
1 bulan pun berlalu, kehidupan rumah tangga Putri dan Alfa semakin hari semakin menyedihkan. Alfa sudah tidak peduli lagi dengan keadaan Putri, bahkan sekarang Alfa pun sudah berani melawan kepada Daddy Darwis.
Selama Alfa berada di kampung halaman Nenek Arini, Alfa sama sekali tidak bisa mendekati Queen karena Rifki dengan sigap selalu menghalanginya hingga akhirnya Alfa memutuskan untuk pulang.
"Dad, Mommy sudah tidak tahan lagi, Mommy ingin bertemu dengan Queen," seru Mommy Vivian.
"Tapi Mom, Mama sudah melarang kita untuk tidak datang lagi ke sana."
"Dad, Queen itu anak kita juga dan selama ini Queen sudah cukup menderita akibat perlakuan kita yang pilih kasih, mulai sekarang Mommy tidak akan pilih kasih lagi, kasihan Queen karena menurut Mommy, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali dan akhirnya kita akan menyesal," seru Mommy Vivian.
Mommy Vivian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan suaminya masuk ke dalam kamarnya. Daddy Darwis tampak mengusap wajahnya secara kasar, dan tanpa mereka sadari dari tadi Putri mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.
"Ini adalah kesempatan aku untuk membuat Kak Queen berhenti mengganggu Kak Alfa," batin Putri.
Perlahan Putri pun menghampiri Daddynya itu dan duduk di samping Daddy Darwis.
"Dad, sudah lama Putri tidak berkunjung ke rumah Nenek, bagaimana kalau kita nginap di rumah Nenek? anggap saja sebagai liburan keluarga kita," seru Putri.
"Tapi masalahnya, Nenek kamu sudah membenci Daddy sayang dan melarang Daddy untuk tidak datang lagi ke rumahnya."
"Tidak apa-apa, kita langsung datang saja ke sana pasti Nenek gak bakalan mengusir kita, apalagi tahu kondisi Putri yang lemah."
Alfa yang hendak keluar untuk pergi ke kantor, tidak sengaja mendengar obrolan Putri dan Daddynya.
"Bagus, kalau kita sekeluarga pergi ke rumah Nenek Arini, sudah dipastikan aku bisa berdekatan dengan Queen dan aku akan berusaha merebut kembali Queen dari Polisi tengik itu," batin Alfa dengan senyumannya.
Alfa pun mulai menuruni anak tangga, bersikap seolah-olah tidak mendengar obrolan keduanya.
"Kak Alfa!" panggil Putri.
"Iya," sahut Alfa dengan malasnya.
"Kita mau liburan keluarga ke rumah Nenek, apa Kak Alfa mau ikut?"
Alfa melirik sebentar ke arah Daddy Darwis, kemudian Alfa mengangkat sudut bibirnya.
"Terserah kamu saja."
Alfa dengan cueknya melangkahkan kakinya tanpa menyapa atau pun pamitan kepada Daddy Darwis yang tidak lain adalah ayah mertuanya.
__ADS_1
"Sudah pasti kamu akan senang Kak, karena kamu akan berdekatan dengan Kak Queen. Tapi lihat saja apa yang akan aku lakukan di sana," batin Putri dengan senyumannya.
***
Pagi ini Queen begitu sibuk, karena pasien tiba-tiba banyak sekali yang masuk rumah sakit.
Tidak lama kemudian, pintu IGD terbuka dan menampilkan sosok pria yang dia kenal dengan luka sobek di lengannya.
"Astagfirullah, kamu kenapa?" tanya Queen panik.
"Aku keserempet motor barusan," sahut Rifki dengan senyumannya.
"Suster, tolong bawa dia ke ruangan pemeriksaan," seru Queen.
"Baik Dokter."
Suster pun segera membawa Rifki ke ruangan pemeriksaan.
"Maaf, kamu buka dulu bajunya sepertinya luka kamu sobek dan aku harus menjahitnya," seru Queen.
Rifki pun perlahan membuka seragamnya dibantu oleh Suster. Rifki duduk di ranjang pasien dan Queen berdiri di samping Rifki membersihkan darah yang terus mengalir di lengannya.
"Lukanya gak terlalu dalam, aku suntikan bius dulu ya, supaya kamu tidak kesakitan."
Queen menatap Rifki dengan mengerutkan keningnya.
"Asalkan kamu yang rawat aku dan aku menatap wajah kamu, aku kuat jika harus dijahit tanpa di bius."
"Jangan banyak ngegombal, sekarang kamu diam saja dan aku akan mulai menjahitnya," seru Queen.
Rifki menganggukkan kepalanya sembari menatap wajah Queen.
"Oke, sekarang aku mulai ya."
Rifki menganggukkan kepalanya tanpa memalingkan wajahnya masih dengan menatap Queen.
Queen mulai menjahit luka di lengan Rifki, Rifki tampak memejamkan matanya sesaat dan mengepalkan satu tangannya tapi pandangan Rifki tidak lepas dari wajah Queen karena bagi Rifki, dengan memandang wajah Queen rasanya Rifki sangat tenang.
"Sebenarnya kamu kenapa sampai bisa terluka seperti ini?" tanya Queen.
__ADS_1
"Tadi itu biasa ada sekelompok geng motor yang merebos lampu merah, karena itu sangat membahayakan pengguna jalan, aku pun mengejar geng motor itu. Aku sudah berhasil menangkap satu motor tapi mereka menyerangku dengan pisau lipat yang dia bawa dan pisau itu mengenai lenganku."
Queen manggut-manggut, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Queen pun selesai menjahit luka Rifki, Queen pun membalut lukanya dengan perban.
"Sudah selesai."
"Terima kasih, Bu Dokter."
Queen membereskan alat-alat medisnya. "Panggil Queen saja."
"Kamu juga panggil aku Rifki."
Selama satu bulan ini Queen dan Rifki memang mulai dekat dan Queen pun mulai menerima kehadiran Rifki.
Walaupun mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, tapi setiap hari Minggu mereka akan jogging bersama.
"Kamu jangan dulu pulang, tunggu sampai cairan infusnya habis baru bisa pulang."
"Siap."
Queen menyunggingkan senyumannya, begitu pun dengan Rifki yang ikut menyunggingkan senyumannya.
"Dr.Queen, ada pasien kecelakaan di IGD kondisinya sangat parah dan harus segera di operasi, tapi pihak keluarga menolaknya karena katanya tidak punya biaya," seru Suster.
"Langsung operasi saja, katakan kepada pihak keluarga jangan khawatir masalah biaya, yang penting pasien bisa terselamatkan."
"Baik dokter."
Suster pun segera pergi dan Queen pun duduk di kursi kebesarannya dan menyandarkan tubuhnya di kepala kursi sembari memejamkan matanya.
Rifki yang memang berada di ruangan Queen itu tampak menatap Queen, wajah Queen yang cantik tampak berkeringat.
"Pagi-pagi sudah berkeringat, capek ya," seru Rifki.
"Iya, dari tadi pasien banyak banget."
"Kamu kan kepala rumah sakit di sini, kamu tidak perlu capek-capek turun tangan."
"Tidak bisa seperti itu, jiwa dokterku tidak bisa diam saja melihat banyak pasien yang datang ke sini. Kamu istirahat dulu jangan banyak gerak, aku mau tidur sebentar."
__ADS_1
Queen memejamkan matanya dengan posisi duduk, sungguh Rifki semakin kagum kepada dokter cantik yang ada dihadapannya itu.