
Setelah kematian Putri, Queen harus tinggal sementara di Jakarta sedangkan Rifki terpaksa harus kembali pulang karena pekerjaan Rifki yang tidak bisa ditinggalkan.
📞"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Rifki.
📞"Aku baru saja memberikan Putra susu, dan sekarang dia sudah tidur."
Saat ini Rifki dan Queen sedang video call-an melepaskan rasa rindu yang sudah tidak tertahankan.
📞"Sayang, sudah satu Minggu kita tidak bertemu dan aku sangat merindukanmu," rengek Rifki.
📞"Aku juga sangat merindukanmu. Kamu yang sabar dulu ya, soalnya aku harus mengurus Putra nanti kalau Putra sudah kuat melakukan perjalanan, aku akan bawa Putra pulang ke rumah Nenek."
📞"Besok weekend, dan aku akan ke Jakarta."
📞"Iya, aku tunggu kamu."
📞"Ya sudah, ini sudah malam lebih baik kamu tidur," seru Rifki.
📞"Kamu juga harus tidur."
📞"Iya sayangku, sekarang juga aku langsung tidur. Miss you sayang."
📞"Miss you too."
Rifki pun mengakhiri sambungan video callnya.
***
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali, Rifki pergi menuju Jakarta rasa rindunya kepada sang istri sungguh sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Nek, Rifki berangkat dulu."
"Iya, kamu hati-hati ya Nak."
"Iya Nek, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rifki pun segera melajukan motornya melesat menuju Jakarta, sedangkan Raffi yang saat ini sedang jogging tampak mengerutkan keningnya.
"Mau ke mana dia, pagi-pagi begini? ah iya, aku sudah lama tidak melihat Dr.Queen dia ke mana ya?" gumam Raffi.
Seperti biasa, pagi-pagi Queen sudah sangat sibuk mengurus baby Putra dibantu oleh Mommynya.
"Mommy, Queen mau mandi dulu, nitip Putra ya."
"Iya, sayang."
__ADS_1
Queen pun segera masuk ke dalam kamar mandi, dan tidak membutuhkan waktu lama Queen pun selesai membersihkan tubuhnya.
Queen kembali mengambil Putra dan memandikannya.
"Kamu tampan sekali, sayang," seru Queen dengan menciumi pipi gembul Putra.
Setelah selesai memandikan Putra, Queen membuatkan susu dan memberikannya kepada Putra. Perlahan tapi pasti, mata Putra mulai sayu dan akhirnya Putra pun tidur.
"Jadilah anak yang Sholeh ya Nak, pokoknya kamu jangan khawatir, Mami dan Papi akan selalu menjaga kamu," gumam Queen.
Queen pun menidurkan Putra di kasur bayinya, Queen memperhatikan wajah tampan Putra dan wajahnya mirip sekali dengan Alfa.
Queen tersentak, saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Astagfirullah, Mas. Kamu bikin kaget saja," seru Queen.
Semenjak ada Putra, panggilan Queen kepada Rifki berubah.
"Apakabar sayang."
Queen membalikan tubuhnya dan menangkup wajah Rifki.
"Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?"
Rifki langsung memeluk Queen dengan sangat erat.
"Kabarku tidak baik-baik saja, karena sudah satu Minggu tidak bertemu dengan istriku tercinta," sahut Rifki.
Rifki tidak mau melepaskan pelukannya, dia benar-benar sangat merindukan istrinya.
"Apa kamu sudah sarapan, Mas?"
Seketika Rifki melepaskan pelukannya dan menatap istrinya.
"Belum."
"Ya Allah, ya sudah ayo kita ke bawah dan aku buatkan sarapan untukmu."
Rifki menahan lengan Queen. "Aku tidak mau sarapan."
"Lah, kenapa?"
Tanpa aba-aba, Rifki mengangkat tubuh Queen untung Queen tidak berteriak.
"Apa-apaan sih, Mas?"
"Aku mau sarapan kamu saja."
"Hah."
__ADS_1
Rifki merebahkan tubuh Queen, Rifki sudah satu Minggu puasa dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi menahannya. Akhirnya pagi menjelang siang itu, dilalui dengan kegiatan panas antara Rifki dan Queen.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, 1 bulan sudah Queen berada di Jakarta dan saat ini Queen harus membawa Putra ke kampung halaman Nenek Arini karena Queen juga sudah mempunyai tanggung jawab menjadi seorang dokter.
"Sayang, lebih baik sekarang kamu cari baby sitter untuk Putra karena kamu tidak akan bisa menjaga Putra sendirian," seru Rifki.
"Iya Mas, nanti aku pasang tulisan di klinik mudah-mudahan saja ada yang mau menjadi baby sitter untuk Putra," sahut Queen.
Saat ini Queen sedang memberikan susu untuk Putra dan Rifki duduk di samping Queen sembari terus menciumi kepala Putra. Rifki sangat menyayangi Putra, seperti anaknya sendiri.
"Mudah-mudahan kita juga cepat di kasih baby ya Mas, supaya Putra ada teman," seru Queen.
"Amin, tapi aku harap jangan sekarang-sekarang karena Putra kan masih kecil sayang, nanti kamu malah repot ngurus Putra."
"Memangnya kamu tidak mau cepat-cepat punya baby, Mas?"
"Bukanya tidak mau sayang, aku serahkan semuanya pada Allah. Kalau seandainya kita dikasih rezeki sekarang , Alhamdulillah. Tapi kalau belum dikasih pun, aku tidak akan banyak menuntut sama kamu karena untuk saat ini kita sudah punya Putra," sahut Rifki.
"Terima kasih ya Mas, kamu benar-benar suami yang pengertian banget."
Rifki memeluk Queen dan menciumi seluruh wajah Queen, setelah itu beralih menciumi wajah Putra. Sungguh Queen sangat bahagia dan beruntung mempunyai suami seperti Rifki.
Sementara itu, di gedung balai desa. Raffi duduk termenung di kursi kebesarannya.
"Aku harus membuat Queen dan Rifki berpisah, tapi bagaimana caranya ya?" gumam Raffi.
Raffi benar-benar sudah gila, menginginkan wanita yang sudah menjadi istri orang.
Pagi ini seperti biasa, Queen akan bangun pagi-pagi dan menyiapkan semuanya untuk Putra. Untuk sementara, Queen menitipkan Putra kepada Ibu Nur yang tidak lain adalah mertuanya sendiri.
"Bu, Queen titip Putra dulu ya soalnya Queen belum mendapatkan baby sitter."
"Iya Queen, kamu jangan khawatir Nak, Ibu akan jaga Putra karena Putra kan, cucu Ibu juga."
"Maaf ya Bu, sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, kamu dan Rifki bekerjalah yang tenang jangan memikirkan Putra."
"Baiklah, kalau begitu Queen berangkat dulu. Sayang, Mami sama Papi kerja dulu ya kamu baik-baik di sini sama Nenek dan jangan nakal," seru Queen.
Queen menciumi wajah Putra, begitu pun dengan Rifki yang melakukan hal yang sama. Queen berangkat ke klinik dengan diantar oleh Rifki.
"Nanti pulangnya tunggu aku, ya. Kita pulang bareng."
"Iya Mas."
Rifki memeluk dan mencium Queen, setelah itu dia pun pamitan kepada Queen dan pergi meninggalkan Queen.
__ADS_1
Sementara itu dari kejauhan, Raffi memperhatikan keduanya.
"Puas-puas kan saja hari bahagia kalian, karena tidak lama lagi badai akan menerjang rumah tangga kalian," gumam Raffi dengan senyumannya.