KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 50 Kepergian Putri


__ADS_3

3 bulan kemudian....


Tidak terasa pernikahan Queen dan Rifki sudah menginjak 3 bulan, dan mereka selalu bermesraan sehingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa iri.


Malam ini, Queen tampak menyandarkan kepalanya ke pundak Rifki.


"Sayang, kita sudah 3 bulan menikah, tapi aku belum ada tanda-tanda hamil," seru Queen.


Rifki mengusap kepala Queen dan menciuminya.


"Jangan banyak pikiran sayang, lagipula kita baru menikah 3 bulan banyak di luaran sana yang belum diberi momongan sampai bertahun-tahun."


"Tapi kan, pasti kamu sudah menunggu aku hamil."


"Tidak juga, aku orangnya santai walaupun kamu belum bisa hamil, tapi rasa cintaku tidak akan pernah berkurang sedikit pun kepadamu."


"Terima kasih ya, sayang. Mudah-mudahan secepatnya kita diberi kepercayaan untuk menjadi orangtua."


"Amin."


Tiba-tiba ponsel Queen berbunyi dan tertera nama Daddynya di sana.


📞"Halo, Daddy!"


📞"Queen, bisakah kamu pulang soalnya keadaan Putri sudah semakin memburuk dan Putri ingin sekali bertemu denganmu, Nak."


📞"Apa? baiklah Dad, Queen pulang sekarang."


Queen segera menutup sambungan teleponnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Rifki.


"Kondisi Putri semakin memburuk, aku harus segera pulang."


"Ya sudah, sekarang juga kita pulang ke Jakarta."


Malam ini pun, Queen dan Rifki berangkat menuju Jakarta berserta Nenek Arini. Selama dalam perjalanan, Queen begitu sangat gelisah dan khawatir dia benar-benar takut terjadi kenapa-napa kepada adiknya itu.


Rifki menggenggam tangan Queen. "Jangan khawatir, Putri pasti baik-baik saja," seru Rifki.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya Queen sampai di Jakarta. Queen langsung menuju rumah sakit, karena saat ini Putri sudah berada di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Queen segera berlari menuju ruangan Putri.


"Putri, bagaimana keadaan Putri, Mom?" tanya Queen.


"Kondisinya sudah semakin melemah, sayang. Dan kata dokter, Putri harus segera melahirkan karena kalau bayinya tidak dikeluarkan, akan sangat bahaya," sahut Mommy Vivian.

__ADS_1


Queen menghampiri Putri dan menggenggam tangan Putri.


"Putri, ini Kakak."


Perlahan Putri membuka matanya dan menatap Kakaknya itu. "Kak Queen."


"Kamu harus kuat, demi anakmu. Kakak yakin kamu bisa bertahan lebih lama lagi," seru Queen dengan deraian airmata.


Putri hanya menyunggingkan senyumannya, dia sudah tidak ada tenaga lagi. Rifki mengusap kepala Queen dan menciumi pucuk kepala istrinya itu.


***


Keesokan harinya....


Kondisi Putri semakin memburuk, dan dokter memutuskan untuk mengeluarkan bayi Putri di usia 7 bulan karena kondisi Putri sudah tidak memungkinkan untuk mempertahankan bayinya.


"Dokter, bolehkah aku ikut ke ruangan operasi?" seru Queen dengan deraian airmata.


"Baiklah, anda boleh ikut."


Queen pun segera memakai baju khusus untuk masuk ke ruangan operasi.


"Sayang, aku masuk dulu ya," seru Queen.


"Iya."


"Kamu anak yang kuat Putri, Kakak yakin kamu bisa melewati semuanya."


Queen menciumi pucuk kepala Putri, hatinya begitu sangat sakit melihat kondisi adiknya yang sangat mengkhawatirkan itu.


Tidak lama kemudian, bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu berhasil di keluarkan namun bayi Putri harus segera dimasukan ke dalam inkubator karena lahir secara prematur.


Semua orang yang menunggu di luar, tampak bahagia saat melihat suster membawa bayi Putri walaupun mereka tidak bisa menggendongnya karena harus segera di masukan ke dalam inkubator.


"Selamat Putri, anak kamu laki-laki dan sangat tampan mirip dengan Alfa," seru Queen dengan deraian airmata.


"Kak, Kakak harus janji tolong jaga anak Putri, sayangi dia seperti anak Kakak sendiri karena Putri sudah tidak kuat," lirih Putri.


Queen menggelengkan kepalanya, airmatanya tidak henti-hentinya mengalir.


"Tidak Putri, kamu yang akan merawat anak kamu karena kamu akan sembuh," seru Queen.


"Putri sudah tidak kuat lagi Kak, maafkan Putri yang selama ini sudah jahat sama Kakak. Semoga Kakak bahagia selalu, dan tolong jaga anak Putri."


Tit..tit..tit...


Suara detak jantung Putri semakin melemah, membuat semua dokter panik dan berusaha melakukan pertolongan kepada Putri.

__ADS_1


"Putri, ayo bertahan kamu pasti bisa," seru Queen dengan deraian airmata.


"Beri nama Putera Edison."


Tangan Putri melemah dan terlepas dari genggaman tangan Queen membuat Queen membelalakkan matanya bersamaan dengan bunyi alat rekam jantung yang menandakan kalau Putri sudah meninggal.


"Putri, Putri bangun, kamu tidak boleh pergi begitu saja, anakmu butuh kamu!" teriak Queen dengan deraian airmata.


Suara teriakan Queen sampai terdengar keluar ruangan, membuat semuanya terkejut bahkan Mommy Vivian sudah lemah dalam pelukan Daddy Darwis.


"Maafkan kami, nyawa pasien sudah tidak bisa tertolong lagi," seru dokter lemah.


"Putri bangun Putri, jangan pergi. Kamu harus kuat demi anak kamu," seru Queen dengan tangisannya.


"Anda harus sabar."


Dokter pun segera mengurus Putri dan menutup tubuh Putri dengan kain putih lalu membawanya keluar dari ruangan operasi.


Seketika tangisan Mommy Vivian pecah dan memeluk anak bungsunya itu untuk terakhir kalinya.


"Putri bangun Putri, ini Mommy."


Daddy Darwis membuka penutup wajah Putri, airmatanya menetes dan Daddy Darwis pun mencium kening Putri.


"Selamat jalan Nak, sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Kamu jangan khawatir, kami akan menjaga dan menyayangi anak kamu," seru Daddy Darwis.


Pundak Daddy Darwis bergetar hebat menahan rasa sakit yang begitu teramat sakit melihat salah satu anaknya pergi meninggalkannya.


Sedangkan Queen menangis sejadi-jadinya dipelukkan Rifki.


Semua keluarga membawa Putri pulang ke rumah dan segera memakamkan Putri. Queen tidak henti-hentinya menangis.


"Sudah sayang, jangan nangis terus semua manusia itu pasti akan pergi. Ikhlaskan kepergian Putri, biarkan Putri tenang," seru Rifki.


Queen sudah tidak bisa bicara lagi, dan hanya bisa memeluk suaminya itu. Setelah selesai pemakaman, Queen meminta Rifki untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Queen ingin melihat keponakannya.


Sesampainya di rumah sakit, Queen hanya bisa melihat Baby Putra dari luar.


"Tumbuhlah menjadi anak yang pintar, Nak. Mami akan menjaga kamu dan membesarkan kamu," seru Queen.


Rifki menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan Queen.


"Sayang, bolehkan aku merawat Putra?" seru Queen.


"Boleh dong sayang, mulai sekarang Putra adalah anak kita," sahut Rifki.


"Terima kasih, sayang."

__ADS_1


Queen kembali memeluk suaminya itu, sungguh Queen sangat bahagia saat Rifki mengizinkan Queen merawat Putra.


__ADS_2