
Malam pun tiba....
"Ma, apa Rifki sudah menikah?" tanya Safa.
"Sepertinya belum, Mama juga kurang tahu soalnya semenjak kamu memutuskan kabur di hari pernikahan kamu dan Rifki, semua orang membenci Mama begitu pun dengan Mama yang malu kalau keluar rumah."
"Maafkan Safa, Ma. Gara-gara Safa, Mama dan Ayah yang harus menanggung malu," sesal Safa.
"Sebenarnya hal yang bikin kami malu itu, ya kepada keluarga Rifki," seru Ayah Safa.
"Sepertinya Safa harus datang ke rumah Rifki untuk meminta maaf."
"Ya harus itu, karena bagaimana pun yang salah itu kamu dan kasihan Rifki," sahut Ayah Safa.
Safa benar-benar menyesal dan merasa bersalah banget kepada Rifki.
"Aku rindu sama kamu Rifki, pasti sekarang kamu gagah banget karena sudah menjadi seorang polisi," batin Safa.
Sementara itu, di rumah Rifki...
Rifki dan kedua orangtuanya sedang makan malam bersama.
"Rifki, kamu sudah dengar kabar belum?" tanya Ibu Nur ragu-ragu.
"Dengar kabar apa, Bu?"
Bu Nur dan Ayah Haris saling pandang satu sama lain.
"Safa sudah kembali."
Seketika Rifki menghentikan makannya dan tampak terdiam untuk beberapa detik, hingga Rifki pun kembali melanjutkan makannya.
"Memangnya kenapa kalau dia kembali Bu? Rifki sudah tidak peduli lagi, apalagi sekarang dia sudah mempunyai suami kan? mungkin saja dia pulang ke sini karena ingin menunjukan kalau dia saat ini sudah bahagia dengan suami kayanya itu," seru Rifki dengan dinginnya.
"Yang Ibu dengar dari Ibu-ibu tadi, kalau Safa pulang sendirian dan Safa juga katanya terlihat kurus dan tidak terawat, apa mungkin Safa sudah dicampakkan oleh suaminya."
"Hus, Ibu kalau bicara jangan sembarangan, bagaimana kalau dia atau pun keluarga dia dengar," seru Ayah Haris.
Rifki menyunggingkan sedikit ujung bibirnya. "Rifki sudah tidak peduli lagi dengan keadaan dia Bu, karena untuk saat ini yang ada di hati Rifki hanyalah Queen dan Rifki akan segera melamar Queen."
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau Pak Darwis tidak merestui hubungan kalian?" seru Ayah Haris.
"Queen itu hanya dekat dengan Nenek Arini, Ayah. Jadi, Rifki hanya perlu restu dari Nenek Arini saja."
"Tidak bisa seperti itu Rifki, bagaimana pun Queen masih punya orangtua dan kamu, kalau memang kamu berniat ingin menikahi Neng Queen, kamu harus minta izin dulu kepada kedua orangtuanya," sahut Ayah Haris.
"Rifki juga sudah pernah membicarakan itu kepada Queen, tapi Queen melarang Rifki karena katanya Queen tidak butuh restu dari mereka."
"Kasihan sekali Neng Queen, dia selalu diperlakukan tidak adil oleh kedua orangtuanya dan sekarang membuat dia membenci kedua orangtuanya itu," seru Ibu Nur.
Setelah selesai makan malam, Rifki pun masuk ke dalam kamarnya. Rifki duduk di ujung ranjang dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sial, ngapain dia kembali lagi ke sini?" geram Rifki.
Rifki benar-benar sangat membenci Safa, semenjak Safa meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka, Rifki sudah berjanji dalam dirinya sendiri kalau dia akan membenci Safa seumur hidupnya karena rasa sakit dan rasa malu yang dia dan keluarganya tanggung membuat Rifki sangat membenci Safa.
***
Keesokan harinya...
Safa sudah terlihat bangun dan mandi, lalu setelah itu dia dandan di depan cermin.
Safa terus saja mematut wajah dan penampilannya di depan cermin, dia akan pura-pura ke warung untuk bertemu dengan Rifki karena kebetulan rumah Rifki itu bersebrangan dengan warung.
"Aku yakin, Rifki pasti akan jatuh cinta lagi sama aku karena cinta Rifki sama aku itu sangatlah besar."
Lagi-lagi Safa bergumam dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Setelah selesai berdandan, Safa pun pamit kepada kedua orangtuanya untuk pergi ke warung.
Sudah menjadi rutinitas, di daerah perkampungan pagi-pagi semua orang sudah bangun. Bahkan para pemuda berkumpul di halaman salah satu rumah, untuk berjemur tubuh mereka sembari ngopi dan berbincang-bincang ria.
Safa sengaja berjalan lenggak-lenggok ke hadapan mereka dan menyunggingkan senyumannya, tapi sayang tidak ada satu pun pemuda itu melirik ke arah Safa.
"Sial, kenapa mereka jadi cuek seperti itu sih? padahal dulu, mereka mengejar-ngejar aku," batin Safa dengan kesalnya.
"Itu si Safa, kan?"
"Iya."
"Masa sudah menikah dengan orang kaya, tubuhnya justru jadi kurus gitu sih? mana sekarang wajahnya pun kelihatan sudah tua, beda banget sama dulu."
__ADS_1
"Kata Emak ku, si Safa sudah jadi janda makanya dia pulang ke sini."
"Wah, bagus dong ini adalah kesempatan aku buat deketin Safa lagi."
Salah satu temannya menoyor kepala dia. "Kamu lupa ya, dulu aja si Rifki yang tampangnya ganteng ditinggalin sama dia demi pria kaya, apalagi kamu yang mempunyai tampang pas-pasan dan kerjaan serabutan kaya gitu, mana mau si Safa sama kamu bahkan sepertinya melirik kamu pun, dia ogah."
Semuanya pun tertawa, begitulah celetukan-celetukan yang terdengar dari sekelompok pemuda itu.
Tidak lama kemudian, Safa pun sampai di warung. Ibu-ibu yang sedang berbelanja tampak menatap sinis kepada Safa.
"Selamat pagi Ibu-ibu, apakabarnya? sudah lama ya, tidak bertemu," seru Safa dengan ramahnya.
Ibu-ibu itu bukanya menjawab sapaan Safa, mereka malah asyik berbelanja seolah-olah tidak memperdulikan Safa.
"Hai Safa, ngapain kamu pulang lagi ke sini? apa kamu sudah dibuang ya, sama suami kayamu itu?"
"Ya pastilah dibuang Bu Aas, orang dia pulang ke sini gak bawa apa-apa cuma bawa tas doang."
"Kasihan sekali ya, memang benar karma masih berlaku di dunia ini. Buktinya dia sudah menyakiti hati Rifki dan keluarganya dan sekarang karmanya, dia dibuang sama pria kaya itu tanpa sepeser pun uang."
"Sedangkan Rifki, sekarang dia sedang bahagia karena bisa mendapatkan Bu dokter cantik dan Neng Queen itu cantiknya luar dalam."
Mendengar celetukan-celetukan dari Ibu-ibu itu, Safa tampak mengepalkan kedua tangannya bahkan airmatanya pun sudah mulai menetes.
Tanpa banyak bicara lagi, Safa pun memilih berlari dan meninggalkan warung.
"Keterlaluan mereka, memangnya mereka itu siapa bisa seenaknya menghakimi aku seperti itu?" batin Safa dengan terus berlari pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumahnya, Safa langsung duduk di sofa dengan menghapus airmatanya dengan kasar.
"Ya Allah, kamu kenapa Safa?"
"Ibu-ibu di sini sungguh sangat menyebalkan Ma, mereka menghina Safa habis-habisan," sahut Safa.
"Makanya Safa, semenjak kejadian itu, Mama tidak pernah belanja ke warung karena Mama malu dan sakit hati kalau harus mendengar ucapan-ucapan mereka. Maka dari itu, Mama selalu belanja ke pasar supaya Mama tidak bertemu dengan mereka."
Safa pun memeluk Mamanya itu, Safa teringat akan satu nama yang disebutkan oleh Ibu-ibu tadi.
"Queen? siapa Queen? Rifki gak boleh dekat dengan siapa pun, karena Rifki akan kembali kepadaku," batin Safa.
__ADS_1