ruangan yang sudah di sewa oleh keluarga Queen.


Semua orang sangat bahagia menyambut kehadiran anggota baru di keluarga mereka itu, sungguh semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki untuk Queen dan Rifki.

__ADS_1


__ADS_2