
Saat ini Safa terlihat sedang berbicara dengan dengan seorang pria, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, pokoknya aku ingin semuanya berhasil dan kamu jangan sampai bilang kalau ini semua suruhanku," seru Safa.
"Kalau aku tergantung dengan bayaran yang akan kamu berikan kepadaku," sahut pria itu.
Safa pun mengeluarkan uang sebanyak 1 juta dan memberikannya kepada pria itu.
"Baiklah, aku akan segera melakukannya."
Pria itu kemudian pergi dengan menggunakan motornya, sedangkan Safa tampak menyunggingkan senyumannya.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Rifki, kamu juga tidak boleh mendapatkan Rifki," gumam Safa.
Hari ini pasien yang datang ke klinik Queen sangat banyak, membuat Queen merasa kewalahan. Sepasang suami istri masuk ke dalam ruangan Queen dengan membawa balitanya yang terlihat kurus.
"Pagi, Bu dokter!"
"Pagi Bu, ada keluhan apa Bu?" tanya Queen ramah.
"Ini Bu dokter, anak saya demam."
"Silakan Ibu, tidurkan anaknya."
Ibu itu membaringkan tubuh anaknya dan Queen mulai memeriksanya.
"Ya Allah, panasnya tinggi banget. Sudah berapa hari anak ibu demam?" tanya Queen.
"Sudah 1 Minggu, Bu dokter."
"Astagfirullah, kenapa Ibu tidak bawa ke sini untuk diperiksa?"
"Maaf Bu dokter, saya dan suami saya tidak punya uang untuk memeriksakan anak kami, jadi kami hanya mengompresnya saja di rumah," seru ibu itu dengan deraian airmata.
"Usia anak ibu sekarang berapa tahun?"
"3 tahun, Bu dokter."
"Anak kalian bukan hanya demam, tapi dehidrasi juga kekurangan cairan. Lihatlah kulitnya sudah menempel pada tulang, dan itu artinya anak Ibu mengalami kekurangan cairan."
"Terus bagaimana Dok? apa anak kami baik-baik saja?" tanya suaminya.
"Anak kalian terpaksa harus di infus dulu di sini dan jangan dulu pulang," sahut Queen.
"Tapi dokter kami tidak punya uang untuk biaya perawatannya, ini juga kami hanya punya uang untuk pemeriksaan saja," seru Ibu itu dengan mengeluarkan plastik yang berisi uang pecahan dua ribuan yang dia ikat dengan karet gelang.
Queen tampak iba melihat pasangan suami istri di hadapannya ini, sudah dipastikan suaminya bekerja keras untuk mendapatkan uang itu.
"Kalian tidak usah memikirkan soal biaya pengobatan, dengan melihat anak kalian kembali sehat saja, saya akan merasa sangat bahagia. Jadi, kalian bawa kembali uang itu dan anak kalian akan mendapatkan perawatan di sini," seru Queen.
__ADS_1
"Ya Allah, terima kasih Bu dokter, Bu dokter baik sekali semoga rezeki Bu dokter semakin lancar."
"Amin, ya sudah kalian boleh menjaga anak kalian dan untuk beberapa hari ke depan, biarkan anak kalian dirawat di sini dulu."
"Baik Bu dokter, sekali lagi kami ucapkan terima kasih."
"Iya, sama-sama."
Anak balita itu dirawat di sebuah ruangan yang ada di klinik Queen, dan Queen kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak terasa, waktu sudah sore dan Queen pun siap-siap untuk pulang. Sebelum pulang, Queen pun datang ke kamar Wildan, balita yang sedang sakit itu.
"Bagaimana keadaan Wildan?"
"Alhamdulillah sudah mulai membaik dok, demamnya pun sudah mulai turun."
"Syukurlah, kalau begitu saya sekarang pulang dulu tapi habis Maghrib saya ke sini lagi buat nemenin kalian."
"Baik Bu dokter."
Baru saja Queen mau pamit pulang, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak.
"Bu dokter! Bu dokter!"
Queen kaget dan langsung keluar, begitu pun dengan pasangan suami istri itu yang ikut keluar karena merasa penasaran.
"Bu dokter tolong, istri saya mau melahirkan tapi saya tidak bisa membawa istri saya ke sini karena kondisinya sangat lemah dan sudah pingsan juga, jadi bisakah Bu dokter datang ke rumah saya untuk membantu istri saya?"
Queen tampak berpikir sejenak, tapi jiwa dokter Queen tidak bisa menolaknya dan akhirnya Queen pun bersedia untuk ikut pria itu.
"Bu dokter bisa mengendarai motor tidak?" tanya pria itu.
"Bisa, memangnya kenapa?"
"Ini Bu dokter, saya lupa kalau saya harus beli makanan untuk istri saya, kalau Bu dokter tidak keberatan bisa tidak, Bu dokter datang sendiri ke rumah saya pakai motor saya biar nanti saya pulangnya naik ojeg saja. Kasihan, istri saya dari tadi bilangnya ingin makan nasi Padang takutnya kalau gak dikabulin, jadi kenapa-napa."
Lagi-lagi Queen tampak berpikir, entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Tapi saya tidak tahu rumah Mas, ada di mana?" seru Queen.
"Saya dari kampung sebelah, kalau Bu dokter sampai di sana, Bu dokter tinggal tanya saja rumahnya Ibu Ningsih yang mau melahirkan pasti semuanya tahu."
"Baiklah."
Pria itu pun menyerahkan kunci motornya kepada Queen, Queen kembali masuk ke dalam klinik untuk mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
Setelah Queen mengambil peralatannya, Queen pun segera menaiki motor pria itu dan pergi menuju kampung sebelah. Pria itu menyunggingkan senyumannya, ternyata dia adalah orang yang tadi pagi bersekongkol dengan Safa. Pria itu tampak mengacungkan jempol kepada Safa yang saat ini berada di balik pohon.
"Orang itu kenapa Pak, kok mengacungkan jempol kepada wanita itu?" seru Ibunya Wildan.
__ADS_1
"Entahlah Bu, Bapak juga tidak tahu."
"Mudah-mudahan Bu dokter, baik-baik saja ya, Pak."
"Amin."
Saking paniknya, Queen mengendarai motornya dengan lumayan kencang karena dia takut terjadi kenapa-napa kepada istri si pria itu.
Queen memang bukan bidan atau pun dokter kandungan, tapi setidaknya Queen bisa membantu mengecek kondisi pasien.
"Kali ini tamatlah riwayatmu, Queen," batin Safa dengan senyumannya.
Queen mulai oleng dan kehilangan keseimbangannya.
"Lah, kok motornya gini sih?" gumam Queen.
Queen berusaha menarik remnya tapi ternyata remnya blong, Queen mulai panik karena sebentar lagi dia akan melewati jembatan pembatas kampung itu dengan kampung sebelah.
"Ya Allah, kenapa ini?"
Motor yang dikendarai Queen semakin tidak terkendali, hingga akhirnya motornya menabrak pembatas jembatan dan tubuh Queen terpental jatuh ke dalam sungai yang berada di bawah jembatan.
Queen berusaha meminta tolong, namun sayang arus sungai itu sangatlah deras dan yang lebih parahnya lagi, Queen sama sekali tidak bisa berenang.
"To-long."
Queen berusaha minta tolong, tapi arus sungai itu terlalu deras dan akhirnya tubuh Queen terseret air entah ke mana.
Pranggg...
Mommy Vivian menjatuhkan piring sampai pecah berserakan di lantai.
"Astaga Mommy, ada apa?" tanya Putri panik.
"Perasaan Mommy tidak enak Put, Mommy ingat sama Queen."
"Ya ampun Mommy, sebentar lagi Kak Queen pulang palingan sekarang dia lagi jalan menuju rumah," sahut Putri.
"Nyonya tidak apa-apa, kan?"
"Tidak Bi."
"Ya sudah, pecahan piringnya biar saya saja yang bersihkan."
"Terima kasih Bi, maaf sudah merepotkan."
Mommy Vivian pun segera keluar dan berdiri di depan teras sembari celingukan menunggu kepulangan Queen.
"Mudah-mudahan saja, Queen baik-baik saja dan itu bukan merupakan firasat buruk," batin Mommy Vivian.
__ADS_1