
Setelah Queen menghabiskan makannya, Queen pun tertidur di atas ranjang pasien yang bersebelahan dengan Nenek Arini.
"Rifki, bagaimana dengan keadaan Nenek kalian?" tanya Mommy Vivian yang baru saja datang dengan Daddy Darwis.
"Nenek, Alhamdulillah keadaannya sudah mulai membaik," sahut Rifki.
"Loh, Queen kenapa?" tanya Daddy Darwis.
"Biasa Dad, Queen telat makan jadi maag nya kambuh."
"Anak itu, selalu saja nakal. Sudah tahu punya penyakit maag dan gak boleh telat makan, masih saja keras kepala," kesal Daddy Darwis.
"Mom, Dad, Rifki mau pulang sebentar, mau mandi sekaligus lihat keadaan Putra."
"Pulanglah Nak, Nenek dan Queen biar kami yang jaga," sahut Mommy Vivian.
"Kalau begitu, Rifki pulang dulu. Nanti Rifki ke sini lagi."
Rifki pun memutuskan untuk pulang karena ingin memastikan keadaan Putra, sekaligus akan memasang cctv yang sudah dia konfirmasikan dengan temannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rifki pun sampai di rumah Nenek Arini. Fitri yang sedang menggendong Putra, sangat senang melihat kepulangan Rifki bagaikan menunggu kepulangan suaminya sendiri.
"Selamat sore, Pak!" sapa Fitri.
Rifki memasang wajah dinginnya dan dengan cepat mengambil Putra dari gendongan Fitri.
"Bi Atikah, tolong buatkan kopi dan bawa saja ke kamar Rifki, ya!" teriak Rifki.
"Baik Mas."
"Pak Rifki, biar Fitri saja yang buatkan kopi untuk Pak Rifki," seru Fitri dengan senyumannya.
Rifki menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Fitri.
"Kamu hanya baby sitter Putra, bukan ART. Tugas kamu hanya menjaga dan merawat Putra tidak yang lain," seru Rifki dingin.
Rifki pun dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya dengan membawa Putra, sementara itu Fitri terlihat sangat kesal dengan sikap Rifki yang sangat dingin.
"Lihat saja, aku akan membuat Pak Rifki tertarik kepadaku," batin Fitri dengan senyumannya.
Rifki duduk di ujung ranjang dan menciumi seluruh wajah Putra.
"Halo anak Papi yang tampan, maaf ya Papi jarang ajak main kamu soalnya Papi selalu pulang sore," seru Rifki.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Mas Rifki, ini kopinya."
"Masuk saja, Bi."
Bi Atikah pun masuk dan menyimpan kopinya di atas nakas.
"Bi, nanti kalau ada tamu yang menanyakan Rifki, tolong disuruh tunggu sebentar ya, soalnya Rifki mau mandi dulu."
"Baik Mas."
"Oh iya Bi, tolong berikan Putra ke pengasuhnya ya, soalnya Rifki mau mandi dulu."
Bi Atikah pun mengambil Putra dan keluar dari kamar Rifki, sedangkan Rifki menyesap kopinya setelah itu menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Rifki pun selesai mandi dan menuruni anak tangga. Terlihat, dua orang teman Rifki sudah datang dan menunggu di ruang tamu.
"Bagaimana?" tanya Rifki.
"Yang di klinik sudah kita pasang di setiap sudut, dan sepertinya tidak ada yang tahu," seru Parto.
"Bagus, sekarang kalian pasang di kamar anakku dan juga di setiap sudut rumah ini. Fitri, Fitri!" teriak Rifki.
"Ada apa, Pak?"
"Tolong kamu pergi ke mini market, belikan susu formula untuk Putra soalnya stok susunya sudah habis."
"Ah, iya."
Rifki pun segera memberikan uang kepada Fitri, dan setelah Fitri pergi dengan cepat teman-teman Rifki mulai memasang cctvnya.
Rifki kembali menggendong Putra sembari memperhatikan teman-temannya memasang cctv.
"Mas, masang cctv?" tanya Bi Atikah.
"Iya Bi, tapi Bibi jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya, soalnya aku sudah mulai curiga dengan pengasuh Putra dan aku juga minta sama Bibi untuk sering-sering memperhatikan gerak-gerik Fitri."
"Baik Mas."
***
Setelah pemasangan cctv, teman-teman Rifki pun pulang. Saat ini, waktu sudah hampir Maghrib dan Fitri baru saja pulang dari mini market.
__ADS_1
Fitri masuk ke dalam rumah, dan ternyata Rifki ketiduran di atas sofa dengan Putra yang berada di dalam pangkuannya. Fitri menghampiri Rifki dan memperhatikan wajah tampan Rifki.
"Ya Allah, tampan sekali Pak Rifki membuat aku semakin jatuh cinta kepada Pak Rifki," batin Fitri.
Saking fokusnya memperhatikan wajah Rifki, Fitri sampai tidak sadar kalau Rifki mulai mengerjapkan matanya. Rifki terlihat sangat kesal saat melihat Fitri ada di hadapannya dan senyum-senyum ke arahnya.
"Fitri, kenapa kamu senyum-senyum?" sentak Rifki.
"Ah, maaf Pak."
"Tidurkan Putra, dan jaga dia baik-baik soalnya aku mau kembali ke rumah sakit."
"Baik Pak."
Rifki pun menyerahkan Putra kepada Fitri, setelah itu Rifki menaiki tangga untuk mengganti bajunya.
"Lihat saja, aku akan membuat Pak Rifki berpaling dari Bu dokter," batin Fitri.
Fitri pun menidurkan Putra di kamarnya, lalu dia pun merogoh saku celananya dan ternyata ada uang kembalian dari mini market.
"Lah, ini uang kembaliannya," gumam Fitri.
Fitri mulai menyunggingkan senyumannya, akhirnya dia punya alasan untuk bisa menemui Rifki. Fitri pun segera menaiki tangga menuju kamar Rifki dan Queen, kemudian mengetuk pintu kamar Rifki tapi pintunya tidak dibuka.
"Apa aku masuk saja, ya?" gumam Fitri.
Perlahan Fitri menarik daun pintu kamar Rifki, Fitri memang baby sitter tidak tahu malu main nyelonong masuk ke dalam kamar majikannya tanpa seizin pemilik rumah.
Fitri masuk ke dalam kamar Rifki, baru saja beberapa langkah tiba-tiba Rifki keluar dari dalam kamar mandi dan membelalakkan matanya saat melihat Fitri ada di dalam kamar.
"Ngapain kamu di sini? lancang sekali kamu masuk ke dalam kamarku!" bentak Rifki.
"Ma-maaf Pak, saya hanya ingin memberikan uang kembalian susunya Putra," sahut Fitri gugup.
Mata Rifki memerah menahan emosi. "Keluar kamu dari kamarku!" teriak Rifki menggelegar di seluruh kamar itu.
Tubuh Fitri gemetar, merasa takut akan teriakan Rifki.
"Sekali lagi kamu berani masuk ke kamarku, tanpa seizin ku, aku akan pecat kamu."
Fitri dengan cepat keluar dari kamar Rifki dengan rasa takut yang luar biasa, sedangkan napas Rifki tampak tersengal-sengal menahan emosi.
Sungguh Rifki tidak menyangka kalau Fitri seberani itu masuk ke dalam ruangan pribadinya dan juga Queen.
__ADS_1
Rifki segera mengambil jaketnya dan kunci motornya, lalu Rifki pun pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.