
Rifki baru saja selesai dari kamar mandi. "Astaga, aku lupa menghubungi Queen."
Rifki pun meraba kantong celananya mencari ponselnya.
"Lah, ponselku mana? kok, gak ada."
Rifki pun kembali ke kantin dan ternyata ponselnya ada di atas meja, Rifki segera mengambilnya dan pergi dari kantin itu.
Sementara itu, Widi hanya menyunggingkan senyumannya. Rifki masuk ke dalam ruangannya dan melihat ada panggilan dari istrinya dua jam yang lalu dan juga dari Mommy Vivian.
"Ya Allah, Queen tadi menghubungiku dan aku tidak mengangkatnya, pasti Queen sangat marah. Mommy juga menghubungiku, ada apa ya? pasti Mommy mau nanyain Putra," gumam Rifki.
Rifki pun segera menghubungi ponsel Queen, Queen kaget saat ponselnya berbunyi. Queen pun segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya, Queen melihat ada nama Rifki di sana dan Queen masih ingat dengan apa yang tadi dia lihat.
Raffi dengan cepat mengambil ponsel Queen dan melihat siapa yang menghubungi Queen.
"Suami tercintamu ternyata," ledek Raffi.
Raffi kemudian menjatuhkan ponsel Queen ke lantai dan Raffi pun langsung menginjaknya sampai ponsel Queen hancur.
"Kenapa kamu menghancurkan ponselku!" sentak Queen.
Raffi tersenyum sinis, lalu menghampiri Queen dan tanpa aba-aba langsung menjambak rambut Queen membuat Queen berteriak kesakitan.
"Lepaskan Raffi, sakit."
"Rasa sakit ini belum ada apa-apanya, dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami oleh Ajeng. Bahkan dia harus membawa rasa sakit itu sampai ke alam kubur, kalian orang-orang kaya yang sangat sombong tidak mau membantu orang yang sedang membutuhkan, dan kalian semua pantas mati!" bentak Raffi.
Raffi pun menyeret tubuh Queen ke dalam sebuah ruangan, Raffi menyiksa Queen di sana. Melampiaskan dendamnya yang selama ini dia pendam, suara tangisan Queen begitu sangat pilu entah apa yang dilakukan oleh Raffi.
Dulu sebelum Papa Raffi menjadi Kades, kehidupan Raffi memang biasa-biasa saja makanya di saat Ajeng membutuhkan bantuannya, Raffi tidak bisa membantu.
Rifki mengerutkan keningnya. "Loh, kok malah dimatiin sih? apa Queen marah ya karena tadi aku gak angkat teleponnya," gumam Rifki.
Sedangkan di rumah Nenek Arini, semuanya tampak khawatir dengan keadaan Putra dan Queen, pasalnya sampai saat ini Queen belum pulang dan ponselnya mati.
"Ya Allah, kamu ada di mana, Queen?" gumam Mommy Vivian.
Di saat mendapat kabar kalau Putra diculik, Mommy Vivian dan Daddy Darwis langsung datang ke rumah Nenek Arini. Sedangkan kondisi Nenek Arini saat ini sedang tidak sadarkan diri, Nenek Arin syok mendengar Putra diculik.
Daddy Darwis tampak sibuk menghubungi orang-orang suruhannya untuk berpencar mencari keberadaan Queen.
"Bagaimana, Dad?"
"Orang-orang suruhan Daddy, sedang berpencar untuk mencari Queen, mudah-mudahan saja mereka bisa secepatnya menemukan Queen," sahut Daddy Darwis.
"Maafkan saya Nyonya, Tuan, tidak bisa menjaga Putra dengan baik," seru Fitri dengan deraian airmata.
"Tidak apa-apa Fitri, ini semua bukan kesalahan kamu," sahut Mommy Vivian.
***
Sementara itu, di sebuah Bandara seorang pria tampan berjalan dengan gagahnya. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alfa, Alfa sudah sembuh dan hampir 2 tahunan Alfa tinggal di Malaysia untuk menjalani pengobatan mentalnya.
__ADS_1
Alfa kembali ke Indonesia karena di beri tahu oleh kedua orangtuanya kalau dia sudah punya anak dari Putri dan Putri sudah meninggal.
"Ya Allah, jahat banget aku meninggalkan Putri padahal dia saat ini sedang mengandung anakku," batin Alfa.
Penampilan Alfa sangatlah fresh, mungkin untuk yang tidak mengenal Alfa, mereka akan berpikir kalau Alfa bujangan padahal kenyataannya, Alfa seorang duda beranak satu.
Alfa pun menghentikan taksi dan segera pergi ke rumah mantan mertuanya itu. Butuh satu jam untuk sampai, Alfa pun akhirnya keluar dari dalam taksi.
"Kok, rumahnya kelihatan sepi sih?" batin Alfa.
Alfa pun menekan bel, dan tidak lama kemudian ART pun keluar.
"Den Alfa."
"Apakabar Bi?"
"Alhamdulillah, sehat Den. Silakan masuk, Den."
ART pun membuka pintu gerbang dan mempersilakan Alfa untuk masuk.
"Bi, kok sepertinya rumah sepi?" tanya Alfa.
"Iya Den, Nyonya dan Tuan sedang berada di rumah Nenek Arini."
"Sejak kapan?"
"Baru tadi pagi, sepertinya mereka akan menginap, Den."
"Baik Den, hati-hati."
Alfa pun segera memesan taksi online, dia memutuskan untuk menyusul mantan mertuanya itu.
Berbeda dengan Alfa yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya, Rifki masih mencoba menghubungi Queen tapi tetap saja ponsel Queen tidak aktif.
"Ya Allah, kamu marah ya sayang, sama aku," batin Rifki.
Rifki baru saja ingin menghubungi Mommy mertuanya tapi sayang, tiba-tiba ponselnya mati karena habis baterai.
"Astagfirullah, kenapa aku sampai lupa mencharger ponsel aku," kesal Rifki.
Rifki pun segera mencharger ponselnya dan dia pun kembali bekerja, Rifki sama sekali tidak tahu kalau saat ini Putra dan Queen dalam bahaya.
Sedangkan di tempat lain, Queen sudah terlihat sangat lemas. Wajahnya sudah lebam dan penuh dengan darah, Raffi dengan kejamnya menyiksa Queen padahal Queen sama sekali tidak tahu apa-apa.
Raffi mendekati Queen dan berjongkok di hadapan Queen, Raffi mencengkram wajah Queen.
"Si Darwis bukan hanya sudah membuat orang yang aku sayangi pergi, tapi dia juga sudah membuat perusahaan yang aku coba bangun selalu gagal dan si Darwis adalah manusia paling sombong dan angkuh yang pernah aku temui. Dia selalu menolak kerjasama dengan perusahaanku hingga akhirnya perusahaan yang aku bangun selalu bangkrut."
Queen menatap tajam ke arah Raffi, dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk menjawab ucapan Raffi. Pandangan Queen mulai kabur, hingga tidak lama kemudian Queen pun jatuh pingsan.
"Aku ingin tahu, bagaimana reaksi Darwis, melihat putri kesayangannya mati," gumam Raffi dengan tawanya yang menggema di seluruh ruangan itu.
***
__ADS_1
Sore pun tiba....
Alfa sampai di rumah Nenek Arini..
"Den Alfa," seru Pak Darna kaget.
"Apakabar Pak, apa aku boleh masuk?"
"Sebentar Den, saya bilang dulu kepada Tuan dan Nyonya."
Pak Darna pun segera berlari masuk ke dalam rumah, beberapa saat kemudian Pak Darna pun kembali.
"Silakan masuk Den, Tuan dan Nyonya menyuruh Den Alfa masuk."
"Terima kasih, Pak."
Alfa pun segera masuk ke dalam rumah, Mommy Vivian, Daddy Darwis, dan juga Fitri menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Alfa."
Alfa segera menghampiri mantan mertuanya itu, Mommy Vivian langsung memeluk Alfa.
"Maafkan Alfa, Mom."
"Tidak sayang, seharusnya kita yang minta maaf kepada kamu karena sudah membuat kamu depresi."
"Putra Alfa mana, Mom? Alfa tidak sabar ingin melihatnya," seru Alfa.
"Justru itu Nak, Putra diculik."
"Apa? kok, bisa Mom?"
"Tadi pagi Putra sedang dibawa jalan-jalan oleh baby sitternya tapi tiba-tiba Putra di culik."
Alfa menatap Fitri yang dari tadi menundukkan kepalanya, Alfa menghampiri Fitri dan mencengkram wajah Fitri membuat Fitri meringis kesakitan.
"Apa kamu baby sitter putraku? bagaimana putraku bisa diculik?" bentak Alfa.
Daddy Darwis menenangkan Alfa. "Sabar Al, Daddy sudah mengerahkan anak buah Daddy untuk mencari keberadaan Putra."
"Maafkan saya, Tuan," seru Fitri dengan deraian airmata.
"Terus Queen, mana?" tanya Alfa.
"Justru itu Al, kata Fitri tadi Queen pergi naik ojeg tapi tidak tahu mau ke mana dan sampai saat ini Queen belum pulang juga, mana ponselnya mati pula," sahut Mommy Vivian khawatir.
"Terus suaminya bagaimana?"
"Dari tadi Mommy menghubungi Rifki, tapi Rifki tidak mengangkatnya."
"Kurang ajar, sesibuk apa sih dia? sampai-sampai tidak sempat mengangkat telepon?" geram Alfa.
Akhirnya, semuanya hanya bisa berdiam menunggu kabar dari anak buah Daddy Darwis.
__ADS_1