KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 23 Berusaha Mendekati Queen


__ADS_3

Queen mengusap perutnya dan Rifki pun memberikan air mineral kepada Queen.


"Bagaimana, sudah kenyang?"


"Kenyang banget."


"Ya sudah, ayo kita pulang."


Rifki pun membayar ciloknya, lalu mereka pun memutuskan untuk pulang. Queen tidak tahu kalau dari tadi Alfa sedang mengikuti Queen.


Ya, lagi-lagi Alfa datang ke kampung untuk menemui Queen bahkan selama ini Alfa sudah jarang pulang dan penampilannya pun acak-acakan.


"Kamu tega Queen, bisa melupakan aku semudah itu padahal aku sangat menderita dengan perpisahan kita. Pokoknya kamu tidak boleh bersama pria lain, kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, pria lain pun tidak boleh mendapatkanmu," geram Alfa dengan mengepalkan tangannya.


Alfa menyewa sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumah Nenek Arini.


Rifki pun menghentikan motornya dan Queen pun turun.


"Terima kasih, sudah mau mengantarkan ku," seru Queen.


"Sama-sama, jangan sungkan-sungkan kalau kamu butuh sesuatu hubungi aku aja."


Queen kembali menyunggingkan senyumannya, dan dengan malu-malu Queen pun segera masuk ke dalam rumah.


Rifki kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumahnya, tapi baru saja beberapa meter, ada sebuah mobil yang menghalangi jalan Rifki.


"Mobil siapa itu? kok parkir sembarangan," gumam Rifki.


Rifki pun turun dari atas motornya dan menghampiri mobil itu, lalu Rifki mengetuk kaca mobilnya.


"Maaf, kenapa anda parkir sembarangan? ini jalan perkampungan jadi kalau mau parkir tolong di lapangan sana, soalnya saya mau lewat," seru Rifki.


Alfa pun keluar dari dalam mobilnya dan Rifki tampak mengingat wajah Alfa.


"Apa kamu masih ingat denganku?" seru Alfa.


"Bukanya kamu yang waktu itu memaksa Bu dokter untuk ikut denganmu?"


"Ternyata ingatanmu bagus sekali, Pak Polisi. Apa kamu tahu, siapa aku?"


"Maaf aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu."


Alfa mulai menghampiri Rifki dan berdiri tepat di hadapan Rifki.


"Aku adalah pacarnya Queen, dan aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Queen," seru Alfa sembari mendorong tubuh Rifki dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Pacar? maaf apa Mas gak salah ngomong? waktu itu aku lihat, Bu Dokter kelihatan gak nyaman banget dengan kedatangan Masnya, sampai berontak saat pergi dengan Mas, masa iya orang pacaran seperti itu?" ledek Rifki.


Alfa yang mendengar ledekan Rifki merasa geram, dia pun mencengkram baju Rifki tapi sayang, Rifki bukanya takut, justru dia menyunggingkan senyumannya seolah-olah menantang Alfa.


"Jangan coba-coba merebut Queen dari aku, karena Queen hanya milikku."


"Kalau aku ingin merebutnya dari anda, terus anda mau melakukan apa kepadaku?" tantang Rifki.


Buggg....


Satu pukulan mendarat di pipi Rifki membuat Rifki tersungkur ke tanah.


"Jangan mimpi, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan pria mana pun memiliki Queen karena selamanya Queen akan menjadi milikku!" bentak Alfa.


Sifat Alfa yang awalnya sangat penyayang dan perhatian kepada Queen, berubah menjadi kasar karena akibat dari keegoisan orang-orang di sekitarnya.


Alfa bahkan belum bisa menerima kalau dirinya sudah menikah dengan Putri dan selama ini masih mengabaikan Putri. Dia tidak peduli dengan keadaan Putri, bahkan Alfa sangat berdosa karena sudah mendo'akan supaya Putri segera meninggal.


Rifki menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah dan kembali bangkit dan berdiri di hadapan Alfa.


"Kita lihat saja, siapa yang akan jadi pemenangnya, aku atau anda?" sinis Rifki.


Alfa kembali tersulut emosi, dia hendak melayangkan lagi pukulannya tapi dengan sigap Rifki menahan pukulan Alfa.


"Kalau ingin bersaing, mari bersainglah secara sehat jangan menggunakan otot tapi gunakan otak."


"Kurang ajar, awas kamu," geram Alfa.


Sementara itu di kediaman Darwis....


"Kamu memang keterlaluan Kak, masih saja menemui Kak Queen. Apa kelebihannya Kak Queen, sampai-sampai kamu tidak bisa melepaskan Kak Queen?" gumam Putri dengan mengepalkan tangannya.


Keesokan harinya....


Queen sudah tampil cantik dengan dress putih bunga-bunga, tidak lupa dia mengaitkan jas putih kebanggaannya di lengannya.


"Pagi Nek!"


"Loh, kamu sudah sehat?"


"Sudah Nek, Queen sudah sangat sehat."


"Ya sudah, sarapan dulu sini."


Queen pun duduk dan sarapan bersama Neneknya. Setelah selesai sarapan, Queen pun pamit kepada Neneknya untuk pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Pak Darna mengantarkan Queen ke rumah sakit, pagi ini suasana hati Queen sedang baik-baik saja. Tidak lama kemudian, Pak Darna pun menghentikan mobilnya karena lampu merah.


Hari Senin adalah hari tersibuk diantara hari-hari lainnya, membuat suasana jalanan begitu sangat padat bahkan Polisi lalu lintas pun sudah siaga di mana-mana untuk melancarkan jalan pengendara.


Queen terlihat melamun, sampai-sampai dia tidak sadar kalau di samping mobilnya sekarang sudah berdiri seorang Polisi tampan yang dari tadi memperhatikannya.


"Selamat pagi, Bu Dokter cantik!" sapa Rifki.


Queen tersentak, dia langsung menoleh ke arah luar jendela yang terbuka sedikit itu.


"Pagi-pagi sudah melamun, pasti sedang ngelamunin aku kan," goda Rifki.


"Idih, percaya diri sekali anda Pak Polisi," ketus Queen.


Rifki terkekeh, mobil pun mulai melaju karena lampu merah sudah berubah menjadi hijau.


"Semangat Bu Dokter, dan semoga selamat sampai tujuan," seru Rifki dengan mengedipkan sebelah matanya.


Queen mengerutkan keningnya, mobil Queen mulai melaju meninggalkan Rifki tapi sedetik kemudian, senyum Queen terbit entah kenapa Pak Polisi tampan yang satu itu selalu bisa membuatnya tersenyum.


Pak Darna yang melihat Queen senyum-senyum dari kaca spion merasa sangat bahagia dan ikut menyunggingkan senyumannya juga.


Tidak lama kemudian, Queen pun sampai di rumah sakit dan Queen mulai menjalani pekerjaannya.


Suasana di kediaman Darwis...


"Mommy mana, Dad?" tanya Putri.


"Ada di kamarnya, Mommymu sedang sakit."


"Sakit apa? kok perasaan akhir-akhir ini Mommy sering sakit?"


"Kamu gak usah khawatir, Mommy kamu hanya kelelahan saja. Ya sudah, Daddy berangkat ke kantor dulu dan ingat, besok adalah jadwal kamu cuci darah, kamu hubungi suami kamu suruh dia temani kamu ke rumah sakit," seru Daddy Darwis.


"Iya Dad."


Daddy Darwis pun bangkit dari duduknya dan mencium kening Putri sebelum ia pergi ke kantor.


Putri segera menghubungi Alfa namun sayang ponselnya sama sekali tidak aktif.


"Sial, kamu selalu membuatku marah Kak, lihat saja aku akan buat kamu tidak akan bisa meninggalkanku," gumam Putri dengan kesalnya.


Sementara itu di kamar Mommy Vivian, dia terduduk di atas tempat tidurnya dengan memegang foto Queen.


"Maafkan Mommy sayang, Mommy sangat merindukanmu, jangan membenci Mommy," gumam Mommy Vivian.

__ADS_1


Mommy Vivian merasa sangat bersalah, dia benar-benar sangat merindukan Queen sampai-sampai dia sakit karena terlalu memikirkan anak sulungnya itu.



__ADS_2