
Di tengah jalan, Queen melihat ada tukang cilok. Queen ingat dulu dia tahu rasa cilok dari Rifki dan rasanya sangat enak.
"Mas, ada tukang cilok, aku mau."
"Oke."
Rifki pun mulai memelankan laju mobilnya dan berhenti di depan tukang cilok, Rifki segera membuka sabuk pengamannya hendak membeli cilok itu tapi Queen menahannya.
"Biar aku yang beli Mas, aku ingin membelinya sendiri."
"Baiklah, tapi kamu hati-hati ya."
Queen pun segera turun dan menghampiri tukang cilok yang saat ini ada dua pembeli yang sedang mengantri.
"Bang, aku beli satu bungkus ya!"
"Siap Neng, menunggu sebentar ya, Neng."
"Iya Bang."
Queen pun duduk di kursi plastik, air liur Queen hampir saja menetes saking gak sabarnya ingin segera memakan cilok itu dan ternyata dua pembeli itu beli ciloknya lumayan banyak sampai beberapa bungkus.
Beberapa saat kemudian, dua orang itu pun selesai dan sekarang giliran Queen. Queen sampai tersenyum kegirangan karena Queen ingin sekali segera memakan cilok itu.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu datang dengan membawa anaknya yang berusia sekitar 5 tahun dalam kondisi menangis.
"Bang, pesan ciloknya dong."
"Sebentar ya Bu, si Neng dulu."
"Bang, tapi anak saya ingin sekali ciloknya sekarang juga. Mba, bisa mengalahkan sama anak kecil?" seru ibu-ibu itu dengan sewotnya.
Queen hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau sudah berurusan dengan anak kecil.
Akhirnya si Abang cilok pun memberikan jatah Queen kepada anak kecil yang menangis itu.
"Sepertinya ciloknya enak, sekalian saja deh pesan 5 bungkus lagi," seru ibu-ibu itu.
"Ibu tunggu sebentar ya, kasihan si Neng ini sudah menunggu lama," sahut si tukang cilok.
"Sudahlah, Mba ini juga pasti gak sibuk kok, aku sibuk banget karena harus segera ke halte itu takutnya bus keburu datang, gak apa-apa kan Mba, saya duluan?"
__ADS_1
Kali ini Queen sudah sangat kesal, dan Rifki tahu itu karena Rifki bisa melihat wajah Queen yang sudah cemberut.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, si ibu itu pun selesai dan dengan wajah tanpa dosanya pergi begitu saja.
"Ini Neng ciloknya, maaf sudah menunggu lama."
Queen mengambilnya dengan kasar dan memberikan uang pas kepada si tukang cilok itu, Queen segera masuk ke dalam mobil dan langsung memberikan ciloknya kepada Rifki.
"Lah, kenapa? bukanya kamu yang mau ciloknya?" seru Rifki.
"Sudah gak mood," ketus Queen.
Rifki kembali melajukan mobilnya, Queen diam saja tidak seceria tadi hingga Rifki kaget saat menoleh ke arah Queen, ternyata Queen sedang menangis.
"Lah, kok nangis?"
"Aku kesal Mas sama ibu-ibu tadi, padahal aku duluan yang pesan ciloknya tapi si ibu itu malah minta duluan. Aku pikir si ibu itu cuma pesan satu saja, ternyata dia pesan banyak. Terus si Abang-abang ciloknya juga nyebelin, gak peka sama aku yang dari tadi nungguin," cerocos Queen dengan deraian airmata.
"Ya Allah, cup-cup jangan nangis lagi dong," seru Rifki dengan mengusap kepala Queen.
Rifki terus saja melajukan mobilnya, satu tangannya lagi mengambil plastik yang berisi cilok tapi Rifki kaget saat Queen memukul tangannya.
"Aw, kenapa kamu mukul tanganku, sayang?"
"Astaga, aku pikir kamu gak mau makan ciloknya."
Queen langsung melahap ciloknya membuat Rifki terkekeh, sungguh istrinya sangat menggemaskan kalau sedang manja seperti itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, Queen dan Rifki pun sampai di rumah. Queen langsung duduk di antara Mommy dan Daddynya dengan senyuman yang mengembang. Putra pun ada di sana bersama Mommy Vivian karena Alfa sedang sibuk bekerja.
"Ya Allah anak Mami, makin tampan saja," seru Queen dengan mengambil Putra dari pangkuan Mommynya itu.
"Ada apa ini? sepertinya kamu sedang bahagia," seru Mommy Vivian.
Rifki pun ikut duduk dan langsung mengambil Putra dari gendongan Queen.
"Kamu jangan gendong-gendong dulu sayang, takutnya perut kamu tertekan atau ketendang sama Putra."
"Tapi aku rindu sama Putra, Mas."
"Kalian kenapa sih?" tanya Daddy Darwis.
__ADS_1
Queen langsung tersenyuml dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu Queen memberikannya kepada Daddy Darwis dan Mommy Vivian.
Seketika mata keduanya berkaca-kaca. "Apa kamu sedang hamil, sayang?" tanya Daddy Darwis.
"Iya, Dad."
"Alhamdulillah."
Daddy Darwis memeluk Queen, begitu pun dengan Mommy Vivian ikut memeluk putrinya itu. Kedua orangtua Queen meneteskan airmatanya saking mereka bahagia mendengar kehamilan putrinya itu.
"Selamat ya sayang, akhirnya Putra akan segera mendapatkan adik," seru Mommy Vivian.
Berita kehamilan Queen sangat membahagiakan seluruh keluarga.
Malam pun tiba....
Setelah makan malam bersama, Rifki dan Queen pun segera membersihkan tubuhnya, lalu mereka berganti pakaian. Queen duduk di sofa sembari menonton tv.
"Sayang, kamu tidur duluan ya, aku mau mempelajari berkas-berkas yang diberikan oleh Daddy," seru Rifki.
Queen langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Rifki.
"Gendong," rengek Queen dengan manjanya.
"Astaga, bumilnya manja sekali sekarang."
Rifki pun dengan senang hati menggendong Queen menuju tempat tidur, Rifki mendudukkan Queen di atas tempat tidur.
"Sekarang kamu tidur ya."
Lagi-lagi Queen merentangkan kedua tangannya. "Peluk dulu."
Rifki terkekeh sampai geleng-geleng kepala, akhirnya Rifki pun memeluk Queen.
"Aku mau tidur, tapi kamu harus temenin aku dulu sampai aku tidur, Mas."
"Baiklah, sayangku."
Queen pun mulai merebahkan tubuhnya sembari memeluk lengan Rifki, Rifki mengusap kepala Queen dengan penuh kasih sayang.
Hingga akhirnya, setengah jam kemudian Queen pun sudah mulai memejamkan matanya. Perlahan Rifki melepaskan tangannya yang dari tadi dipeluk oleh istrinya itu, lalu Rifki menutup tubuh Queen dengan selimut.
__ADS_1
"Selamat malam, sayang."
Perlahan Rifki turun dari atas tempat tidur, lalu duduk di sofa dan Rifki pun memulai pekerjaannya. Sesekali Rifki terkekeh kala ingat kelakuan manja istrinya itu, tapi Rifki tidak merasa kesal justru Rifki sangat bahagia dan dia akan berusaha membahagiakan istrinya dengan cara apa pun.