
Na*su makan Rifki tiba-tiba saja hilang, Rifki langsung memblokir nomor Widi. Tanpa membuang waktu, Rifki pun segera pergi dari rumah sakit menuju Polres tempat dia dinas.
Rifki melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak membutuhkan waktu lama Rifki pun sampai di Polres.
"Loh, Rif, bukanya kamu cuti hari ini?" tanya salah satu rekannya.
"Aku ada urusan."
Rifki pun berjalan memasuki Polres dengan raut wajah yang sangat menyeramkan, dari kejauhan Widi melihat Rifki dengan senyuman yang mengembang.
"Wajah Rifki terlihat seperti itu, pasti dia bertengkar besar dengan istrinya," batin Widi.
Widi pun dengan semangat segera menghampiri Rifki. "Hai Rif, kamu kenapa? katanya hari ini kamu cuti tapi kok malah masuk?" tanya Widi dengan senyuman yang mengembang.
Rifki terlihat sangat emosi melihat wajah Widi, Rifki pun menarik tangan Widi dengan kasar dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Aw, sakit Rif, kamu kenapa sih?" keluh Widi dengan mengusap pergelangan tangannya yang terasa perih.
"Apa maksud kamu membuat postingan seperti itu di media sosial? bahkan kamu dengan lancangnya memakai ponselku dan membuat postingan menjijikan membuat semua orang bertanya-tanya ada hubungan apa kamu denganku. Mau kamu apa?" bentak Rifki.
"Mau aku, kamu cerai dengan istri kamu," sahut Widi dengan tegasnya.
"Apa kamu bilang? jangan mimpi, sampai kapan pun aku dan Queen tidak akan pernah bercerai. Jadi, kamu tidak usah mengganggu rumah tanggaku."
"Rif, dari dulu aku itu menyukaimu tapi kamu tidak pernah melihatku. Apa kurangnya aku, sampai-sampai kamu lebih memilih wanita itu dibandingkan denganku?" seru Widi dengan nada yang tinggi.
"Karena aku hanya menganggap mu sebatas rekan kerjaku saja, tidak lebih."
"Kamu jahat, Rifki."
__ADS_1
"Terserah, kamu mau anggap aku jahat atau tidak, tapi yang jelas, aku peringatkan kamu untuk yang terakhir kalinya jangan pernah ganggu rumah tanggaku lagi karena aku tidak akan pernah berpaling kepada siapa pun dan wanita yang aku cintai sekarang dan seterusnya hanya Queen tidak ada yang lain, PAHAM kamu!" bentak Rifki.
Rifki pun dengan emosi yang memuncak segera meninggalkan Widi, sedangkan Widi hanya bisa menangis.
Rifki pun dengan cepat melajukan motornya untuk kembali ke rumah sakit, Rifki harus menjelaskan semuanya kepada Queen supaya Queen tidak salah paham dan mau memaafkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Rifki pun sampai di rumah sakit. Rifki melangkahkan kakinya dengan langkah yang terburu-buru, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya dan menjelaskan semuanya kepada Queen.
Baru saja Rifki ingin menarik handle pintu ruangan rawat Queen, Rifki mendengar tawa Queen. Rifki membuka pintu secara perlahan, kemudian mengintip sedikit.
"Dari dulu kamu selalu bisa membuat aku ketawa, Al."
"Iyalah, aku itu adalah pria pertama yang bisa meluluhkan hati kamu. Bahkan kamu tahu, dulu aku sampai gak bisa tidur karena memikirkan cara bagaimana supaya aku bisa berkenalan denganmu karena dulu kamu susah banget untuk di dekati."
Queen lagi-lagi terkekeh mengingat masa lalunya itu, sementara itu Rifki mengepalkan tangannya, dadanya terasa panas, sungguh saat ini Rifki sangat cemburu melihat istrinya sedang bercanda dengan mantan pacarnya.
Rifki pun membuka pintu ruangan rawat Queen dengan kasar membuat Queen dan Alfa tersentak kaget.
Rifki tidak menjawab ucapan Alfa, dia pun langsung duduk di samping Queen dan mengusap kepala Queen tapi Queen sedikit menghindar dari sentuhan Rifki.
"Sayang, apa kamu sudah makan?" tanya Rifki.
"Sudah, barusan aku yang suapin," sahut Alfa.
Rifki tampak mengepalkan tangannya, dia benar-benar sangat emosi.
"Lebih baik sekarang kamu pergi saja, karena Queen sudah ada suaminya yang akan menjaga," ketus Rifki.
"Cih, suami macam apa kamu? menjaga apanya? ini juga kecolongan sampai-sampai Queen terluka, untung nyawanya selamat kalau sampai terjadi sesuatu sama Queen, habis kamu!" sentak Alfa.
__ADS_1
Lagi-lagi Rifki hanya bisa mengepalkan tangannya, dia ingin sekali memukul pria di hadapannya itu namun sayang, saat ini mereka sedang di rumah sakit.
"Lebih baik sekarang kalian pulang saja," seru Queen.
"Sayang, aku akan menjagamu di sini."
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Kamu urusin saja urusan kamu sendiri dan tidak usah memikirkan aku," seru Queen tanpa melihat wajah Rifki.
Deg...
Hati Rifki merasa sangat sakit mendengar ucapan istri yang paling dia cintai itu.
"Sayang----"
Queen mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi miring membelakangi Rifki.
"Kalian pulang saja, aku mau istirahat dan gak mau diganggu."
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu Queen, nanti kalau sempat aku ke sini lagi," seru Alfa.
"Iya Al, salam untuk Putra."
"Pasti."
Alfa pun akhirnya keluar dari ruangan rawat Queen, sedangkan Rifki masih berdiri mematung di belakang tubuh Queen.
"Aku tahu, kamu marah karena apa, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya karena saat ini kamu sedang salah paham."
"Cukup Mas, kepala aku pusing dan aku ingin istirahat jadi lebih baik sekarang Mas keluar dari sini."
__ADS_1
"Ya sudah, aku keluar sekarang tapi aku tidak akan pulang, jadi kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku karena aku menunggumu di luar," seru Rifki.
Akhirnya dengan berat hati, Rifki pun keluar dari dalam ruangan rawat Queen. Sepertinya untuk saat ini Rifki harus ekstra sabar, karena Queen benar-benar sudah marah kepadanya.