KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 38 Kejutan Untuk Queen


__ADS_3

Malam pun tiba....


Seperti janjinya tadi pagi, Rifki saat ini sudah menunggu Queen karena ingin mengajak Queen dinner.


"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Nenek Arini.


"Rifki ingin mengajak Queen makan malam, Nek."


"Oh."


Tap..tap..tap..


Suara langkah kaki dan heels yang beradu dengan keramik membuat Rifki dan Nenek Arini reflek menoleh ke arah tangga.


Rifki sampai menganga melihat Queen yang tampil dengan sangat cantik. Malam ini Queen menggunakan dress yang tampak melekat sempurna di tubuhnya karena lekukan tubuh Queen terlihat sangat sempurna.


"Masya Allah, cucu Nenek cantik sekali," puji Nenek Arini.


"Terima kasih, Nek."


Rifki masih terdiam dengan memperhatikan Queen tanpa berkedip.


"Hai, katanya mau makan malam, kok malah bengong," seru Queen mengagetkan Rifki.


"Hah, ah iya," sahut Rifki dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Nek, Queen pergi dulu ya."


Queen pun merangkul lengan Rifki tapi Nenek Arini menghentikan langkah keduanya.


"Tunggu!"


"Iya Nek."


"Rifki, kamu bawa mobil Nenek saja, masa iya kamu mau pakai motor sedangkan pakaian Queen seperti itu," seru Nenek Arini dengan menyerahkan kunci mobilnya.


Rifki tersenyum dan mengambil kunci mobil itu. "Nek, Rifki ajak Queen pergi dulu ya."


"Iya Nak, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya."


"Siap Nek."


Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan mobil Nenek Arini, Rifki membukakan pintu mobil untuk Queen.


"Silakan masuk, Tuan Putri."


"Terima kasih."


Rifki mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nenek Arini.


"Malam ini kamu cantik banget, sayang."


"Bukanya setiap hari juga aku sudah cantik ya," sahut Queen dengan senyumannya.


"Iya sih, tapi malam ini kamu benar-benar sangat cantik sampai-sampai aku tidak rela kalau ada pria yang melihatmu."

__ADS_1


"Astaga, gak gitu juga kali."


Beberapa saat kemudian, Rifki pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran dengan gaya out dor itu.


"Tidak apa-apa kan, kalau kita makan di sini?"


"Aku mau makan di mana pun terserah kamu saja."


Rifki pun keluar dari dalam mobilnya dan segera membukakan pintu mobil untuk Queen, Rifki mengulurkan tangannya ke arah Queen dan tentu saja dengan senang hati Queen membalas uluran tangan Rifki.


Mereka berdua masuk ke dalam restoran itu, ternyata benar saja banyak pengunjung di sana yang menatap Queen apalagi para pria, mereka sampai tidak berkedip melihat Queen.


"Astaga, padahal mereka sedang makan dengan pasangan mereka, tapi kenapa mereka masih saja memperhatikanmu," kesal Rifki.


Queen mengusap lengan Rifki dengan lembut lalu menyunggingkan senyumannya.


Rifki mempersilakan duduk kepada Queen, lampu kelap-kelip menambah kesan romantis. Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan buku menu.


"Kamu mau pesan apa, sayang?" tanya Rifki.


"Apa saja, terserah kamu."


"Baiklah. Mba, saya pesan steak sama orange jusnya dua."


"Baik Mas, mohon ditunggu sebentar."


Pelayan itu pun pergi meninggalkan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Rifki menggenggam tangan Queen. "Maaf ya, aku hanya bisa membawamu ke restoran seperti ini."


"Apaan sih, kamu ajak aku jalan-jalan saja aku sudah senang."


"Karena yang aku butuhkan bukan harta dan kemewahan, aku hanya butuh disayangi dan diperhatikan, itu saja sudah cukup untuk aku."


Tidak lama kemudian, pelayan pun datang membawakan pesanan Rifki.


"Selamat menikmati."


"Terima kasih, Mba."


"Kita makan dulu, ya."


Keduanya pun makan dengan lahapnya, bahkan mereka juga saling menyuapi satu sama lain.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan.


"Apa kamu kenyang, sayang? atau kamu mau pesan apa lagi?" tanya Rifki.


"Ya Allah Rifki, perut aku bukan perut karet kali."


Rifki pun terkekeh, tiba-tiba lampu di restoran itu mati membuat Queen panik.


"Rifki, Rif, kamu di mana? kok, tiba-tiba gelap sih?" seru Queen panik.


Queen semakin panik saat tidak ada jawaban sama sekali dari Rifki.


"Rifki kamu ada di mana?"

__ADS_1


Suara Queen sudah mulai bergetar, itu tandanya Queen sudah mulai ketakutan.


Di saat Queen sedang dilanda kepanikan, tiba-tiba lampu restoran itu kembali menyala. Queen sampai terdiam dan terpaku melihat suasana restoran yang kini sudah berubah.


Semua pengunjung restoran yang tadi Queen lihat, sudah berjejer rapi di hadapan Queen sembari menyanyikan lagu ulang tahun.


Queen sampai terpaku, saking kagetnya dan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Nona, selamat ulang tahun," seru salah satu pelayan dengan membawakan kue ulang tahun.


Pelayan itu menyimpan kue ulang tahunnya di atas meja, dan Queen tampak celingukan mencari keberadaan Rifki yang dari tadi menghilang.


"Rifki, kamu di mana?" batin Queen.


Queen sudah meneteskan airmatanya, saking takutnya. Hingga dari kerumunan pengunjung, Rifki datang dengan membawa buket bunga mawar merah yang sangat cantik.


Queen langsung berlari dan memeluk Rifki dengan erat.


"Hai, kenapa kamu nangis, sayang?"


"Aku takut kamu pergi ninggalin aku."


"Mana mungkin aku ninggalin kamu."


Rifki melepaskan pelukan Queen dan menghapus airmata Queen.


"Jangan menangis, ini adalah hari kebahagiaanmu jadi aku ingin membuat malam ini kamu bahagia."


Rifki menyerahkan buket bunga itu kepada Queen dan menarik Queen untuk mendekat ke arah kue ulang tahunnya.


"Ayo, tiup lilinnya."


Queen tersenyum dan dengan mata yang berkaca-kaca, Queen meniup lilin itu.


"Selamat ulang tahun, sayang."


Queen kembali memeluk Rifki, bahkan airmatanya sudah kembali menetes.


"Terima kasih Rifki, aku sangat bahagia malam ini. Baru kali ini aku bisa merasakan kebahagiaan di hari ulang tahunku karena selama ini aku tidak pernah merasakannya," seru Queen dengan deraian airmatanya.


Rifki mengeratkan pelukannya, sungguh Rifki berjanji pada dirinya sendiri akan selalu membuat Queen bahagia.


Setelah cukup lama berpelukan, Rifki pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan berjongkok di hadapan Queen.


"Queen, sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta kepadamu dan malam ini aku ingin mengatakan kepadamu, maukah kamu menikah denganku? dan menjadi ibu dari anak-anakku?" seru Rifki.


Queen kembali meneteskan airmatanya, dengan senyuman yang mengembang, Queen pun menganggukkan kepalanya.


"Aku mau menikah denganmu."


Rifki begitu sangat bahagia, dia dengan cepat memakaikan cincin yang dia bawa ke jari manis Queen.


"Terima kasih, sayang."


Keduanya kembali berpelukan, dan semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dan ikut bahagia dengan kebahagiaan pasangan itu.

__ADS_1



__ADS_2