KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 30 Ungkapan Cinta Rifki


__ADS_3

"Kita pulang ya!" ajak Rifki.


Queen menganggukkan kepalanya, Rifki mengajak Queen untuk pulang.


"Aw..."


"Kenapa?"


Queen memegang kakinya dan Rifki menyinari kaki Queen dengan senter ponselnya, ternyata kaki Queen berdarah.


"Astagfirullah, kamu gak pakai alas kaki?"


Queen menggelengkan kepalanya, Rifki pun segera berjongkok di hadapan Queen.


"Ayo naik."


Perlahan Queen pun naik ke punggung Rifki, Rifki berjalan secara perlahan membawa Queen pulang.


"Kamu harus janji sama aku, jangan pernah melakukan hal nekad seperti itu lagi."


Queen menganggukkan kepalanya...


"Kamu jangan berpikir kalau kamu tidak punya siapa-siapa, karena aku akan selalu ada untukmu dan kamu pun jangan pernah sungkan, kalau kamu butuh apa-apa bilang saja sama aku, asalkan jangan minta dibelikan mobil saja. Aku belum sanggup."


Queen tersenyum, Rifki sangat bahagia melihat Queen bisa tersenyum seperti itu.


"Queen, apa aku boleh mengatakan sesuatu?"


"Apa?"


"Jujur, sejak pertama kali aku melihat kamu, aku sudah menyukaimu. Walaupun pertama bertemu, kamu jutek banget tapi entah kenapa aku tetap menyukaimu dan sekarang rasa suka itu justru malah bertambah dan berubah menjadi rasa cinta."


Queen kaget mendengar ucapan Rifki, dia tidak menyangka kalau selama ini polisi tampan itu menyukainya.


"Jadi, bisakah aku menjadi bagian dari hidup kamu? aku ingin sekali menjaga dan membahagiakan kamu, apalagi setelah mendengar cerita dari Nenek Arini mengenai hidupmu membuat aku semakin yakin kalau aku ingin membahagiakanmu."


Rifki menghentikan langkahnya dan menurunkan Queen dari atas punggungnya, sekarang posisi mereka berhadap-hadapan. Rifki menarik tangan Queen dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku tahu, status sosial kita jauh banget. Kamu di atas, sedangkan aku di bawah tapi jujur rasa cintaku tidak kalah besar dari pria brengsek itu. Walaupun kita baru bertemu beberapa bulan ini, tapi aku sudah yakin kalau aku sangat mencintaimu dan ingin sekali menjagamu supaya tidak ada lagi satu orang pun yang akan menyakitimu. Bagaimana, bisakah aku menjadi penjaga hatimu?"

__ADS_1


Queen tampak terdiam, dia masih belum bisa menjawabnya sama sekali karena jujur buat Queen ini adalah pengalaman keduanya setelah sebelumnya Alfa yang menembaknya.


"Aku....aku...."


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menerima aku, aku tidak akan memaksamu kok. Ayo naik lagi ke punggungku," seru Rifki.


"Aku jalan kaki saja."


"Tapi kan, kaki kamu sakit."


"Tidak apa-apa, aku masih kuat. Lagipula rumah Nenek sudah dekat."


Queen berjalan lebih dulu dengan langkah yang terpincang-pincang dan Rifki tidak bisa memaksanya lagi.


Beberapa saat kemudian, Queen dan Rifki pun sampai di rumah Nenek Arini. Nenek Arini dan Daddy Darwis bangkit dari duduknya setelah melihat Queen sudah kembali.


"Queen," lirih Daddy Darwis.


Lagi-lagi Queen bersembunyi di belakang tubuh Rifki dengan memegang erat ujung kaos yang dikenakan oleh Rifki. Sebenarnya Queen bukanya takut bertemu dengan Daddynya, toh setiap hari juga dia bertemu tapi yang membuat Queen bersikap seperti itu karena Queen takut akan menghadapi amarah Daddynya yang selalu saja memukulinya tanpa dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Itu membuat Queen trauma, bahkan saking tidak pernahnya Daddy Darwis menyentuh Queen, di saat ia ingin menyentuh anaknya itu justru Queen memberikan reaksi yang sangat berlebihan. Dia ketakutan karena Queen mengira kalau Daddynya akan memukulinya lagi.


Queen terdiam dengan berusaha menahan airmatanya.


"Sudahlah Darwis, Queen akan semakin trauma kalau seperti ini. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka hati yang dirasakan oleh Queen jadi jangan dipaksakan," seru Nenek Arini.


Queen dengan cepat berlari menuju lantai dua, dan masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya rapat-rapat.


"Queen maafkan Daddy!" teriak Daddy Darwis.


"Nek, Rifki pulang dulu."


"Terima kasih ya Nak, kamu selalu menolong Queen."


"Sama-sama Nek."


Rifki pun pamit pulang, Nenek Arini masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Daddy Darwis sendirian. Setelah sesaat merenung, Daddy Darwis pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


***

__ADS_1


Keesokan harinya....


Queen dengan cepat menuju rumah sakit dengan kembali diantar oleh Pak Darna.


"Pak, nanti mobil ambil ya di POLSEK soalnya kemarin aku kena razia," seru Queen.


"Baik Non."


Tidak membutuhkan waktu lama, Queen pun sampai di rumah sakit. Queen cepat-cepat menuju ruangannya, dia tidak mau sampai bertemu dengan Daddynya lagi.


Sementara itu di ruangan rawat Putri, Mommy Vivian tak henti-hentinya menangis saat Daddy Darwis menceritakan hal yang menimpa Queen. Tadi malam Daddy Darwis memang pulang tanpa memberitahukan istrinya itu.


"Mom, lebih baik sekarang kita pindahkan Putri ke rumah sakit di Jakarta, biarkan Queen tenang dulu karena Daddy tidak mau menambah luka hati Queen dengan berada terus di sini," seru Daddy Darwis.


Mommy Vivian hanya menganggukkan kepalanya, dia juga tidak mau membuat Queen tambah trauma.


Daddy Darwis pun mengurus kepindahan Putri, dan saat ini mereka pun bersiap untuk pindah ke rumah sakit Jakarta.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Maaf Dr.Queen, hari ini pasien yang bernama Putri Darwis akan dipindahkan ke Jakarta dan semuanya sudah siap, apa dokter mau menemuinya terlebih dahulu?" seru suster.


"Tidak perlu, kalau pasien mau pindah itu lebih baik."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit undur diri."


Suster itu pun keluar dari ruangan Queen, Queen menyandarkan punggungnya. Tatapannya jauh menerawang ke atas langit-langit ruangannya, entah apa yang saat ini sedang Queen pikirkan.


Berbeda dengan Rifki, Rifki tampak merasa kaget setelah mendengar laporan dari rekan-rekan kerjanya kalau Alfa sepanjang malam terus saja berontak dan berteriak-teriak tidak jelas. Bahkan Alfa berusaha membenturkan kepalanya ke dinding.


Rifki melihat keadaan Alfa yang saat ini sedang duduk di sudut ruangan dengan memeluk kedua lututnya sembari terlihat ketakutan.


"Astagfirullah, kenapa jadi begini?" gumam Rifki.


"Sepertinya dia depresi, Rif," seru Diki yang merupakan sahabat Rifki.


Rifki memperhatikan Alfa, ada sedikit rasa iba melihat keadaan Alfa seperti itu. Entah permasalahan apa yang terjadi dalam keluarga Queen, yang jelas permasalahan itu sangat berat sehingga berdampak luar biasa terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1



__ADS_2