KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 46 Balada Pengantin Baru


__ADS_3

Akhirnya pesta pernikahan Queen dan Rifki pun selesai, mereka berdua segera pulang menuju rumah Nenek Arini karena Nenek Arini meminta Queen dan Rifki untuk tinggal di rumahnya saja.


"Rif, aku ganti baju dulu ya."


Rifki menganggukkan kepalanya dan Queen dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju tidur.


Sedangkan Rifki, dia mengganti baju di dalam kamar saja dan sekarang Rifki sudah selesai ganti baju lalu duduk di atas tempat tidur dengan bersandar ke kepala ranjang.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka dan reflek Rifki menoleh, Queen memakai baju tidur blus dengan tali kecil yang menempel di pundaknya. Kulit Queen benar-benar putih mulus membuat Rifki tiba-tiba merasa kepanasan.


Perlahan, Queen mulai naik ke atas ranjang dengan wajah yang memerah karena merasa malu. Queen mengusap kakinya yang terasa sangat pegal.


"Kamu kenapa? kakinya pegal, ya?" tanya Rifki.


"Iya Rif, beberapa jam berdiri terus dengan memakai heels membuat kaki aku pegal juga."


Rifki pun mengubah posisinya menjadi menghadap Queen.


"Sini kakinya mana, biar aku pijitin," seru Rifki.


"Eh, gak usah masa suami yang pijitin istri? kan, seharusnya istri yang pijitin suami," tolak Queen.


"Sudah tidak apa-apa, nanti gantian kamu yang pijitin aku."


Rifki menarik kaki Queen tapi Queen tetap menolak.


"Lurusin kakinya, aku pijitin sebentar biar tidur kamu enak. Jangan khawatir, aku jago kok soal pijat-memijat kata Ayah, pijatan aku itu enak."


Akhirnya, Queen pun luluh dan mulai meluruskan kedua kakinya. Perlahan tapi pasti, Rifki mulai memijat kaki Queen dengan penuh kasih sayang.


"Maaf, susah menyusahkanmu," seru Queen.


"Tidak, kenapa harus menyusahkan justru aku kasihan sama kamu seharian berdiri menyambut tamu pasti kamu kelelahan sekali kan."


Queen menyunggingkan senyumannya, Queen beruntung sekali mempunyai suami sebaik Rifki. Memang benar apa yang dikatakan orang, wanita akan dijadikan ratu oleh pria yang tepat.


"Sudah cukup, Rif. Kamu juga sudah kelelahan, mau aku pijitin juga?"


"Memangnya kamu bisa?"


"Ishh..ishh..ishh..kamu meremehkan ku?" kesal Queen.


Rifki tersenyum dan menarik tangan Queen sehingga Queen jatuh ke dalam pelukannya.


"Aku tidak akan pernah menyusahkanmu sayang, selama aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak akan meminta bantuan kepadamu."


Queen mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya itu. Begitu pun dengan Rifki, keduanya saling tatap satu sama lain sehingga perlahan Rifki mendekatkan wajahnya ke wajah Queen.


Queen mulai memejamkan matanya dan dalam hitungan detik kedua bibir itu sudah saling menempel satu sama lain.

__ADS_1


Mereka saling menyalurkan rasa cinta mereka satu sama lain, bahkan keduanya tidak ada yang mau melepaskan pungutan mereka. Setelah cukup lama, Queen pun melepaskan pungutannya. Kening keduanya menempel satu sama lain, napas mereka ngos-ngosan.


"Apa kamu kelelahan sayang? kalau kamu merasa lelah, aku tidak akan meminta kamu untuk melakukan kewajiban kamu sekarang," seru Rifki lembut.


Queen tersenyum dan mengelus wajah Rifki, Queen tahu kalau saat ini Rifki sangat menginginkannya dan Queen pun tidak boleh menolaknya karena itu memang sudah menjadi kewajibannya.


"Aku tidak merasa kelelahan kok."


Queen pun menarik wajah Rifki dan kembali mencium bibir Rifki. Tentu saja, Rifki sangat bahagia dengan perlakuan Queen dan itu artinya Queen memberinya lampu hijau.


Keduanya kembali terbakar gairah, dan hal yang diinginkan mereka pun terjadi. Rifki benar-benar tidak bisa menghentikannya, siapa suruh Queen memberinya lampu hijau membuat Queen kewalahan.


"Rif, aku sudah sangat kelelahan bahkan mataku sudah tidak bisa dibuka, bisakah kita lanjutkan besok saja," lirih Queen dengan suara seraknya.


Rifki tidak bisa menjawab ucapan Queen, karena sedang menikmati permainannya untuk yang kesekian kalinya.


"Aaaahhhh...."


Rifki pun menyemburkan cairan kebahagiaannya ke rahim Queen dan itu entah yang sudah ke berapa kalinya.


Rifki menjatuhkan tubuhnya ke samping Queen, dan menutupi tubuh polos Queen dengan selimut.


"Maafkan aku, sayang. Sekarang kamu sudah bisa istirahat," seru Rifki dengan mencium kening Queen.


Keduanya pun tertidur di jam 03.00, sungguh ini adalah malam panjang untuk kedua pengantin baru.


***


Keesokan harinya...


"Loh, sayang kok sudah bangun?" tanya Mommy Vivian.


"Memangnya kenapa Mom? Queen memang biasa bangun pagi-pagi," sahut Queen.


"Tidak, Mommy cuma nanya saja. Oh iya, hari ini Mommy, Daddy, dan Putri akan kembali ke Jakarta, apa kamu mau ikut?"


"Tidak Mom, Queen sudah punya tanggung jawab di sini. Queen sudah punya klinik dan suami Queen juga bekerja di sini, kalau Queen ikut pulang ke Jakarta, kasihan Rifki pulangnya terlalu jauh."


Mommy Vivian mengusap kepala Queen dengan senyumannya.


"Ya sudah, kamu baik-baik ya di sini, kalau ada apa-apa jangan kamu pendam, bicara saja sama Mommy."


"Iya Mom."


Mommy Vivian memeluk Queen dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kalau begitu, Mommy bangunin Daddy kamu dulu ya."


"Iya Mom."


Queen pun membuatkan kopi untuk Rifki dan membawanya ke kamar. Sampai di kamar, ternyata Rifki sudah bangun dan saat ini sedang mandi.

__ADS_1


Queen pun merapikan tempat tidur dan mengganti sepreinya karena terlihat sekali ada noda darah di sana. Seketika wajah Queen memerah, mengingat kegiatan panasnya bersama Rifki tadi malam.


Tiba-tiba, Rifki memeluk Queen dari belakang membuat Queen tersentak kaget.


"Astagfirullah, Rifki. Kamu bikin aku kaget aja."


"Kenapa kamu gak bangunin aku?"


"Aku lihat kamu tidurnya nyenyak sekali, jadi aku gak tega buat bangunin kamu."


Queen melepaskan pelukan Rifki, dan menarik Rifki untuk duduk di ujung ranjang. Lalu Queen mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambut Rifki, tentu saja Rifki sangat bahagia.


"Aku sudah buatkan kopi untukmu."


"Terima kasih, sayang."


"Kamu dapat cuti berapa hari?" tanya Queen.


"Satu Minggu, kenapa? apa kamu ingin melakukan honeymoon?"


"Tidak usah, kita honeymoon di sini saja."


"Tapi aku ingin mengajak kamu untuk honeymoon, walaupun tidak ke luar negeri tapi aku ingin membuat kamu bahagia. Bagaimana kalau kita pergi ke Pantai?"


"Serius? aku ingin ke pantai, soalnya aku sama sekali belum pernah ke pantai," seru Queen antusias.


Rifki menarik tangan Queen, sehingga Queen terduduk di pangkuan Rifki.


"Mana ucapan terima kasihnya?"


Queen mengerutkan keningnya. "Ucapan terima kasih apa?"


"Karena aku mau mengajak kamu ke pantai."


"Ishh, kok harus ada ucapan terima kasihnya sih."


"Harus dong, kalau tidak ada ucapan terima kasih, aku gak jadi bawa kamu ke pantai," goda Rifki.


Seketika wajah Queen cemberut, tapi dengan cepat Queen mencium bibir Rifki.


"Sudah."


"Kok sebentar, tidak terasa sama sekali."


"Haishh...bilang aja kamu cari-cari kesempatan."


Queen pun dengan terpaksa kembali mencium bibir Rifki tapi kali ini Rifki menahan kepala Queen sehingga ciuman mereka semakin dalam membuat Queen memukul dada Rifki supaya Rifki melepaskannya.


Beberapa saat kemudian, Rifki pun melepaskan pungutannya dan Queen tampak ngos-ngosan.


"Dasar polisi mesum, cepetan pakai baju, kopinya keburu dingin," kesal Queen dengan beranjak dari pangkuan Rifki.

__ADS_1


Rifki terkekeh, akhirnya Rifki pun menurut untuk memakai baju dan meminum kopi pertama buatan istrinya.



__ADS_2