
Rifki pun sampai di lokasi dimana Raffi berada, dari kejauhan terlihat ada mobil Daddy Darwis di sana.
"Bukanya itu mobil Daddy, kenapa Daddy ada di sini?" batin Rifki.
Rifki memarkirkan motornya sedikit agak jauh dari lokasi, lalu Rifki mulai mengendap-ngendap menghampiri rumah tua itu dan bersembunyi di balik mobil Daddy Darwis.
Raffi menutup kedua telinganya. "Kenapa tangisan anak itu sangat menyebalkan? hentikan tangisannya, atau aku tembak anak itu!" bentak Raffi.
Queen semakin mengeratkan pelukannya kepada Putra.
"Putra, Mami mohon berhentilah jangan menangis lagi," lirih Queen.
"Itu suara tangisan Putra," batin Rifki.
Rifki sudah tidak menunggu lagi, akhirnya dia pun menghampiri rumah tua itu. Anak buah Raffi yang menjaga pintu, langsung menyerang Rifki dan perkelahian pun tidak bisa terelakan lagi.
Rifki menghadapi 3 orang yang badannya besar-besar, sedangkan di dalam Raffi berusaha merebut Putra dari pelukan Queen.
"Berikan anak ini, akan aku bunuh dia."
"Jangan Raffi, aku mohon. Jangan lakukan itu."
Raffi terus saja berusaha mengambil Putra, hingga akhirnya Raffi pun bisa mengambil Putra dari pelukan Queen. Sedangkan Daddy Darwis tidak bisa melakukan apa-apa karena dia lemas sekali tidak ada tenaga untuk melawan Raffi.
Tangisan Putra semakin kencang membuat Rifki yang berada di luar merasa geram, dia memukuli ketiga anak buah Raffi sampai ketiganya tidak bisa berkutik lagi.
Setelah Rifki bisa mengalahkan ketiganya, Rifki pun segera mengeluarkan pistolnya dan masuk ke dalam rumah. Rifki menendang pintu kamar yang dijadikan tempat penyekapan Queen dan Putra.
"Jangan bergerak kamu, Raffi!" teriak Rifki.
"Wah, pak polisi sudah datang ternyata," seru Raffi dengan senyumannya.
Queen memalingkan wajahnya, dia masih ingat dengan foto-foto itu dan Queen sangat membenci Rifki karena ternyata Rifki tidak mengangkat teleponnya karena sedang asyik dengan wanita lain.
Berbeda dengan Queen, Rifki justru sangat emosi melihat istrinya seperti itu bahkan wajah cantiknya terlihat penuh lebam dan berdarah.
"Kurang ajar kamu Raffi, berani sekali kamu melukai istriku!" bentak Rifki.
"Jangan mendekat, atau anak ini akan mati sekarang juga," ancam Raffi.
Raffi sudah menodongkan pistolnya ke kepala Putra membuat Rifki, Queen, dan Daddy Darwis membelalakkan matanya.
"Raffi, lepaskan Putra. Aku mohon."
Lagi-lagi Queen memohon kepada Raffi dengan deraian airmatanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" seru Rifki.
Queen hanya melirik sedikit kepada Rifki, lalu dia kembali fokus kepada Putra. Rifki tampak bingung dengan sikap istrinya itu yang dari tadi mengacuhkannya.
"Letakan pistol kamu, atau aku akan menembak anak kalian," ancam Raffi.
Rifki terlihat bingung, tapi Rifki juga tidak mau ambil resiko. Akhirnya secara perlahan, Rifki meletakan pistolnya di lantai.
"Aku sudah meletakan pistolnya, jadi sekarang kembalikan Putra!" sentak Rifki.
Tiba-tiba terdengar suara mobil polisi berhenti di depan rumah itu.
"Kalian kurang ajar."
Raffi melempar Putra, dan Rifki dengan sigap menangkap Putra. Lalu Raffi mengarahkan pistolnya kepada Daddy Darwis.
"Kamu harus mati Darwis, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa!".
Dorrr...
Suara tembakan menggema di dalam kamar itu, semua orang tampak membelalakkan matanya.
"Queen!" teriak Rifki.
Timah panas itu menembus punggung Queen karena di saat Raffi menembakan pistolnya, Queen langsung memeluk Daddynya.
Rifki dengan cepat segera mengambil pistolnya dan menembak kaki Raffi sehingga Raffi ambruk dan rekan-rekan Rifki pun segera masuk ke dalam dan langsung membawa Raffi.
Sedangkan Rifki segera menghampiri Queen.
"Sayang."
Salah satu rekan Rifki segera mengambil Putra dari gendongan Rifki, dan Rifki dengan cepat mengangkat tubuh istrinya yang sudah terkulai lemas itu. Dan rekan Rifki yang lainnya juga memapah Daddy Darwis.
Selama dalam perjalanan, Rifki terus saja menciumi Queen dengan airmata yang tidak bisa tertahan lagi.
"Maafkan aku sayang, maaf. Aku sudah telat dan mengabaikan panggilan kamu, aku memang suami yang tidak berguna," seru Rifki dengan deraian airmata.
Rifki merasa ada yang aneh dengan istrinya, dari tadi istrinya tidak merespon kedatangan Rifki. Hati Rifki benar-benar merasa sakit karena istrinya mengacuhkannya dan itu mungkin Queen marah akibat Rifki yang mengabaikan panggilannya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Daddy Darwis, Putra, dan Queen langsung mendapatkan penanganan.
Rifki mengusap wajahnya kasar, bahkan Rifki tampak menundukkan kepalanya dengan sesekali menyeka airmatanya.
"Rifki, bagaimana dengan keadaan Queen?" tanya Mommy Vivian.
__ADS_1
"Belum tahu Mom, Queen masih di ruangan operasi," sahut Rifki lemah.
"Kamu yang sabar ya, Nak," seru Ibu Nur.
"Rifki memang suami yang tidak berguna Bu, karena tidak bisa menyelamatkan istri Rifki sendiri."
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita berdo'a saja supaya Queen selamat," seru Ayah Kemal.
"Amin."
"Mom, bagaimana keadaan Daddy sama Putra?" tanya Rifki.
"Daddymu sudah mendingan, saat ini dia sedang tidur karena efek obat yang diberikan, sedangkan Putra sedang dijaga oleh Alfa."
Rifki tampak menganggukkan kepalanya, sungguh sampai saat ini hati Rifki merasa sangat ngilu melihat sikap Queen yang seolah-olah marah kepadanya.
Cukup lama Rifki dan semuanya menunggu, pintu ruangan operasi pun terbuka dan Rifki langsung menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rifki khawatir.
"Alhamdulillah pelurunya sudah berhasil saya keluarkan, tapi kondisinya untuk saat ini belum stabil dan masih kritis. Semuanya berdo'a saja semoga pasien malam ini bisa melewati masa kritisnya," seru dokter.
"Astagfirullah."
Rifki kembali mengusap wajahnya kasar, sungguh Rifki sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa istri tercintanya itu.
"Nyonya Vivian, keadaan Nenek Arini semakin kritis," seru Bi Atikah berlari dengan napas yang ngos-ngosan.
Semuanya pun segera menuju ruangan rawat Nenek Arini, dan menunggu dokter memeriksa kondisi Nenek Arini.
"Bagaimana dokter keadaan Mama saya?" tanya Mommy Vivian saat dokter keluar dari ruangan pemeriksaan Nenek Arini.
"Maaf Nyonya, Dr.Arini meninggal dunia."
"Inalillahi wainnailaihi raji'un."
Malam ini menjadi malam yang sangat menyedihkan untuk keluarga Darwis, Nenek Arini meninggal dunia, begitu pun dengan Queen yang masih dalam kondisi yang kritis.
Jenazah Nenek Arini segera di bawa ke rumah duka, begitu pun dengan Daddy Darwis yang meminta pulang karena memang pada dasarnya Daddy Darwis tidak mengalami luka yang serius.
"Mom, Dad, maafkan Rifki karena Rifki tidak bisa ikut pulang soalnya Rifki harus jagain Queen."
"Iya, tidak apa-apa Nak. Lebih baik kamu di sini saja, jagain Queen."
"Iya Mom."
__ADS_1
Akhirnya semuanya pun pulang kecuali Rifki yang harus menjaga Queen, entah apa yang akan Rifki katakan jikalau Queen sadar nanti. Pasti Queen akan merasa sangat terpukul sekali dengan kepergian Nenek kesayangannya itu.