
Nenek Arini dan Bi Atikah masuk ke dalam kamar Queen saat tersadar mendengar kegaduhan di rumah itu. Ternyata Alfa memang sengaja memberikan obat tidur kepada semua penghuni rumah supaya dia bisa leluasa.
"Astaga Queen, kamu kenapa Nak?" tanya Nenek Arini panik.
Rifki melepaskan pelukannya. "Nek, tolong Nenek jaga Queen dulu ya, Rifki mau buat perhitungan dulu dengan pria brengsek itu."
Rifki langsung keluar dan menuruni anak tangga, ternyata Alfa sudah diikat oleh Pak Darna. Rifki jongkok di hadapan Alfa yang sekarang sudah setengah sadar itu.
"Kamu memang pria brengsek, tidak tahu malu."
Alfa menatap tajam ke arah Rifki, matanya memerah karena merasa sangat benci kepada pria tampan yang sudah merebut wanitanya itu
"Kamu sudah merebut Queen dariku."
Rifki tersenyum sinis. "Merebut Queen darimu? bukanya kamu suami dari adiknya Queen? seharusnya kamu punya rasa malu, sudah menikah dengan adiknya masih ingin mendapatkan Kakaknya."
"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu!" sentak Alfa.
"Terlepas dari masalah apa pun itu, aku tidak perduli tapi satu hal yang kamu harus tahu, jika kamu seorang pria yang benar-benar mencintai wanita, maka kamu akan melindunginya dan membiarkan dia bahagia bukan justru malah ingin merusaknya."
"Brengsek, apa kamu mencintai Queen?" teriak Alfa.
"Iya, aku mencintai Queen dan kamu tahu, aku akan berusaha melindungi wanita yang aku cintai dengan segenap jiwa dan ragaku walaupun nyawa aku yang menjadi taruhannya, tidak seperti kamu yang pengecut," sahut Rifki.
Alfa semakin dibuat geram oleh ucapan Rifki, tidak lama kemudian sebuah mobil polisi datang.
"Malam, Pak!"
"Malam, bawa orang ini dan jebloskan dia ke penjara," seru Rifki.
"Siap, Pak."
Kedua polisi itu akhirnya membawa Alfa tanpa perlawanan sama sekali.
"Terima kasih Mas Rifki, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Nona Queen kalau Mas Rifki tidak cepat datang," seru Pak Darna.
"Sama-sama, kalau begitu aku ke dalam dulu Pak."
Rifki segera naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Queen, dilihatnya Queen sudah memakai baju dan duduk di atas tempat tidurnya dengan ditemani Nenek Arini dan Bi Atikah.
"Terima kasih Nak, kamu sudah menyelamatkan Queen."
"Sama-sama Nek."
"Ternyata Alfa memang sudah mempersiapkan semuanya, dia memberikan obat tidur kepada semua penghuni rumah ini supaya dia bisa leluasa," seru Nenek Arini.
"Iya Nek."
__ADS_1
"Sekarang di mana orang itu?"
"Sudah Rifki amankan, tadi Rifki menyuruh teman Rifki untuk membawanya ke kantor polisi."
"Alfa benar-benar keterlaluan, ya sudah Nenek mau menghubungi Darwis dulu."
Nenek Arini pun keluar dari kamar Queen...
"Bibi buatkan teh hangat ya, untuk Non Queen."
Bi Atikah juga ikut keluar dari kamar Queen, perlahan Rifki menghampiri Queen dan duduk di hadapan Queen. Queen menatap Rifki dengan deraian airmata, Rifki pun mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata Queen.
"Jangan menangis lagi, semuanya akan baik-baik saja kok, pria itu sudah dijebloskan ke dalam penjara."
"Terima kasih, Rifki."
Rifki tersenyum dan mengelus kepala Queen dengan penuh kasih sayang. Sementara itu, Daddy Darwis yang merasa terkejut dengan pemberitahuan Nenek Arini, segera memutuskan untuk pulang.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Daddy Darwis pun sampai di rumah dan segera berlari menuju kamar Queen.
Daddy Darwis segera masuk ke dalam kamar Queen dan menghampiri anaknya itu.
"Queen, kamu tidak apa-apa kan, Nak?" seru Daddy Darwis panik.
Reflek Queen menggenggam tangan Rifki dengan sangat erat membuat Rifki kaget. Melihat kedatangan Daddynya, Queen bukanya senang justru dia merasa takut karena pasti Daddynya akan memarahinya lagi karena memang pada dasarnya apa pun yang dilakukan Queen, semuanya akan terlihat salah di mata Daddynya.
"Kamu kenapa Queen? kamu tidak apa-apa kan?" seru Daddy Darwis khawatir.
"Ini bukan kesalahan Queen, Queen tidak menggoda Alfa, jadi Queen mohon jangan pukuli Queen lagi," sahut Queen dengan bibir bergetar.
Nenek Arini dan Rifki sampai tercengang mendengar ucapan Queen, begitu juga dengan Daddy Darwis yang merasakan sakit yang teramat luar biasa mendengar jawaban dari anaknya itu.
"Setakut itukah kamu sama Daddy, Queen?" seru Daddy Darwis.
"Pasti Daddy akan memarahi Queen dan menyalahkan Queen atas kejadian ini kan? Daddy tidak akan percaya atas apa yang Queen katakan, tapi Queen berani bersumpah kalau Queen tidak pernah menggoda Alfa," seru Queen dengan deraian airmata.
Queen mulai bangkit dari tempat tidurnya dan menghindari Daddynya itu, raut wajah Queen terlihat ketakutan.
"Tenang sayang, tidak akan ada yang menyalahkan kamu," seru Nenek Arini.
"Ini bukan kesalahan Queen Nek, Queen tidak menggoda Alfa."
"Iya, Nenek percaya sama kamu, sangat percaya. Jadi, kamu jangan takut karena Nenek tidak akan membiarkan Daddy kamu memukuli kamu lagi."
Rifki sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, sebesar itu rasa takut dan trauma Queen terhadap Daddynya sendiri. Selama ini Queen selalu disalahkan oleh Daddynya, walaupun Queen bersikap benar tapi Daddynya tidak pernah mempercayainya dan selalu memukul Queen tanpa ampun.
Queen mulai histeris dan Queen langsung berlari keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Queen, kamu mau ke mana?" teriak Nenek Arini.
"Queen."
Daddy Darwis hendak menyusul Queen tapi Rifki menahannya.
"Biar aku saja yang mengejar Queen."
Rifki langsung mengejar Queen, sedangkan Nenek Arini tampak terduduk dengan deraian airmata.
"Lihatlah Darwis akibat dari perlakuan mu selama ini kepada Queen, Queen begitu takut dan trauma karena kamu selalu menyalahkan Queen dan memukulinya!" bentak Nenek Arini.
Dadday Darwis hanya bisa menundukkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka kalau efeknya begitu sangat besar untuk Queen.
Queen berlari tidak tahu arah, bahkan Queen sampai lupa tidak memakai alas kaki. Saat ini waktu sudah malam, tapi Queen sama sekali tidak merasa takut.
Dia terus saja berlari dengan deraian airmatanya, hingga tidak lama kemudian Queen sampai di sebuah jembatan yang menjadi pembatas antara kampung Nenek Arini dengan kampung sebelah.
Queen berdiri di pembatas jembatan dan melihat ke bawah, air sungai itu begitu sangat deras.
"Mungkin dengan aku mati, semuanya akan bahagia," gumam Queen.
Queen mulai naik satu tahap ke atas pembatas jembatan itu, hingga di saat Queen sudah mau naik satu tahap lagi, Rifki segera menarik tangan Queen sehingga Queen jatuh ke pelukan Rifki.
"Kamu mau ngapain?" dingin Rifki.
"Lepaskan Rif, lebih baik aku mati biar semuanya bahagia," teriak Queen dengan terus saja berontak.
"Itu tidak akan menyelesaikan masalah Queen, justru akan memperkeruh masalah!" bentak Rifki.
"Aku sudah capek Rif, di tekan dan disalahkan terus-menerus. Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya jadi aku, aku benar-benar sudah capek hidup seperti ini," sahut Queen dengan deraian airmatanya.
Queen terus saja berontak tapi Rifki tidak melepaskan Queen.
"Lepaskan aku Rif, biarkan aku mati karena tidak ada yang peduli denganku, mereka semua membenciku."
"Siapa bilang tidak ada yang peduli denganmu? lihat Nenek Arini, beliau begitu sangat menyayangimu dan-------"
Queen menatap Rifki karena tiba-tiba Rifki menghentikan ucapannya. Rifki menatap mata indah milik Queen. "Dan aku, aku sangat peduli kepadamu jadi jangan pernah kamu berpikir kalau tidak ada yang peduli dan menyayangimu."
Airmata Queen semakin deras, Rifki pun membawa Queen ke dalam pelukannya.
"Please jangan berbuat hal yang nekad lagi, hidupmu sangat berharga."
Queen menenggelamkan wajahnya ke dada Rifki, tangisannya semakin kencang sungguh hati Queen benar-benar sakit dan selama ini Queen hanya bisa memendamnya.
__ADS_1