
Rifki di bantu oleh rekan-rekan polisinya mencari keberadaan Queen dengan menyusuri sungai itu. Sementara itu, Daddy Darwis, Mommy Vivian, Putri, dan Nenek Arini datang ke lokasi.
"Ya Allah Queen, kamu di mana sayang?" teriak Mommy Vivian.
Mommy Vivian begitu sangat histeris, Daddy Darwis ikut turun ke sungai untuk mencari keberadaan Queen.
"Sayang, kamu di mana?" gumam Rifki.
Rifki benar-benar sangat takut akan kehilangan Queen.
"Sayang, jangan tinggalkan aku sebentar lagi kita akan menikah, kembali lah jangan buat aku takut," batin Rifki.
Rifki bersama tim SAR terus menyusuri sungai itu, walaupun dengan pencahayaan yang seadanya tapi Rifki tidak akan menyerah dan akan terus mencari keberadaan Queen sampai Rifki bisa menemukan Queen.
***
Waktu sudah hampir menunjukan pukul 04.00 subuh, tapi pencarian mereka tidak berjalan dengan mulus karena air sungai yang sangat deras menghambat pencarian mereka.
"Bagaimana ini Rif, air sungainya sangat deras dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian karena bisa saja, kita justru ikut menjadi korban," seru salah satu rekan Rifki.
"Aku tidak peduli, yang penting sekarang aku harus menemukan Queen kasihan Queen, pasti dia kedinginan dan ketakutan," sahut Rifki.
Rifki terus menyusuri pinggiran sungai, meski saat ini Rifki sudah terlihat kelelahan tapi Rifki tidak menyerah.
"Queen, kamu di mana sayang? jangan tinggalkan Daddy, kembalilah," batin Daddy Darwis.
Rifki terduduk di pinggir sungai, wajahnya sangat frustasi. Rifki benar-benar sangat takut akan kehilangan Queen, Rifki tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kalau sampai terjadi sesuatu kepada Queen.
"Sayang, aku mohon bertahanlah, aku akan berusaha menemukanmu," batin Rifki.
Beberapa saat kemudian, mata hari sudah mulai memperlihatkan cahayanya tapi Rifki dan yang lainnya belum berhasil menemukan Queen.
"Bagaimana ini Rifki, Queen sama sekali tidak bisa berenang, Daddy tidak bisa membayangkan betapa ketakutannya Queen saat jatuh ke sungai ini, dia pasti sangat panik," lirih Daddy Darwis.
"Rifki janji Om, akan berusaha mencari Queen."
__ADS_1
Sementara itu, Mommy Vivian, Nenek Arini, dan Putri terus saja menangis. Walaupun mereka tidak ikut mencari, tapi mereka sama sekali tidak bisa tidur memikirkan nasib Queen yang entah berada di mana.
"Ya Allah, baru saja keluarga kami baik-baik saja sekarang ada masalah yang menimpa keluarga kami. Aku mohon selamatkan Queen Ya Allah, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan anak yang selama ini aku sia-siakan," seru Mommy Vivian dengan deraian airmata.
Putri pun memeluk Mommynya itu. "Kita berdo'a saja untuk keselamatan Kak Queen, Putri yakin Kak Queen wanita yang kuat pasti Kak Queen selamat dan akan kembali ke tengah-tengah kita lagi. Kak Queen adalah orang yang sangat baik dan Allah pasti menyelamatkannya."
Setelah beristirahat untuk beberapa saat, Rifki dibantu tim SAR dan seluruh warga di sana untuk kembali mencari keberadaan Queen. Bahkan Rifki sama sekali belum makan dari tadi malam, tapi Rifki sama sekali tidak merasa lapar.
"Pak Rifki, aliran sungai ini mengarah ke sebuah hutan di sebelah sana, ada kemungkinan korban terbawa hanyut ke sana," seru salah satu tim SAR.
"Bisa jadi Pak, kalau begitu jangan banyak membuang waktu, kita harus segera ke sana," sahut Rifki.
Rifki, Daddy Darwis, dan Tim SAR menuju hutan itu dengan menggunakan sampan dan perahu karet juga.
Sementara itu, di tempat lain Queen mulai membuka matanya secara perlahan. Queen berusaha bangkit, dan Queen merasakan kalau seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
"Ya Allah, aku ada di mana?" gumam Queen dengan memegang kepalanya yang terasa pusing.
Queen mulai memperhatikan setiap sudut tempat itu.
Queen berusaha untuk berdiri tapi kakinya terasa sangat sakit, dan ternyata kaki Queen berdarah terkena ranting-ranting tajam bahkan bajunya pun terlihat sobek mungkin karena tersangkut ranting atau batang kayu yang tajam.
"Aw, sakit sekali."
Queen menyeret tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada pohon besar.
"Ya Allah, aku takut. Rifki, tolongin aku," gumam Queen dengan deraian airmata.
Mata Rifki sangat awas memperhatikan setiap sudut, hingga Rifki pun melihat sesuatu yang menurutnya tidak terasa asing.
"Tunggu Pak, itu sepertinya sobekan baju," tunjuk Rifki.
Tim SAR pun mengarahkan sampannya ke sebuah kayu besar yang berada di pinggir sungai, dan Rifki segera mengambilnya.
"Ini sobekan baju Queen, Pak. Aku yakin, Queen berada di sekitar sini," seru Rifki antusias.
__ADS_1
Tim SAR pun menepikan sampannya dan semua orang langsung menyebar untuk mencari keberadaan Queen.
"Queen, kamu dimana sayang? ini aku Rifki!" teriak Rifki.
Semuanya benar-benar menyebar mencari keberadaan Queen, sedangkan Queen sudah terlihat sangat lemah rasa pusing dan sakit di seluruh badannya sudah mulai terasa bahkan penglihatannya pun sudah sedikit kabur.
"Queen, ini aku Rifki!"
"Rif-ki, a-ku a-da di-sini," lirih Queen.
Seorang warga melihat ada seorang wanita yang sedang duduk selonjoran di bawah pohon besar.
"Dokter Queen, Mas Rifki itu Dokter Queen!"
Rifki yang mendengar teriakan salah satu warga, langsung berlari menghampiri dan mengikuti arah pandangnya.
"Queen."
Rifki segera berlari menghampiri Queen yang saat ini sudah setengah sadar itu.
"Ya Allah Queen, kamu tidak apa-apa kan, sayang?" seru Rifki dengan memeluk Queen.
"Queen sayang, ini Daddy Nak, Alhamdulillah akhirnya kami menemukanmu," seru Daddy Darwis dengan meneteskan airmatanya.
"Dad-dy."
Tidak lama kemudian, kesadaran Queen mulai menghilang dan akhirnya Queen pingsan di pelukan Rifki.
"Ya Allah, Queen!"
"Kita harus segera bawa Queen pulang," seru Daddy Darwis.
Rifki pun dengan sigap mengangkat tubuh Queen dan membawanya pulang menggunakan perahu karet yang disediakan oleh Tim SAR.
Selama dalam perjalanan pulang, Rifki tidak melepaskan Queen, dia terus saja memeluk Queen. Ketakutan Rifki akan kehilangan Queen sangatlah besar, dan sekarang Rifki sangat bahagia akhirnya Queen bisa ditemukan dengan kondisi selamat.
__ADS_1
"Awas kamu Safa, kamu akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang sudah kamu lakukan kepada Queen," batin Rifki dengan geramnya.