KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 37 Pertemuan Safa dan Queen


__ADS_3

Seperti biasa sebelum berangkat dinas, Rifki akan mampir terlebih dahulu ke klinik Queen untuk bertemu sang pujaan hatinya itu.


"Pagi sayang!"


"Pagi."


Queen langsung bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Rifki dan memeluknya.


"Apa kamu sudah sarapan, sayang?" tanya Rifki.


"Sudah."


"Pokoknya kamu jangan sampai lupa makan, soalnya kamu kan punya penyakit maag jadi gak boleh sampai lupa makan."


"Siap Pak polisi."


Untuk sesaat, Rifki dan Queen saling berpelukan satu sama lain. Akhir-akhir ini mereka berdua memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


Rifki melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik wanitanya itu.


"Nanti malam, aku mau ngajak kamu dinner."


"Hah, tumben mau ngajak dinner? ada acara apa?" goda Queen.


"Memangnya kalau ngajak dinner harus ada acara ya? aku hanya ingin berduaan saja sama kamu, sekali-kali gak apa-apalah aku bersikap romantis seperti pria-pria diluaran sana."


"Iya deh."


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu soalnya kalau lama-lama di sini bisa-bisa aku telat."


Rifki mencium kening Queen sangat lama membuat Queen memejamkan matanya.


"Aku sangat mencintai kamu, Queen."


"Aku juga mencintaimu."


"Baiklah, aku berangkat dulu."


"Hati-hati."


"Iya sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rifki pun pergi meninggalkan klinik Queen dan Queen mulai mengerjakan pekerjaannya.


Sementara itu, di rumah Safa dia tampak kesal dan uring-uringan.


"Kamu kenapa, Safa?" tanya Mamanya.


"Ibu-ibu itu sangat menyebalkan, menghina Safa seenaknya saja."


"Begitulah warga di sini Safa, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya, mereka tetap saja benci kepada kita dan memang kenyataannya kita sudah melakukan kesalahan. Makanya Mama tidak berani keluar rumah dan tidak pernah pergi ke warung karena mereka selalu menghina Mama."


"Mereka benar-benar ya, seperti hidup mereka sudah benar saja. Oh iya Ma, apa Mama kenal dengan yang namanya Queen? apa dia warga baru di sini?" tanya Safa.


"Oh itu, Mama kurang tahu tapi Mama pernah dengar kalau dia adalah cucunya Nenek Arini yang dari kota dan sekarang dia membuka klinik di bekas gedung balai desa sana."

__ADS_1


"Apa dia lebih cantik dari Safa?"


"Entahlah, Mama belum pernah bertemu dengannya. Memangnya kenapa?"


"Tadi Ibu-ibu di warung sana, katanya Rifki sedang dekat dengan wanita yang bernama Queen itu."


Mama Safa tersenyum dan mengusap kepala Safa.


"Memangnya kenapa kalau Rifki dekat dengan Queen? tidak apa-apa lah, Rifki berhak dekat dengan siapa pun."


"Tidak Ma, Safa ingin kembali lagi sama Rifki."


"Safa, Rifki itu sudah membencimu jadi mana mungkin Rifki mau kembali lagi sama kamu bahkan sekarang kamu sudah jadi janda. Sudahlah, biarkan Rifki hidup bahagia dengan pilihannya dan kamu jangan mengganggunya lagi."


"Mama apa-apaan sih, malah membela Rifki bukannya Safa," kesal Safa.


Safa pun dengan kesalnya masuk ke dalam kamarnya dan itu membuat Mamanya geleng-geleng kepala.


"Aku harus bertemu wanita itu, aku ingin lihat apa wanita itu lebih cantik daripada aku?" gumam Safa.


***


Waktu pun berjalan dengan cepat, Queen menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dengan memejamkan matanya. Tiba-tiba pintu ruangan Queen terbuka dengan kasarnya membuat Queen tersentak dan langsung membuka mata.


"Maaf Mba, ini jam istirahat jadi kalau mau berobat nunggu nanti jam satu siang," seru Queen dengan ramahnya.


"Jadi kamu wanita yang saat ini menjadi primadona di kampung ini, menggantikan posisi aku," sinis Safa.


Queen mengerutkan keningnya. "Maaf, maksud Mba apa ya?"


Tanpa disuruh, Safa pun duduk dengan gaya angkuhnya dan itu lagi-lagi membuat Queen mengerutkan keningnya. Queen merasa tidak kenal dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


Queen menggelengkan kepalanya, Safa tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Queen.


"Perkenalkan nama aku Safa, aku adalah mantan pacarnya Rifki dan kamu tahu dulu Rifki begitu sangat mencintaiku dan hanya karena salah paham akhirnya kita putus, dan sekarang aku kembali dan ingin balikan lagi bersama Rifki."


Queen melipat kedua tangannya di dada dan menaikan satu alisnya, menandakan kalau wanita yang ada di hadapannya ini ingin berusaha menggoyahkan cinta Queen terhadap Rifki.


"Terus, sekarang mau Mba apa?" tanya Queen dengan senyuman ramahnya.


"Mau aku, kamu jauhi Rifki dan jangan mengganggunya karena aku dan Rifki akan bersama lagi," sahut Safa dengan PD nya.


"Oh begitu, kenapa Mba tidak bilang langsung saja sama Rifki kalau dia yang harus jauhi aku, nanti kalau Rifki menjauhi aku, aku jamin, aku pun tidak akan mendekati Rifki."


"Baik, nanti aku akan bilang sama Rifki untuk menjauhi kamu."


Safa pun bangkit dari duduknya dan pergi dari klinik Queen, Queen memang pura-pura tenang tapi dalam hatinya Queen sedikit merasa cemburu juga. Queen pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Rifki.


Rifki yang saat ini sedang makan siang bersama teman-temannya, tampak menyunggingkan senyumannya saat melihat ada pesan masuk dari wanita kesayangannya.


📩"Barusan ada wanita bernama Safa datang ke klinik aku."


Seketika mata Rifki melotot melihat isi pesan dari Queen, Rifki segera bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengambil kunci motornya.


"Kamu mau ke mana, Rif?"


"Aku pergi dulu ada hal yang sangat penting, nanti kalau aku sedikit telat tolong kamu izinkan kepada Komandan."

__ADS_1


Rifki pun segera naik ke atas motornya dan langsung melesat menuju klinik Queen. Selama dalam perjalanan, Rifki tampak gelisah karena takut Safa berbicara yang tidak-tidak kepada Queen.


"Awas kamu Safa, kalau kamu sampai bicara yang macam-macam dan membuat hubungan aku dan Queen hancur, aku tidak akan melepaskan mu," geram Rifki.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya motor Rifki pun sampai di depan klinik Queen. Rifki dengan langkah seribunya memasuki klinik Queen.


"Sayang."


Queen yang sedang makan siang, langsung tersentak mendengar suara Rifki.


"Rifki, ngapain kamu ke sini? bukanya kamu lagi kerja?"


Rifki segera menghampiri Queen dan dengan cepat memeluk Queen membuat Queen kembali terkejut.


"Ada apa ini?" tanya Queen bingung.


"Wanita itu gak ngapa-ngapain kamu, kan? dia gak bilang macam-macam kan, sama kamu?" tanya Rifki cemas.


Queen melepaskan pelukan Rifki dan tersenyum ke arah Rifki.


"Memangnya ada apa?"


"Takutnya wanita itu menghasut kamu dan akhirnya kamu membenci aku."


"Ya Allah, segitunya. Tadi dia cuma bilang, kalau dia itu mantan kamu dan dia juga bilang, kalau aku harus jauhin kamu karena kamu dan dia akan memperbaiki hubungan kalian lagi seperti dulu," sahut Queen dengan santainya.


"Dasar wanita gila," geram Rifki.


Rifki hendak melangkahkan kakinya tapi Queen menahan lengan Rifki.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau temui wanita itu, supaya dia jangan mengganggu kamu lagi."


Queen mendekati Rifki dan mengelus pipi Rifki yang saat ini tampak memerah menahan amarah.


"Sudah jangan diladenin, aku tahu kedatangan dia ke sini hanya untuk memanas-manasi aku supaya hubungan aku dan kamu retak, tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan terpengaruh dengan hal-hal seperti itu."


Rifki kembali memeluk Queen. "Kamu harus janji, jangan pernah percaya dengan ucapan wanita itu karena aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia. Aku benar-benar takut kamu bakalan marah sama aku."


"Iya, aku tidak akan percaya dengan ucapan dia kok jadi kamu tidak usah khawatir."


Queen melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Rifki.


"Sudah sana kembali bekerja, aku tidak apa-apa, lagipula sebentar lagi jam istirahat berakhir."


"Ya sudah kalau begitu, boleh tidak aku tidak usah kembali ke kantor dan diam di sini saja menemani kamu," seru Rifki.


Queen mendorong pelan tubuh Rifki supaya keluar dari kliniknya, kemudian memakaikan helm kepada Rifki.


"Sudah sana cepetan pergi."


"Ya sudah, jangan lupa nanti malam kita dinner."


"Siap Pak polisi."


Lagi-lagi Rifki mencium kening Queen dan setelah itu, Rifki pun pergi. Sedangkan dari kejauhan, Safa tampak mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Awas kamu, aku tidak rela Rifki menjadi milikmu, Queen," geram Safa.



__ADS_2