KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 57 Masa Lalu Raffi


__ADS_3

Raffi mengambil sesuatu dari dalam laci meja itu dan dengan cepat melemparnya ke depan Queen. Queen memperhatikan secara seksama foto-foto yang berserakan di lantai itu.


Queen sama sekali tidak tahu siapa yang ada di dalam foto itu dan apa maksud Raffi memperlihatkannya kepada Queen.


"Apa kamu tahu siapa mereka?" tanya Raffi.


Queen menggelengkan kepalanya tanda dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang ada di dalam foto.


Raffi memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celananya, dan memutar tubuhnya menghadap ke arah jendela dengan membelakangi Queen.


Flash back on....


Di saat Raffi patah hati karena lagi-lagi dia harus kalah oleh Rifki, Raffi pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.


Raffi dulu sangat mencintai Safa hingga Raffi tidak bisa melupakan Safa. Di saat Raffi sedang sedih-sedihnya, Raffi bertemu dengan wanita sederhana bernama Ajeng.


Ajeng adalah wanita tangguh, dia kuliah sembari bekerja. Ajeng hanya tinggal bersama Ibunya dan saat itu, Ibunya sakit-sakitan sehingga Ajeng banting tulang mencari uang untuk biaya pengobatan Ibunya itu.


"Hai, kamu kenapa? melamun?" tanya Raffi.


"Aku bingung Raff, penyakit Ibuku semakin parah dan dia harus segera di bawa ke rumah sakit, sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai uang," sahut Ajeng sedih.


Saat itu status Raffi dan Ajeng sudah berpacaran, Ajeng mampu mengobati rasa patah hati Raffi dan dengan waktu singkat, Raffi sudah bisa melupakan Safa.


"Bagaimana ini, aku juga belum dapat transferan dari Papa aku kalau aku tiba-tiba minta uang, pasti dia akan menanyakan uang untuk apa?" seru Raffi.


"Tidak apa-apa Raff, aku tidak minta bantuan dari kamu kok. Aku akan meminjam dari perusahaan tempat aku bekerja, mudah-mudahan pihak perusahaan bisa membantuku."


"Amin."


Keesokan harinya....


Ajeng pun segera berangkat bekerja, dan ternyata Ajeng bekerja di perusahaan milik Daddynya Queen. Ajeng beruntung bisa bekerja di perusahaan besar, soalnya waktu itu perusahaan Daddy Darwis sedang membutuhkan karyawan.


Sesampainya di perusahaan, Ajeng langsung menuju HRD dan dia mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke sana.


"Pak, bisakah saya mengajukan pinjaman uang? soalnya saya butuh sekali uang untuk biaya pengobatan Ibu saya," seru Ajeng.


"Ajeng, kamu ini hanya karyawan magang dan karyawan magang tidak bisa mengajukan pinjaman uang."


"Saya mohon Pak, saya sangat butuh uang," mohon Ajeng.


"Kamu ikut dengan saya, saya harus bicara kepada Tuan Darwis soalnya saya tidak bisa memutuskannya."


Ajeng pun hanya bisa pasrah, sebenarnya dia begitu takut bertemu dengan Daddy Darwis karena Daddy Darwis terkenal dengan Bos yang sangat kejam.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Permisi Tuan, saya Haryono dari bagian HRD."


"Masuklah."


Haryono pun mengajak Ajeng untuk masuk ke dalam ruangan Daddy Darwis.


"Ada apa?" tanya Daddy Darwis.


"Maaf Tuan, ini ada karyawan magang yang ingin mengajukan pinjaman uang. Apa saya boleh meng-acc nya atau tidak?" tanya Haryono.


Daddy Darwis mendongakkan kepalanya dan menatap Ajeng dengan tatapan tajamnya membuat Ajeng merasa takut dan hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Karyawan magang sudah berani mengajukan pinjaman uang? kamu tahu, kamu di terima bekerja di sini hanya 1 tahun dan sisa waktu kerja kamu tinggal 7 bulan lagi. Kalau perusahaan memberimu pinjaman dan bisa di cicil sampai 12 kali angsuran, sisanya kamu mau bayar pakai apa?" seru Daddy Darwis dengan kejamnya.


"Sa-ya akan mencari pekerjaan baru dan setiap gajian saya akan datang ke sini untuk membayar sisanya," sahut Ajeng gugup.


Seketika Daddy Darwis tertawa. "Memangnya saya akan percaya dengan ucapanmu? sudah banyak karyawan seperti itu, mengajukan pinjaman ke perusahaan sampai belasan juta tapi pada akhirnya tidak bisa membayar dan mereka mengundurkan diri dari sini untuk kabur," sinis Daddy Darwis.


"Tuan, Insya Allah saya tidak akan kabur."


"Tuan, saya mohon."


Pak Haryono pun menarik Ajeng untuk keluar dari ruangannya, Ajeng tampak marah pada dirinya sendiri karena dia tidak bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Ibunya.


"Ya Allah, aku harus pinjam uang ke mana lagi?" batin Ajeng dengan deraian airmata.


Ajeng pun kembali bekerja dengan hati yang benar-benar sakit.


"Orang sekaya Tuan Darwis tidak mau meminjamkan uangnya kepadaku, padahal uang 10 juta itu tidak akan ada artinya apa-apa buat Tuan Darwis tapi kenapa Tuan Darwis tidak mau membantu orang kecil sepertiku," batin Ajeng.


Ajeng pun kembali mengerjakan pekerjaannya, airmata Ajeng terus saja mengalir saking sakit hatinya mendengar ucapan dari atasannya itu.


Tidak lama kemudian, salah satu karyawan menghampiri Ajeng.


"Ajeng, di lobi ada yang mencarimu."


"Siapa?"


"Katanya dia tetanggamu."


Ajeng pun langsung berlari menuju lobi, pikiran Ajeng hanya tertuju kepada Ibunya yang saat ini sedang terbaring lemah di rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa, Pak Harun?" tanya Ajeng.


"Ajeng, kamu harus pulang sekarang juga."


"Memangnya ada apa, Pak?"


"Nanti kamu juga tahu, sekarang kamu pulang sama Bapak."


"Baiklah, Ajeng izin dulu."


Ajeng pun kembali berlari menuju ruangan kerjanya dan meminta izin untuk pulang kepada Managernya, setelah mendapat izin, Ajeng pun segera menuju lobi dan pulang bersama Pak Harun.


Sesampainya di rumah, Ajeng tampak bingung karena banyak sekali orang di sana bahkan Raffi pun sudah ada di sana.


"Ada apa ini?" tanya Ajeng.


"Kamu yang sabar ya, Jeng," seru Raffi dengan merangkul pundak Ajeng.


"Ada apa, Raff?"


Raffi tidak bisa menjawabnya, hingga akhirnya perlahan Ajeng masuk ke dalam rumahnya dan terlihat orang yang sudah terbaring terbujur kaku.


Ibu Ajeng sudah meninggal, dan Ajeng tidak ada di samping Ibunya saat Ibunya sedang meregang nyawa.


Hati Ajeng hancur, sehancur-hancurnya.


"Tuan Darwis sangat jahat, kenapa anda tidak mau meminjamkan uang kepadaku padahal kalau anda meminjamkan uang, aku bisa membawa Ibu ke rumah sakit dan Ibuku tidak akan meninggal," gumam Ajeng dengan deraian airmatanya.


Raffi yang dari tadi berada di samping Ajeng, mendengar gumaman Ajeng yang menyebut nama Darwis.


Semenjak Ibunya meninggal, semangat hidup Ajeng hilang. Ajeng selalu bercerita kepada Raffi, kalau dia sangat dendam kepada Darwis karena Ajeng selalu berpikir kalau Darwis adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Ibunya.


Setelah beberapa hari kemudian, betapa terkejutnya Raffi saat melihat Ajeng memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menggantung diri di rumahnya sendiri.


Raffi merasa sangat terpukul dengan kepergian Ajeng, lagi-lagi dia harus kehilangan wanita yang dia cintai.


Flash back off...


"Awalnya aku menyukaimu dan ingin merebut kamu dari Rifki, tapi setelah aku tahu kamu adalah putrinya Darwis, tujuanku berubah. Yang awalnya ingin memilikimu, menjadi ingin membunuhmu. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Papamu yang sombong itu kalau melihat anaknya mati," geram Raffi.


Queen membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau Raffi mempunyai dendam kepada Daddynya itu.


"Aku ingin melihat, Darwis merasakan penderitaan dan kesedihan yang dulu sudah dialami Ajeng."


Raffi menatap Queen dengan tatapan tajam, sedangkan Queen sudah mulai merasa ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2