KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 26 Dirazia


__ADS_3

Keesokan harinya....


Putri sudah bangun dan mandi, saat ini dia sedang merias wajahnya di depan cermin dengan raut wajah yang sangat bahagia.


Alfa mulai menggerakkan tubuhnya, perlahan dia pun mulai membuka matanya.


"Pagi sayang, bagaimana tidurnya? apa sangat nyenyak," seru Putri.


Alfa tidak merespon sapaan Putri, dia pun bangkit dan terduduk di atas tempat tidur. Alfa mulai merasa ada yang aneh, dia pun melihat dirinya sendiri dan betapa terkejutnya dia, saat melihat kalau saat ini dirinya sama sekali tidak memakan sehelai benang pun.


Alfa mulai mengingat kejadian tadi malam, tatapannya sangat tajam ke arah Putri.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, Putri!" sentak Alfa.


"Apa yang aku lakukan? seharusnya Kakak tanya pada diri Kakak sendiri, tadi malam Kakak sudah melakukan apa sama Putri?"


Alfa mulai mengingat dan Alfa ingat semuanya, membuat Alfa menjambak rambutnya sendiri.


"Pasti kamu yang sudah menjebakku, kan? supaya aku melakukan semua ini?" sentak Alfa.


Queen yang baru saja keluar dari kamarnya, menghentikan langkahnya saat mendengar suara bentakan Alfa.


"Kamu memang sengaja melakukan semua ini supaya aku terikat denganmu, kan?" bentak Alfa.


Putri sangat ketakutan melihat Alfa yang saat ini sedang marah kepadanya, hingga tanpa terasa airmatanya pun menetes.


"Memang apa salahnya kalau kita melakukannya? status kita sudah menikah, Kak."


"Tapi aku tidak mencintaimu Putri!" bentak Alfa.


Alfa menarik handuk yang ada di sampingnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi membuat Putri tersentak karena kaget.


Putri terduduk di ujung ranjang dengan deraian airmata, sebesar itukah cinta Alfa kepada Kakaknya sampai-sampai sedikit pun tidak ada kesempatan untuk Putri masuk ke dalam hati Alfa.


Queen memilih langsung pergi menuruni anak tangga dan dia sama sekali tidak mau ikut campur masalah keduanya lagi.


"Pagi sayang, ayo sarapan dulu. Mommy sudah membuatkan nasi goreng kesukaanmu," seru Mommy Vivian.


Queen pun duduk tanpa bicara sepatah kata pun, hingga beberapa saat kemudian Putri dan Alfa pun turun. Queen bisa melihat kalau Putri baru habis menangis sedangkan Alfa terlihat sangat emosi.


Queen mulai mengambil nasi gorengnya, tiba-tiba Daddy Darwis mengambilkan ayam goreng untuk Queen membuat Queen kaget.


"Makan yang banyak, biar kamu kuat," seru Daddy Darwis.


Queen menggenggam erat sendoknya, matanya sudah berkaca-kaca tapi Queen berusaha menahan supaya airmatanya tidak keluar. Ini adalah pertama kalinya Daddy Darwis perhatian kepada Queen bahkan sampai mengambilkan ayam untuknya.


Miris, memang sungguh miris hidup Queen bahkan hal sepele yang Daddynya lakukan pun membuat Queen ingin menangis.

__ADS_1


Queen mulai memasukan satu suap nasi goreng itu ke mulutnya dengan tangan yang bergetar, Daddy Darwis yang melihat itu merasa sangat kasihan kepada anak sulungnya itu.


"Anakku malang, maafkan Daddy Nak," batin Daddy Darwis.


Queen mati-matian menahan airmatanya, dan dia mulai melahap sedikit demi sedikit nasi gorengnya.


"Nek, nanti Queen pulang agak malam jadi rumah kunci saja karena Queen bawa kunci cadangan," seru Queen.


Nenek Arini menganggukkan kepalanya...


"Jangan terlalu capek sayang, nanti kamu malah sakit," seru Mommy Vivian.


Queen terdiam tidak menjawab apa-apa, dia masih belum mengerti dengan perubahan sikap kedua orangtuanya yang tiba-tiba itu.


Setelah selesai sarapan, Queen pun langsung pergi. Queen mencium punggung tangan Nenek Arini, tapi sayang Queen hanya melewati kedua orangtuanya dan itu membuat kedua orangtuanya sedikit kecewa, tapi mereka sadar kalau Queen bersikap seperti itu karena akibat dari perlakuan mereka juga.


"Pak Darna, kali ini biar aku bawa mobil sendiri soalnya nanti pulang malam, kasihan kalau Pak Darna harus jemput aku."


"Tapi Non, nanti Nenek Arini marah sama Pak Darna."


"Tidak akan, soalnya ini aku yang minta. Sudah Pak Darna jangan khawatir, mana kuncinya."


Akhirnya Pak Darna pun menyerahkan kunci mobilnya kepada Queen. Queen langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.


Setelah Queen pergi beberapa menit, Pak Darna tampak membelalakkan matanya.


Queen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga setelah masuk jalan raya, dari kejauhan Queen melihat kalau ternyata sedang ada razia.


"Kok tumben ada razia?" gumam Queen.


Queen masih belum sadar kalau dia sama sekali tidak membawa surat-surat kendaraannya.


Seorang Polisi menghentikan mobil Queen dan Queen pun berhenti.


"Maaf Mba, bisa saya lihat surat-suratnya?"


"Oh iya, tunggu sebentar Pak."


Queen mencari di dalam tasnya, terus di dalam dashboard juga dan Queen baru sadar kalau dia gak minta surat-suratnya kepada Pak Darna.


"Astaga, aku lupa minta surat-suratnya sama Pak Darna," batin Queen.


"Bagaimana Mba, mana surat-suratnya?"


"Ehhmmm...maaf Pak, saya lupa bawa surat-suratnya."


"Kalau begitu, mobil Mba kami tahan."

__ADS_1


"Loh, jangan dong Pak, lagipula pagi ini saya ada jadwal operasi. Bagaimana kalau saya telepon orang rumah dan nanti biar dia yang antarkan surat-suratnya ke sini."


"Maaf Mba, apa anda ingin mengelabui petugas!"


Rifki yang saat itu berada di depan, melihat ke arah belakang.


"Loh, itu seperti mobilnya Queen," gumam Rifki.


Rifki pun segera menghampirinya. "Ada apa ini?"


"Begini Pak, Mba ini gak bawa surat-surat dan dia mau kabur."


"Saya tidak akan kabur Pak, jangan sembarangan kalau bicara!" sentak Queen.


"Sudah, kamu urus yang di depan Nona ini biar saya yang tangani."


"Siap Pak."


Polisi itu pun akhirnya pergi...


"Queen, kok kamu gak bawa surat-surat?" tanya Rifki.


"Aku tadi buru-buru bawa mobil, jadi aku lupa minta surat-suratnya sama Pak Darna."


"Kenapa kamu bawa mobil sendiri?"


"Hari ini aku lembur sampai malam, jadi aku bawa mobil sendiri saja."


"Tapi karena kamu gak bawa surat-surat, mobilnya harus aku tahan."


"Astaga Rifki, jangan dong hari ini aku ada jadwal operasi. Lagipula kalau mobil aku ditahan, terus aku naik apa ke rumah sakit?" rengek Queen.


"Bagaimana lagi, itu sudah jadi peraturannya kalau aku tidak menahan mobil kamu, bisa-bisa aku ditegur sama atasan."


"Please," seru Queen dengan menangkupkan kedua tangannya.


Rifki menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan hal yang melanggar peraturan.


"Mobil tetap ditahan, biar kamu aku antar ke rumah sakit."


Queen tampak menghembuskan napasnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti apa yang dikatakan oleh Rifki.


Queen pun keluar dari dalam mobilnya dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Rifki, setelah itu mengikuti langkah Rifki menuju motornya. Rifki memakaikan helm di kepala Queen, Queen hanya bisa cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu, makanya kalau berkendara harus teliti. Ayo buruan naik!"


Queen pun akhirnya naik ke atas motor Rifki, sebulan belakangan ini hubungan Rifki dan Queen memang sedikit dekat bahkan Queen pun tidak sejutek dulu.

__ADS_1



__ADS_2