
Sore pun tiba....
Ponsel Daddy Darwis berbunyi dan ada sebuah pesan masuk, betapa terkejutnya ia saat melihat foto Queen yang sudah pingsan dengan wajah lebam dan berlumur darah.
📩"Datang ke alamat yang aku kirim, ingat, jangan coba-coba menghubungi polisi atau membawa teman ke sini kalau kamu tidak menuruti perintahku, anak dan cucumu akan aku bunuh."
Tangan Daddy Darwis tampak gemetar, tapi dia pura-pura tenang karena tidak mau sampai orang-orang di sana mencurigainya.
"Mom, sepertinya Daddy harus pergi dulu."
"Mau ke mana, Dad?"
"Daddy ada urusan sebentar, Al, tolong kamu jaga Mommy dan Nenek Arini, Daddy tidak akan lama kok."
"Mau ke mana Dad? apa mau Alfa antar?"
"Tidak usah Al, Daddy bisa sendiri."
Daddy Darwis pun segera mengambil kunci mobilnya dan dengan cepat meluncur ke alamat yang sudah Raffi kirimkan kepadanya.
"Kurang ajar, berani sekali kamu menculik anak dan cucuku, bahkan kamu menyiksa anakku," gumam Daddy Darwis.
Sementara itu Rifki pun pulang dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Rifki sampai di rumah Nenek Arini.
"Assalamualaikum."
Buggg...
Alfa langsung memukul Rifki membuat Rifki tersungkur ke lantai.
"Astagfirullah Al!" teriak Mommy Vivian.
"Alfa, kenapa kamu memukul aku?" tanya Rifki bingung.
"Kamu memang suami brengsek, tidak bertanggung jawab. Kalau kamu sudah tidak becus menjaga Queen, lebih baik kamu ceraikan Queen dan aku akan menikahinya!" bentak Alfa.
Rifki yang mendengar ucapan Alfa, merasa tersulut emosi. Rifki bangkit dan membalas memukul Alfa membuat Mommy Vivian dan Fitri panik.
"Sudah stop, Mommy mohon hentikan!" teriak Mommy Vivian.
"Mommy dengar kan, dia masih mencintai Queen dan Rifki tidak rela kalau dia kembali hanya untuk menghancurkan rumah tangga Rifki dan Queen," seru Rifki.
"Kalau kamu tidak mau aku rebut kembali Queen, seharusnya kamu bisa jaga Queen tapi nyatanya kamu sama sekali hanya seorang suami yang tidak berguna!" bentak Alfa.
Rifki hendak memukul Alfa lagi, tapi Mommy Vivian segera menahan Rifki.
"Sudah Rifki, Mommy mohon hentikan jangan membuat masalah semakin runyam. Dari tadi Mommy hubungi kamu, tapi kenapa kamu tidak mengangkatnya?" tanya Mommy Vivian.
"Maaf Mommy, ponsel Rifki di silent, terus di saat Rifki mau menghubungi Mommy kembali, tiba-tiba ponsel Rifki mati karena baterainya habis," sahut Rifki.
"Kamu tahu Rifki, Putra di culik."
"Apa? Putra di culik?"
__ADS_1
"Iya, dan kamu memang polisi yang tidak berguna!" teriak Alfa.
"Terus, Queen mana, Mom?"
"Ibu dokter tadi dapat pesan dari seseorang, tapi sampai sekarang Ibu dokter belum kembali lagi," sahut Fitri.
Rifki benar-benar terkejut, dia menjambak rambutnya sendiri.
"Jadi, apa tadi Queen menghubungiku karena dia sedang dalam bahaya?" gumam Rifki.
"Iya, dan kamu malah mengabaikannya, dasar suami brengsek, kamu itu tidak pantas disebut sebagai seorang suami!" bentak Alfa.
Rifki benar-benar merasa bersalah, dengan cepat Rifki berlari ke luar rumah dan dengan cepat melajukan motornya.
"Maafkan aku sayang, maaf. Aku benar-benar sudah lalai," sesal Rifki.
Rifki terus melajukan mobilnya, kali ini tujuannya adalah rumah Raffi karena tidak ada orang yang Rifki curigai selain Raffi.
"Awas kamu Raffi, sedikit saja Queen terluka, aku tidak akan mengampunimu," geram Rifki.
Hingga beberapa saat kemudian, Rifki pun sampai di rumah Raffi. Rifki dengan emosinya menekan bel, dan tidak lama kemudian seorang ART pun datang.
"Iya Mas, Mas mau bertemu dengan siapa?"
"Panggilkan Raffi sekarang juga."
"Maaf Mas, Den Raffi tidak ada di rumah soalnya dari kemarin Den Raffi tidak pulang."
"Bohong, pasti Bibi bohong kan? Bibi mau menyembunyikan Raffi, ya?" kesal Rifki.
"Raffi, keluar kamu jangan sembunyi di dalam rumah!" teriak Rifki.
"Mas, Den Raffi tidak ada di rumah."
Mama Raffi pun keluar dari dalam rumah karena mendengar teriakan Rifki.
"Nak Rifki, ada apa Nak?"
"Maaf Bu, apa Raffi ada di dalam?"
"Raffi dari kemarin tidak pulang Nak, memangnya ada apa?"
"Anak dan istri saya menghilang Bu, dan saya yakin dalang dibalik semua ini adalah Raffi karena Raffi sudah lama menyukai istri saya."
"Apa? tidak mungkin Nak."
"Apa Ibu tahu, kira-kira Raffi pergi ke mana?"
"Ibu tidak tahu Nak, tapi ada satu tempat yang sering Raffi datangi kalau dia sedang ada masalah."
"Di mana?"
Mama Raffi pun memberitahukan kalau Raffi selalu pergi ke rumah bekas Neneknya. Rifki dengan cepat menuju ke alamat yang diberikan oleh Mamanya Raffi.
__ADS_1
Sementara itu, Daddy Darwis baru sampai di alamat tujuan. Anak buah Raffi langsung menghampiri Daddy Darwis dan menyeretnya untuk masuk ke dalam.
Daddy Darwis membelalakkan matanya saat melihat keadaan Queen yang mengenaskan.
"Brengsek, kenapa kamu siksa anakku?" bentak Daddy Darwis menggelegar di setiap sudut ruangan itu.
Raffi tertawa terbahak-bahak, lalu Raffi menunjukan sebuah foto kepada Daddy Darwis.
"Apa anda ingat dengan wanita ini?"
Daddy Darwis memperhatikan foto itu, dia lupa siapa wanita yang Raffi tunjukkan.
"Saya tidak kenal dengan wanita di foto itu, dan apa hubungan dia dengan semua ini?" sentak Daddy Darwis.
Raffi pun kembali menceritakan Ajeng, hingga membuat Daddy Darwis tertawa dan itu membuat Raffi semakin geram.
"Jadi, kamu mau balas dendam kepada saya karena wanita itu mati bunuh diri? dangkal sekali pemikiran kamu, kamu dan wanita itu memang bodoh, walaupun saya meminjamkan uang untuknya, belum tentu Ibu dia akan terselamatkan karena masalah takdir manusia hanya Allah yang bisa menentukan, kenapa kamu justru menyiksa putriku!" bentak Daddy Darwis.
Bugg..bugg..bugg..
Raffi memukul Daddy Darwis. "Kurang ajar, dasar tua bangka tidak punya hati! habisi tua bangka itu!".
"Baik Bos."
Anak buah Raffi mulai menyiksa Daddy Darwis dengan membabi buta, Queen mulai sadar dan Queen terkejut saat melihat Daddynya sedang disiksa seperti itu.
"Hentikan, jangan siksa Daddyku!" teriak Queen.
Daddy Darwis sudah tidak berdaya, Queen menyeret tubuhnya untuk menghampiri Daddynya. Queen memeluk Daddynya yang saat ini lemas.
"Daddy."
"Kamu tidak apa-apa Nak? maafkan Daddy sudah membuatmu seperti ini."
"Kalian benar-benar pasangan anak dan bapak yang sangat mengharukan," seru Raffi dengan senyumannya.
"Kalau kamu ingin balas dendam kepada saya, silakan. Siksa saya sesuka hatimu, tapi tolong lepaskan Queen dan cucuku," lirih Daddy Darwis.
"Tidak Dad, Daddy jangan bicara seperti itu."
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Putra, membuat Queen mencari sumber suara. Seorang anak buah Raffi masuk dengan membawa Putra yang saat ini sedang menangis.
"Maaf Bos, anak ini tidak bisa berhenti menangis."
"Putra."
Raffi mengambil Putra. "Diam kamu anak sialan, kalau kamu tidak berhenti menangis, aku akan tembak kamu!" bentak Raffi.
"Raffi, jangan sakiti Putra, aku mohon," seru Queen dengan deraian airmata.
Raffi menghampiri Queen dan menyerahkan Putra kepada Queen.
"Buat dia berhenti menangis, kalau tidak, aku akan tembak anak sialan itu. Lagipula, aku akan memberimu kesempatan untuk melepas rindu dengan anakmu itu karena sebentar lagi nyawa kalian berdua akan hilang," seru Raffi dengan tawanya.
__ADS_1
Rifki segera menghubungi rekan-rekannya untuk datang ke lokasi, karena Rifki yakin kalau Raffi adalah pria yang nekad dan Rifki takut Raffi akan menyakiti istri dan anaknya.
"Maafkan aku Queen, aku memang suami bodoh," sesal Rifki.