KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 65 Sikap Aneh Queen


__ADS_3

Queen sudah mulai bekerja di rumah sakit itu.


"Astaga, kenapa akhir-akhir ini aku gampang sekali lapar ya," gumam Queen.


Queen pun bangkit dari duduknya menuju mini market yang ada di samping rumah sakit, Queen membeli berbagai cemilan yang dia mau.


Ini sedikit aneh karena Queen tidak seperti biasanya, Queen sebenarnya bukan tipe wanita yang suka ngemil, dia sangat menjaga kesehatan dan dia tahu kalau terlalu makan makanan instan tidak baik untuk tubuhnya.


Tidak terasa satu keranjang penuh dengan cemilan yang Queen mau, dia berjalan dengan senyuman yang mengembang.


"Ya Allah, kenapa aku belanja cemilan sebanyak ini," gumam Queen.


Queen pun mulai membuka satu persatu cemilan yang dia beli, Queen seperti orang yang kesurupan, dia tidak bisa berhenti menguyah entah apa yang saat ini sedang terjadi di dalam diri Queen.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Rifki segera meluncur ke kantor Daddy Darwis karena siang ini Daddy Darwis ingin memperkenalkan Rifki kepada semua karyawannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Rifki pun sampai di depan kantor Daddy Darwis. Daddy Darwis menyuruh Rifki untuk langsung menuju ruangannya, di saat Rifki masuk ke dalam kantor, semua mata wanita menatap takjub kepada Rifki namun sayang, Rifki tidak menghiraukannya.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Siang, Dad."


"Rifki, ayo masuk Nak."


Rifki pun duduk di hadapan Daddy Darwis dan Daddy Darwis terlihat sangat bahagia.


"Akhirnya kamu datang juga, maafkan Daddy yang sudah mengganggu waktu makan siangmu."


"Tidak apa-apa kok, Dad."


"Oh iya, Daddy ingin kamu belajar bisnis juga karena mau tidak mau, nanti perusahaan ini akan menjadi milik Queen dan Putra, tapi kamu tahu sendiri kan, bagaimana Queen? dia lebih memilih jadi dokter dibandingkan jadi pengusaha, jadi mau tidak mau kamu yang harus belajar bagaimana cara mengelola perusahaan. Daddy sudah sangat percaya sama kamu jadi, kamu jangan menghancurkan kepercayaan Daddy."

__ADS_1


"Insya Allah Dad, Rifki akan mengikuti semua perintah Daddy."


Tiba-tiba, pintu ruangan Daddy Darwis pun ada yang mengetuk.


"Masuk."


"Selamat siang, Daddy."


Rifki tampak mengerutkan keningnya saat melihat Alfa juga datang ke sini.


"Silakan duduk, Alfa."


"Terima kasih, Daddy."


Walaupun Alfa dan Putri sudah bercerai, tapi Alfa tetap memanggil Daddy kepada Daddy Darwis.


"Begini, perusahaan ini akan di pegang oleh Rifki dan kamu adalah perwakilan Putra karena sebelum usia Putra 21 tahun, kamu harus urus perusahaan ini nanti, di saat Putra sudah 21 tahun, baru perusahaan ini akan menjadi miliknya. Jadi Daddy mohon, kalian harus bekerja sama untuk memajukan perusahaan ini. Dan untuk kamu Rifki, Alfa ini jauh lebih berpengalaman di bidang bisnis jadi kalau ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa tanya kepada Alfa."


"Baik Daddy."


Daddy Darwis pun mengajak Rifki dan Alfa berkeliling di kantornya dan sekaligus memperkenalkan mereka kepada semua karyawan. Semua karyawan menyambut mereka dengan suka cita, apalagi karyawan wanita mereka tampak kegirangan karena sebentar lagi mereka akan sering bertemu dengan pria-pria tampan.


Setelah selesai, Daddy Darwis pun mengajak Rifki dan Alfa untuk makan siang bersama di kantin kantor.


"Semoga ke depannya kalian bisa solid dalam mengurus perusahaan ini."


"Insya Allah, Daddy."


Sembari makan, Rifki pun mengirimkan pesan kepada istrinya.


"Dad, maaf sepertinya Rifki pergi duluan soalnya Rifki hanya izin satu jam gak enak kalau kelamaan, lagipula Rifki kan baru di sini."


"Ya sudah, gak apa-apa kamu kembali saja ke kantor."

__ADS_1


Rifki pun pamitan kepada Daddy Darwis tanpa memperdulikan Alfa, membuat Alfa tersenyum. Alfa tahu, kalau Rifki itu sangat cemburu kepadanya karena Alfa selalu mendekati Queen tapi pada kenyataannya Alfa mendekati Queen hanya untuk memanas-manasi Rifki saja.


Walaupun Alfa dulu sangat mencintai Queen melebihi apa pun bahkan Alfa sampai depresi, tapi untuk saat ini Alfa sudah bisa merelakan Queen dengan pria lain karena Alfa lebih mementingkan kebahagiaan Queen daripada perasaannya.


***


Sore pun tiba...


Rifki sudah menunggu di depan rumah sakit dan tidak membutuhkan waktu lama, Queen pun berlari dan langsung memeluk suaminya yang sedang berdiri di samping mobil itu.


"Ya Allah sayang, jangan lari-lari bagaimana kalau kamu jatuh," seru Rifki.


"Aku rindu sekali dengan suamiku."


"Aku juga rindu sama istriku."


"Ayo kita pulang, aku sudah lapar."


Rifki pun dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Queen dan segera melajukan mobilnya.


"Apa kita mau mampir ke restoran dulu?" tanya Rifki.


"Tidak usah, aku sudah menyuruh si Bibi buat masak balado ayam jadi kita langsung pulang saja."


"Tumben."


Queen hanya bisa cengengesan, dan Rifki mengacak-ngacak rambut Queen dengan gemasnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah. Queen dan Rifki segera masuk ke dalam kamar mandi, dan sudah dipastikan apa yang akan terjadi jika mereka mandi bersama.


Setelah selesai mandi, Queen pun hendak mengambil baju tapi matanya melirik ke arah kalender yang ada di atas nakas. Queen melihatnya dan mengingat-ngingat, seketika matanya melotot sembari menutup mulutnya.


"Aku sudah telat datang bulan, jangan-jangan kelakuan aneh aku akhir-akhir ini karena aku sedang hamil," batin Queen.

__ADS_1


Queen mulai mengusap perutnya yang masih rata itu.


"Mudah-mudahan memang benar, kalau aku sedang hamil," batin Queen.


__ADS_2