
"Sayang, ayo kita turun katanya tadi kamu lapar."
"Mas duluan saja ke bawah, perut aku tiba-tiba sakit, aku mau ke kamar mandi dulu."
"Kamu kenapa, lebih baik diperiksa dulu kalau kamu sakit."
"Aku tidak apa-apa Masku sayang, lagipula kamu lupa kalau aku itu seorang dokter jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa cepat panggil aku."
"Iya."
Queen mendorong tubuh suaminya itu untuk segera keluar dari dalam kamarnya, sedangkan Queen cepat-cepat mengambil alat tes kehamilan di dalam laci.
Queen memang menyimpan beberapa tes kehamilan di dalam lacinya karena dia memang rajin melakukan tes kehamilan, tapi akhir-akhir ini dia lupa dan tidak ingat sama sekali.
Queen berdiri di depan pintu kamar mandi sembari memegang benda kecil itu.
"Bismillah, semoga kali ini aku hamil," gumamnya.
Queen pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan tes kehamilan, jantung Queen berdetak tak karuan sungguh Queen merasa sangat takut dan kecewa kalau nanti hasilnya tidak sesuai harapan.
Perlahan Queen mengangkat alat kecil itu dengan memejamkan matanya, sedikit demi sedikit Queen membuka matanya dan ternyata terlihat dua garis merah di sana.
Queen menutup mulutnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Ternyata ini jawabannya, pantas saja akhir-akhir ini aku sering banget merasa kelaparan tiba-tiba, dan aku juga selalu ingin ngemil terus," gumam Queen.
Queen benar-benar sangat bahagia, dia pun keluar dari kamar mandi dan segera menghapus airmatanya.
Queen menyimpan alat tes kehamilan itu, lalu turun ke bawah untuk makan bersama suami dan kedua orangtuanya. Queen tidak bisa berhenti menyunggingkan senyumannya saking bahagianya.
"Sayang, bagaimana perut kamu? masih sakit?" tanya Rifki khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa kok."
Malam ini Queen makan begitu sangat lahap, membuat Rifki dan kedua orangtua Queen saling tatap satu sama lain saking merasa anehnya dengan Queen.
"Sayang, pelan-pelan makannya," seru Mommy Vivian.
"Queen lapar, Mom."
"Iya tahu, tapi pelan-pelanlah nanti tersedak."
__ADS_1
Queen tidak mendengarkan ucapan Mommynya, dia pun melanjutkan kembali makannya dengan lahap.
Setelah kenyang, Queen pun mengajak Rifki untuk masuk ke dalam kamar.
"Mas."
Queen masih duduk di kursi tapi kedua tangannya terangkat seolah-olah minta di gendong sama Rifki.
"Apa?"
"Gendong," sahut Queen dengan manjanya.
"Hah, gendong?"
Rifki menoleh ke arah Mommy Vivian dan Daddy Darwis tapi mereka justru mengangkat kedua bahu mereka tanda mereka pun tidak tahu kenapa Queen jadi manja seperti itu.
"Buruan Mas."
"Ah, iya."
Rifki pun berjongkok di hadapan Queen dan Queen dengan antusiasnya langsung naik ke punggung Rifki.
"Kamu kenapa sih, kok akhir-akhir ini jadi manja banget?" tanya Rifki.
"Bukanya gak boleh, merasa aneh saja biasanya kamu kan mandiri dan bahkan kamu gak mau nyusahin orang, tapi sekarang sifat kamu berubah manja banget."
Queen tidak menjawab ucapan Rifki, dia justru menyunggingkan senyumannya. Berbeda dengan kedua orangtua Queen yang merasa miris melihat Queen, selama ini Queen memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka jadi mereka pikir, kalau saat ini Queen sedang dalam fase di mana dia ingin di manja.
"Kasihan sekali kamu Nak, baru sekarang kamu bersikap manja seperti itu, maafkan kami yang sudah jahat selama ini," seru Mommy Vivian.
Daddy Darwis menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Mungkin saat ini Queen sedang ingin dimanja, kita kabulkan saja apa keinginan dia karena untuk saat ini hanya Queen harta yang paling berharga untuk kita," sahut Daddy Darwis.
Sesampainya di kamar, Rifki merebahkan tubuh Queen di atas tempat tidur.
"Mas, mau ke mana?"
"Kebelet pengen pipis, kenapa, mau ikut? atau mau dipipisin?" seru Rifki dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih, dasar polisi mesum."
Rifki terkekeh dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, Queen cepat-cepat mengambil alat tes kehamilannya lalu menyembunyikannya di balik bantal.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Rifki pun keluar dan tanpa di sangka Rifki langsung menyerang Queen dengan meni*dih tubuh Queen membuat Queen panik.
"Mas, minggir."
"Kenapa? bukanya kamu selalu ingin dekat sama aku. Asalkan kamu tahu, kalau kamu selalu nempel sama aku, itu akan berbahaya untuk kondisi kamu sayang. Kamu akan mengalami kelelahan yang berkepanjangan."
"Mas minggir nanti perut aku tertekan," seru Queen panik.
Rifki mengerutkan keningnya karena bingung dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Apa sih, aku gak ngerti?" seru Rifki.
Queen pun mendorong tubuh Rifki sehingga Rifki berguling ke samping, lalu Queen mengambil sesuatu yang dari tadi dia sembunyikan.
Queen menyerahkan benda kecil itu kepada Rifki, awalnya Rifki bingung tapi sedetik kemudian Rifki membelalakkan matanya dan menatap Queen dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu hamil, sayang?" tanya Rifki tidak percaya.
"Iya, di dalam perut ini ada calon anak kita."
Queen mengusap perutnya yang terlihat masih rata itu, mata Rifki mulai berkaca-kaca dia langsung bangun dan menghampiri istrinya.
"Serius, kamu hamil sayang?"
"Iya, aku hamil."
Rifki pun memeluk istrinya dengan sangat erat, airmatanya tidak bisa dibendung lagi Rifki menangis di pelukan Queen membuat Queen ikut menangis juga.
Rifki melepaskan pelukannya, lalu beralih mengusap perut Queen yang masih rata itu.
"Terima kasih sayang, sudah hadir di perut Mami kamu, Papi sangat bahagia dan tidak sabar menunggu kamu lahir," seru Rifki.
Queen tersenyum dan mengusap kepala Rifki, Rifki sampai beberapa kali mencium perut Queen saking bahagianya.
Rifki menciumi seluruh wajah Queen. "Terima kasih sayang, akhirnya penantian dan kesabaran kita berbuah manis, kita akan segera menjadi orangtua."
"Iya, Mas."
Rifki dan Queen benar-benar sangat bahagia, setelah berbagai masalah yang menimpa rumah tangga Rifki dan Queen, akhirnya mereka diberikan kado spesial dari Allah.
Rifki kembali memeluk Queen, malam itu Rifki tidur dengan memeluk perut Queen. Dia terus saja mengusap perut istrinya itu, kebahagiaannya kali ini tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.
"Besok kita ke rumah sakit ya? aku ingin tahu kondisi kehamilan kamu," lirih Rifki.
__ADS_1
Queen menganggukkan kepalanya, perlahan keduanya mulai memejamkan mata dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka terlelap.