KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 39 Melamar


__ADS_3

Malam ini adalah malam paling membahagiakan untuk Queen. Setelah acaranya selesai, Rifki pun mengajak Queen pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 23.00 malam.


"Rif, terima kasih ya, untuk malam ini," seru Queen.


"Apa kamu bahagia?"


"Sangat, sangat bahagia sekali."


Rifki mengusap kepala Queen. "Niat aku memang ingin menjaga dan membahagiakan kamu, walaupun cara aku sangat sederhana tapi rasa cintaku padamu tidak sesederhana itu. Aku benar-benar mencintai kamu dan ingin menjadi orang yang selalu menjadi sandaran untukmu."


Queen tersenyum, sungguh baru kali ini Queen merasakan sebahagia ini. Hingga, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Nenek Arini. Pak Darna segera membukakan pintu gerbang.


"Pak Darna, ini kunci mobilnya."


"Siap, Mas Rifki. Dan ini kunci motor Mas Rifki."


"Terima kasih, Pak."


"Mau masuk dulu?" seru Queen.


"Tidak, ini sudah terlalu malam. Oh iya, besok aku dan kedua orangtuaku akan datang ke sini untuk meminta izin ingin menikahimu."


"Aku tunggu."


"Kalau begitu aku pulang dulu."


Rifki menghampiri Queen dan mencium kening Queen.


"I love you."


"I love you too."


Rifki pun segera naik ke atas motornya dan segera pergi meninggalkan rumah Nenek Arini.


***


Keesokan harinya....


Queen dan Nenek Arini sedang sarapan bersama, Nenek Arini tampak tersenyum melihat cincin yang melingkar di jari manis cucunya itu.

__ADS_1


"Sepertinya tadi malam ada yang dilamar nih," goda Nenek Arini.


Queen tersentak dan menyunggingkan senyumannya.


"Rifki pria yang baik Nek, dia bilang hari ini dia dan kedua orangtuanya akan datang ke sini untuk meminta izin kepada Nenek untuk menikahi Queen."


"Apa kamu mencintai Nak Rifki?"


Queen menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.


"Kalau begitu, Nenek terserah kamu saja yang penting kamu bahagia."


Queen bangkit dari duduknya dan memeluk Neneknya itu.


"Terima kasih, Nek. Tapi----"


"Tapi kenapa?"


"Daddy."


"Kamu tidak usah memikirkan masalah Daddy kamu, itu biar menjadi urusan Nenek. Jikalau Daddy mu tidak merestui hubunganmu dengan Rifki, kamu tidak usah khawatir, kamu bisa pakai wali hakim saja," seru Nenek Arini.


Sementara itu, Safa kali ini seperti wanita gila yang terobsesi kepada Rifki. Dia selalu memantau pergerakan Rifki dari kejauhan.


"Rifki mau ke mana sudah rapi seperti itu?" gumam Safa.


Dari kejauhan Safa melihat Rifki dan kedua orangtuanya keluar dari rumah mereka dengan pakaian rapi.


Rifki dan kedua orangtuanya memilih jalan kaki, karena memang jarak rumah Rifki dan rumah Nenek Arini sangatlah dekat. Safa yang penasaran pun akhirnya memilih mengikuti Rifki secara diam-diam.


Hingga Rifki dan kedua orangtuanya sampai di depan rumah Nenek Arini dan di sambut baik oleh Pak Darna dan Bi Atikah.


"Ayo masuk Bu Nur, Nenek Arini dan Non Queen sudah menunggu di dalam," seru Bi Atikah.


"Terima kasih, Atikah."


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah Nenek Arini, sementara itu Safa mendengar pembicaraan beberapa Ibu-ibu yang kebetulan lewat.


"Wah, sepertinya Mas Rifki ingin melamar Neng Queen ya."

__ADS_1


"Iya, mudah-mudahan saja mereka berjodoh, soalnya Neng Queen dan Mas Rifki sangat cocok yang satu cantik dan yang satu lagi tampan."


"Kita ikut bahagia, semoga saja kali ini pernikahan Mas Rifki tidak akan batal lagi."


"Amin."


Safa yang bersembunyi di balik pohon tampak mengepalkan kedua tangannya.


"Sial, aku gak rela kalau Rifki menikah dengan wanita itu. Pokoknya Rifki harus menikah denganku," geram Safa.


Berbeda dengan Safa yang sedang sangat emosi, di kediaman Nenek Arini terlihat sangat bahagia ternyata Nenek Arini menerima lamaran Rifki dengan senang hati.


"Nak Rifki, mungkin Nak Rifki sudah tahu bagaimana cerita hidup Queen? Nenek sangat berharap, Nak Rifki bisa menjaga dan menyayangi Queen dengan sepunuh hati karena Nenek sudah tahu lagi harus menitipkan Queen kepada siapa lagi. Queen berhak mendapatkan kebahagiaannya dan mudah-mudahan Queen bisa bahagia hidup dengan Nak Rifki."


"Nenek tenang saja, Rifki janji tidak akan menyakiti Queen. Rifki akan menjaga Queen dan berusaha membahagiakan Queen semaksimal mungkin sebisa dan semampu Rifki."


"Nenek percaya sama kamu Nak, dari dulu kamu memang anak yang baik dan bertanggung jawab."


"Non Queen, apa Non Queen menerima lamaran dari Rifki? jangan sampai kamu menyesal karena Rifki bukan anak orang kaya, jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Rifki ditinggalkan di hari pernikahan karena si calon pengantin wanita tergoda oleh pria yang kaya," seru Ibu Nur dengan mata yang berkaca-kaca.


Queen menghampiri Ibu Nur dan bersimpuh di hadapan Ibu Nur dengan menggenggam tangan Ibu Nur.


"Bu, Queen tidak melihat pria dari harta dan kekayaannya karena kalau masalah harta dan materi, bisa dicari sama-sama. Di sini yang Queen cari adalah pria yang bisa menyayangi Queen dengan setulus hatinya dan bisa menjadi sandaran buat Queen di saat Queen sedang mempunyai masalah dan lelah," seru Queen dengan mata yang berkaca-kaca.


Ibu Nur mengusap wajah cantik Queen, bahkan Ibu Nur sampai meneteskan airmatanya.


"Terima kasih Non, sudah mau menerima anak Ibu ini," seru Ibu Nur dengan menepuk punggung Rifki.


"Queen yang seharusnya berterima kasih kepada Ibu Nur dan Rifki. Ibu sudah membuat Queen bisa merasakan bagaimana rasanya disuapi oleh seorang Ibu dan dipeluk oleh seorang Ibu karena selama ini, Queen tidak pernah merasakan itu dan Rifki sudah membuat hari ulang tahun Queen sangat berkesan karena setiap ulang tahun, Queen selalu merayakannya sendirian hanya dengan meniup lilin tanpa ada kue ulang tahun. Tanggal ulang tahun Queen, bertepatan dengan jadwal cuci darah Putri jadi mereka tidak pernah ingat akan ulang tahun Queen," seru Queen dengan deraian airmatanya.


"Ya Allah, kasihan sekali kamu Non."


Ibu Nur menarik tubuh Queen ke dalam pelukannya. "Setelah kamu menikah nanti dengan Rifki, Ibu janji akan memeluk dan menyuapi kamu setiap hari supaya kamu bahagia," seru Ibu Nur.


"Terima kasih, Bu."


Semua orang tampak meneteskan airmatanya, dan ternyata mereka tidak sadar kalau dari tadi 3 orang sudah berada di ambang pintu menyaksikan semuanya.


Ya, 3 orang itu tidak lain adalah Daddy Darwis, Mommy Vivian, dan juga Putri. Mommy Vivian bahkan sudah menangis dalam diam mendengar isi hati Queen selama ini. Begitu pun dengan Daddy Darwis dan Putri sudah memperlihatkan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1



__ADS_2