KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 22 Berdebar


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya, Queen pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tatapannya lurus ke atas langit-langit kamar dan membayangkan kejadian yang terjadi barusan.


Queen menyunggingkan senyumannya. "Dia seorang polisi, tapi kok kelakuannya konyol dan menyebalkan sih," gumam Queen.


Saat ini Nenek Arini sedang memperhatikan semua orang yang sedang melanjutkan pembuatan kolam, tidak lama kemudian Rifki datang sudah segar karena sudah mandi.


"Bagaimana dengan pembuatan kolamnya Nek? apa berjalan dengan lancar?" tanya Rifki.


"Eh, Nak Rifki. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar."


"Nak Rifki, bisa kita bicara sebentar?" sambung Nenek Arini.


"Bisa Nek."


Nenek Arini pun mengajak Rifki duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari kolam ikan.


"Nak Rifki, bolehkan Nenek minta tolong kepadamu?"


"Boleh dong Nek, Nenek mau minta tolong apa sama Rifki?"


"Bisakah kamu bantu Nenek untuk menjaga Queen? Nenek mohon sama kamu, walaupun nantinya ada Daddynya ke sini dan berbuat kasar lagi sama Queen, tolong kamu bertindak tegas saja karena Nenek sudah tidak tega melihat Queen diperlakukan kasar terus oleh Daddynya."


"Maaf Nek, sebenarnya ada masalah apa? kenapa Papanya Bu Dokter sampai melakukan hal kasar seperti itu?"


"Nenek juga tidak tahu Rifki, kenapa Darwis begitu sangat kasar kepada Queen padahal Queen adalah anak kandungnya sendiri. Queen mempunyai adik yang bernama Putri dan dari lahir sudah di diagnosa mempunyai penyakit gagal ginjal. Kedua orangtuanya lebih memperhatikan Putri dan mengabaikan Queen bahkan sejak TK, SD, SMP, sampai SMA, Queen hanya diperbolehkan home schooling jadi Queen sama sekali tidak mempunyai teman dan menjadi pribadi yang tertutup."


Rifki mendengarkan ucapan Nenek Arini, dia tidak menyangka kalau Queen mempunyai kehidupan yang sangat menderita seperti itu.


"Bahkan Darwis menginginkan Queen kuliah Bisnis karena hanya Queen yang nantinya akan menjadi pewaris dari usaha Darwis, namun Queen tidak mau dan dia memilih kuliah kedokteran. Kamu tahu Nak, 7 tahun Queen kuliah di Italia tapi sepeser pun kedua orangtuanya tidak pernah memberikan uang kepada Queen dan Queen harus banting tulang bekerja siang malam hanya untuk sesuap nasi," seru Nenek Arini dengan deraian airmata.


"Dan kemarin, Nenek lihat Queen bisa tertawa dan itu adalah tawa pertama Queen. Nenek yakin, kalau kamu akan memberikan dampak positif untuk Queen, maka dari itu Nenek mohon sama kamu dekati Queen dan ajak dia ngobrol supaya dia mempunyai semangat lagi kalau punya teman ngobrol."


"Rifki akan berusaha mendekati Bu dokter Nek, mudah-mudahan Bu dokter mau berteman dengan Rifki."


Nenek Arini menepuk pundak Rifki. "Nenek percaya kamu akan bisa membuat Queen ceria seperti wanita yang lainnya."


Rifki menyunggingkan senyumannya, begitu pun dengan Nenek Arini yang sangat berharap banyak kepada Rifki.


Malam pun tiba....


"Nek, mobil sama Pak Darna ke mana?" tanya Queen.


"Ada apa? mobil lagi di bengkel Queen, Pak Darna ada di belakang."


"Queen mau ke mini market sebentar, pembalut Queen habis. Terus bagaimana ini, Queen pergi ke mini marketnya pakai apa dong?" keluh Queen.


Nenek Arini langsung teringat akan Rifki, secara diam-diam Nenek Arini pun mengirim pesan kepada Rifki. Rifki yang saat ini sedang bermain game di ponselnya, langsung melompat kegirangan saat mendapat pesan dari Nenek Arini.


Rifki pun segera mengambil jaket dan juga kunci motornya.


"Kamu mau ke mana Nak? malam-malam begini?" tanya Ayah Haris.


"Di suruh nganterin Queen sama Nenek Arini. Rifki pergi dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, anak itu girang benar rasanya," seru Ayah Haris.


Ibu Nur hanya bisa menyunggingkan senyumannya, dengan semangat 45 Rifki pun segera meluncur menuju rumah Nenek Arini.

__ADS_1


Jarak rumah Rifki dan rumah Nenek Arini sangatlah dekat, sehingga tidak membutuhkan waktu lama Rifki pun sampai di depan rumah Nenek Arini dan dia segera mengirimkan pesan kepada Nenek Arini.


"Queen!"


"Iya Nek."


"Itu di depan sudah ada orang yang mau mengantarkan kamu ke mini market."


"Siapa Nek?"


"Lihat saja ke depan."


"Ya sudah, Queen pergi dulu ya Nek."


"Iya, hati-hati."


Queen pun segera berlari ke luar, dan menghampiri orang yang sedang menunggu di depan gerbang.


"Loh, kamu? ngapain kamu di sini?" tanya Queen.


"Aku disuruh Nenek Arini buat nganterin Bu dokter."


"Astaga Nenek, kenapa Nenek sampai ada pikiran menyuruh Polisi ini sih?" batin Queen.


"Ayo naik, aku bakalan anterin Bu dokter."


Queen tidak ada pilihan lain lagi selain ikut sama Rifki.


"Ya sudah."


Queen hendak naik, tapi Rifki menahannya. "Tunggu!"


"Kamu harus pakai helm dulu."


Rifki pun turun dari motornya dan memakaikan helm kepada Queen.


"Kenapa harus pakai helm? ini kan sudah malam, mana mini marketnya dekat lagi."


"Helm itu untuk menjaga keselamatan, mau jauh atau dekat yang namanya berkendara harus pakai helm."


"Iya deh, susah kalau berurusan dengan Pak Polisi," seru Queen.


"Ayo naik."


Queen pun akhirnya naik ke atas motor Rifki, Rifki mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saking bahagianya Rifki membonceng Queen, dia malah melamun dan senyum-senyum sendiri sehingga dia tidak sadar kalau di depannya ada yang mau nyebrang.


Spontan Rifki menarik remnya dengan mendadak membuat Queen kaget dan langsung memeluk perut Rifki.


"Astagfirullah, bisa tidak jalannya hati-hati. Katanya Pak Polisi tapi ngendarai motor tidak hati-hati!" sentak Queen dengan kesalnya.


Rifki bukanya marah, justru malah senyum-senyum gak jelas membuat Queen mengerutkan keningnya.


"Orang kesal juga, malah senyum-senyum."


Rifki melihat ke arah perutnya yang saat ini melingkar tangan Queen, begitu pun dengan Queen yang ikut melihat juga ke arah pandang Rifki.


Queen membelalakkan matanya, dan dengan cepat melepaskan tangannya. Tapi Rifki menahan tangannya, lagi-lagi Queen melotot.

__ADS_1


"Makanya harus pegangan, kalau tidak pegangan kamu akan jatuh. Namanya juga celaka, tidak ada yang tahu," seru Rifki di hadapan wajah Queen.


Akibat tangan Queen ditarik, otomatis saat ini wajah Queen berada di pundak Rifki dan Rifki begitu dekat dengan wajah Queen, sesaat Queen dan Rifki saling tatap satu sama lain membuat jantung Queen lagi-lagi berdetak tak karuan.


Rifki pun mulai melajukan motornya, untung malam hari jadi, Rifki tidak bisa melihat kalau wajah Queen memerah.


Tidak membutuhkan waktu lama, motor Rifki pun sampai di sebuah mini market.


"Aku tunggu di luar saja," seru Rifki.


Queen melepaskan helmnya dan dengan cepat masuk ke dalam mini market.


"Untung dia tidak ikut, kalau ikut masuk bisa malu aku," gumam Queen.


Queen membeli banyak untuk stok juga, hingga beberapa menit kemudian, Queen pun keluar dan tampak celingukan mencari keberadaan Rifki.


Rifki melambaikan tangannya kepada Queen, Rifki sedang berada di pojokan dan Queen pun menghampirinya.


"Kamu lagi ngapain?"


"Aku lagi makan cilok, sebentar ya, aku habisin dulu."


Queen memperhatikan Rifki yang sedang makan cilok, rasanya Queen ingin sekali mencobanya.


"Kang, pacarnya gak dikasih?" seru tukang cilok.


Rifki melihat ke arah Queen. "Kamu mau?"


"Itu apa?" tanya Queen.


"Ini cilok namanya, enak loh, mau coba?"


Rifki mengulurkan tangannya dan memberikan cilok ke hadapan Queen.


"Ini enak gak?"


"Coba aja."


Queen pun mulai membuka mulutnya dan Rifki memasukan satu cilok ke mulut Queen.


"Bagaimana, enak kan?"


Queen menyunggingkan senyumannya. "Enak banget. Bang, aku mau dong," seru Queen.


"Siap Neng geulis."


Queen pun duduk di kursi plastik yang disediakan di sana, Queen mulai mencoba cilok yang sudah dibuatkan untuknya.


"Enak banget ternyata," seru Queen antusias.


Queen tidak berhenti makan cilok yang baru pertama kali dia rasakan itu, sampai-sampai kecapnya belepotan.


"Pelan-pelan makannya, gak bakalan ada yang minta kok," seru Rifki.


Rifki membersihkan kecap yang belepotan di sudut bibir Queen dengan jempolnya, membuat lagi-lagi jantung Queen berdebar.


"Makan yang banyak, sampai kamu kenyang."

__ADS_1


Queen menyunggingkan senyumannya malu-malu, setidaknya Rifki sudah bisa membuat Queen tersenyum dan itu membuatnya Rifki bahagia.



__ADS_2