KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 61 Perubahan Queen


__ADS_3

Semalaman Rifki duduk di samping Queen dan Rifki pun tidak melepaskan tangan Queen, bahkan Rifki sama sekali belum mengganti seragam kerjanya yang sudah penuh dengan darah Queen itu.


"Bangunlah sayang, maafkan aku karena sudah mengacuhkan panggilan dari kamu. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu tapi memang waktu itu ponselku di silient," gumam Rifki.


Rifki menciumi tangan Queen, sungguh rasa bersalah Rifki amatlah besar. Malam semakin larut dan waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari, mata Rifki mulai sayu hingga tanpa terasa, Rifki pun memejamkan matanya dan tertidur dalam posisi duduk.


***


Keesokan harinya....


Queen mulai mengerjapkan matanya, dia memperhatikan setiap sudut ruangan. Queen pun melihat ke samping dan Rifki masih tertidur lelap, mata Queen mulai berkaca-kaca saat ingat foto Rifki dengan seorang polwan.


"Kenapa kamu tega mengkhianatiku Mas? apa kurangnya aku selama ini? apa karena aku belum bisa memberimu keturunan, sehingga kamu tega mengkhianatiku seperti ini," batin Queen.


Airmata Queen pun menetes tapi Queen segera menghapusnya, tidak lama kemudian Rifki pun mulai menggerakkan tubuhnya dan Queen pura-pura kembali tidur karena untuk saat ini Queen tidak mau berbicara dengan suaminya itu.


Rifki melihat ke arah Queen yang masih memejamkan matanya.


"Bagaimana ini? apa Queen baik-baik saja?" gumam Rifki.


Rifki pun bangkit dari duduknya, lalu mencium kening Queen. Setelah itu, Rifki masuk ke dalam kamar mandi.


Queen mulai membuka matanya saat mendengar Rifki masuk ke dalam kamar mandi, lagi-lagi airmata Queen menetes, hati Queen terasa sangat sakit.


Beberapa saat kemudian, Rifki pun keluar dari dalam kamar mandi dan Rifki terkejut saat melihat Queen sedang kesusahan mengambil minum.


"Sayang, kamu mau minum? kenapa kamu tidak panggil aku?"


Rifki segera mengambilkan air minum untuk Queen, di saat Rifki ingin meminumkan air kepada Queen, Queen menolaknya dan mengambil gelas itu dari tangan Rifki.


Rifki tercengang dengan sikap Queen yang tiba-tiba berubah seperti itu, Queen pun menyimpan kembali gelasnya dan kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Rifki.


"Sayang, kamu kenapa? kamu marah ya, sama aku? maafkan aku, kemarin ponsel aku di silent jadi aku gak dengar kalau kamu menghubungiku, tapi di saat aku kembali menghubungimu, justru ponselmu yang mati," seru Rifki.

__ADS_1


Queen tidak memperdulikan alasan Rifki, yang jelas saat ini Queen sedang tidak ingin melihat wajah suaminya itu.


Rifki hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar, kali ini Queen benar-benar marah kepada dirinya.


***


Setelah selesai acara pemakaman Nenek Arini, semua keluarga pun langsung pergi menuju rumah sakit.


Alfa menitipkan Putra di rumah bersama Bi Atikah, Fitri, dan Pak Darna.


"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu sadar juga," seru Mommy Vivian menghampiri Queen.


"Nak, ini baju kamu, sana ganti dulu," seru Bu Nur.


"Iya Bu, terima kasih."


Rifki pun dengan cepat masuk kembali ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


"Apakabar, Queen!"


"Kemarin, dan aku sangat kaget saat mendengar Putra dan kamu diculik. Terima kasih Queen, karena kamu sudah mau mengurus Putra."


"Itu sudah menjadi tugas aku Al."


Queen memperhatikan semua orang yang ada di sana, dan Queen mengerutkan keningnya.


"Kenapa kalian memakai baju hitam? memangnya ada kabar duka ya?" tanya Queen.


Rifki pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Queen tapi Queen lagi-lagi tidak memperdulikan Rifki.


Semua orang saling pandang satu sama lain, entah mereka harus bilang sekarang atau tidak soalnya kondisi Queen masih belum stabil.


"Kenapa kalian diam? apa ada yang sedang kalian sembunyikan dari aku?"

__ADS_1


Daddy Darwis menghampiri Queen dan duduk di hadapan Queen dengan menggenggam tangan Queen.


"Kamu harus sabar, Queen."


"Ada apa sebenarnya, Daddy?"


"Nenekmu tadi malam sudah meninggal."


Jedarr...


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Queen benar-benar sangat terkejut dengan kematian Neneknya. Orang yang sudah menyayangi Queen sejak kecil, orang yang sudah menjaga dan selalu membelanya kini telah pergi meninggalkannya bahkan Queen belum sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya.


Airmata Queen terus berjatuhan, dia menangis terus-menerus dan Daddy Darwis pun perlahan memeluk Queen.


"Nenekmu menyerahkan rumah sakit dan rumahnya untukmu, Queen. Semua hartanya dia wariskan untukmu," seru Daddy Darwis.


Queen semakin sesenggukan, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis.


Akhirnya setelah lama menangis, Queen pun tertidur mungkin Queen capek menangis terus.


"Rifki, lebih baik sekarang kamu makan dulu soalnya kamu dari kemarin belum makan," seru Mommy Vivian.


"Tapi Mom----"


"Sudah sana, mumpung Queen tertidur dan kami yang akan jaga Queen."


Akhirnya dengan terpaksa, Rifki pun memutuskan untuk makan di kantin rumah sakit. Rifki memesan makanan, dan sedikit demi sedikit mulai memasukan makanannya ke dalam mulutnya.


Rifki menyalakan ponselnya, dia mengotak-ngatik ponselnya dan tidak lupa membuka Instagram karena banyak sekali yang mengirim pesan kepadanya.


Seketika mata Rifki melotot, dadanya sesak, dan jantungnya berdetak tak karuan saat melihat foto yang terpampang dalam postingannya.


"Kapan aku membuat postingan ini? perasaan aku tidak pernah memposting foto seperti ini?" batin Rifki.

__ADS_1


Rifki mulai mengingat-ngingat kejadian kemarin, hingga ingatannya sadar saat Widi berusaha mendekatinya dan ponselnya tertinggal di meja kantin.


"Ah sial, ini pasti kerjaannya Widi. Pantas saja sikap Queen berubah sama aku, jadi ini masalahnya. Awas kamu Widi, kamu benar-benar keterlaluan," geram Rifki.


__ADS_2