
1 bulan kemudian....
Kondisi Putri sudah mulai membaik, bahkan dia pun sudah pulang dari rumah sakit tapi sampai saat ini Putri belum tahu kalau dia sudah bercerai dengan Alfa.
"Mom, Dad, Kak Alfa ke mana sih? sudah satu bulan ini Putri tidak melihatnya? masa iya Kak Alfa ada perjalanan bisnis sampai satu bulan," seru Putri.
Daddy Darwis hanya diam saja, begitu pun dengan Mommy Vivian yang merasa bingung harus bicara dimulai dari mana.
"Kenapa kalian diam saja?"
Perlahan Daddy Darwis menghampiri Putri dan duduk di samping Putri kemudian Daddy Darwis menggenggam tangan Putri.
"Sayang, dengarkan Daddy. Sebenarnya kamu dan Alfa sudah bercerai, Daddy yang sudah memutuskan supaya kamu dan Alfa bercerai."
"Apa? Daddy jangan bercanda, ini gak lucu," sahut Putri dengan airmata yang menetes dari matanya.
"Sayang, ini serius Daddy tidak bercanda. Alfa tidak pantas untukmu, lagipula kamu tidak tahu apa yang sudah Alfa lakukan kepada Queen kakakmu."
"Memangnya Kak Alfa sudah melakukan apa kepada Kak Queen?" tanya Putri menghapus airmatanya dengan kasar.
Daddy Darwis pun menceritakan semuanya kepada Putri, dan Putri tampak menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang diceritakan Daddynya itu.
"Tidak Dad, Putri tidak percaya dengan apa yang diucapkan Daddy, pasti Kak Queen yang sudah menggoda Kak Alfa dan dia membalikan fakta supaya Putri bercerai dengan Kak Alfa dan pada akhirnya dia yang akan menikah dengan Kak Alfa," teriak Putri.
"Stop Putri! berhenti kamu menyalahkan kakakmu terus, Queen bukan anak yang seperti itu dan Daddy pun sudah sangat menyesal karena selama ini Daddy selalu menyalahkan kakakmu!" bentak Daddy Darwis.
"Daddy jahat, kenapa Daddy membiarkan Kak Alfa melayangkan gugatan cerainya kepada Putri?"
"Putri, kamu harus sadar kalau Alfa itu tidak mencintaimu bahkan selama menikah denganmu pun, Alfa tidak pernah bersikap baik kepadamu jadi buat apa kamu mempertahankan pria yang sama sekali tidak memperdulikan kamu, Putri."
Tiba-tiba Putri menutup mulutnya dan perlahan melangkahkan kakinya dengan terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Putri muntah-muntah membuat kedua orangtuanya panik.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mommy Vivian dengan memijit tengkuk leher anaknya itu.
"Perut Putri mual, Mom."
"Dad, cepat bawa Putri ke rumah sakit."
Daddy Darwis pun dengan cepat mengangkat tubuh Putri dan segera membawanya ke rumah sakit, Daddy Darwis dan Mommy Vivian takut kalau penyakit ginjalnya kembali terasa, soalnya gejala yang sering muncul saat ginjalnya kambuh adalah dengan muntah-muntah.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Seperti biasa, Putri langsung ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam.
"Mudah-mudahan anak kita baik-baik saja, Dad."
__ADS_1
"Amin."
Tiba-tiba seorang dokter berlari dan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan Putri membuat kedua orangtua Putri mengerutkan keningnya.
"Ada apa, Dad?"
"Tidak tahu."
Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar. Mommy Vivian dan Daddy Darwin segera menghampirinya.
"Bagaimana dengan kondisi Putri, dok?" tanya Mommy Vivian dengan cemasnya.
"Bapak dan Ibu bisa ikut ke ruangan saya."
Mereka pun segera mengikuti langkah dokter yang menangani Putri ke ruangannya.
"Silakan duduk."
Keduanya duduk dengan perasaan yang sangat tidak menentu.
"Bapak, Ibu, ternyata saat ini Putri sedang hamil."
Jedaaaaarrrrr...
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, keduanya sangat terkejut.
"Iya Pak, saat ini usia kandungannya baru menginjak dua Minggu."
"Tapi, bagaimana dengan keadaan Putri? sekarang kan, kondisi dia sedang tidak baik-baik saja?" seru Mommy Vivian.
"Tadi saya dan Dr.Elis sudah memeriksanya dan Putri menginginkan mempertahankan kandungannya, kita do'akan saja semoga Putri dan anaknya sehat-sehat saja."
Setelah berbincang-bincang, Mommy Vivian dan Daddy Darwis pun masuk ke dalam ruangan rawat Putri. Terlihat Putri sedang duduk di atas ranjang pasien dengan tatapan kosongnya.
"Sayang."
"Putri hamil, Mom," lirih Putri dengan deraian airmata.
Mommy Vivian memeluk Putri dan ikut meneteskan airmatanya.
"Bagaimana ini Mom, kenapa di saat Putri dan Kak Alfa sudah bercerai, Putri justru hamil."
Mommy Vivian dan Daddy Darwis sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, entah apa yang harus mereka lakukan sedangkan sekarang Alfa sudah pergi entah ke mana karena kedua orangtua Alfa sama sekali tidak memberitahukannya.
Ditambah dengan kondisi Alfa yang sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, sayang."
"Pokoknya Putri ingin mempertahankan bayi ini Mom, apa pun yang terjadi ke depannya, Putri akan tetap mempertahankannya," seru Putri dengan deraian airmata.
"Iya sayang, terserah kamu saja karena Mommy akan selalu ada di sampingmu."
Daddy Darwis mengusap ujung matanya yang sudah berair, sungguh saat ini kondisi keluarganya sedang tidak baik-baik saja.
***
Sementara itu di perkampungan Nenek Arini...
Hubungan Queen dan Rifki berjalan dengan sangat baik, bahkan hubungan mereka saat ini sedang manis-manisnya.
Semenjak jadian dan menjalin hubungan, Rifki tidak membiarkan Queen berangkat dan pulang dari rumah sakit sendirian karena dia sendiri yang akan antar jemput Queen.
Saat ini Rifki sedang menunggu Queen di rumah makan Padang yang berada di depan rumah sakit.
"Maaf, aku telat soalnya barusan ada pasien yang harus aku tangani dulu," seru Queen dengan duduk di samping Rifki.
"Tidak apa-apa, aku juga baru datang kok. Oh iya kamu mau makan sama apa?"
"Sama ayam aja deh."
Rifki pun menghampiri pemilik rumah makan dan memesan dua porsi nasi untuknya dan untuk Queen.
"Maaf ya sayang, aku hanya bisa ngajak kamu makan di tempat seperti ini," seru Rifki.
Queen mengusap pipi Rifki. "Tidak apa-apa, mau di restoran atau pun tempat makan seperti ini, aku tidak mempermasalahkannya yang penting makannya bareng sama kamu."
"Idih, Bu dokter bisa-bisanya gombal seperti itu," seru Rifki dengan mengacak-ngacak rambut Queen.
"Kok gombal sih? aku gak gombal, waktu di Itali saja aku sering makan di pinggir jalan jadi aku sudah terbiasa makan seperti ini."
"Iya-iya, aku percaya."
Tidak lama kemudian pesanan mereka pun datang, Queen yang memang perutnya sudah lapar langsung melahap makanan yang ada di hadapannya.
"Ya Allah, pelan-pelan makannya sayang, aku gak bakalan minta kok," seru Rifki dengan mengusap bumbu ayam yang belepotan.
"Hehehe...maaf, habisnya aku lapar."
"Dasar, makan yang banyak."
Rifki kembali mengelus kepala Queen, sungguh Queen merasa sangat bahagia bisa kenal dengan Rifki. Rifki begitu sangat perhatian dan dewasa sehingga selalu memanjakan Queen.
__ADS_1
Queen tidak butuh harta dan tahta karena yang Queen butuhkan hanyalah kasih sayang serta perhatian. Dan Queen bisa mendapatkan semuanya dari Rifki.