
Semuanya berbincang-bincang dengan gembira, Daddy Darwis sampai tidak lepas menggenggam tangan Queen bahkan Daddy Darwis terus saja mencium tangan Queen saking bahagianya.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Daddy Darwis.
"Kalau saya, inginnya secepatnya Pak," sahut Rifki.
"Ya sudah, bagaimana kalau bulan depan saja? kalian mau menikah di gedung mana?" seru Daddy Darwis.
"Belum tahu Pak, lagipula aku dan Queen harus melengkapi berkas dulu untuk nikah kantor, nanti setelah selesai baru aku akan cari gedungnya," sahut Rifki.
"Baiklah, kalian fokus saja dengan persiapan nikah kantor, soal gedung dan lain-lain biar Daddy dan Mommy yang urus," seru Daddy Darwis.
"Benar itu, kalian gak boleh kecapean biar kami saja yang urus," sambung Mommy Vivian.
Rifki dan Queen hanya bisa menganggukkan kepalanya, setelah selesai berbincang-bincang, Rifki dan kedua orangtuanya pun pamit pulang.
Queen masuk ke dalam kamarnya....
Tok..tok..tok..
"Masuk saja, tidak dikunci kok!" teriak Queen.
Pintu kamar Queen pun terbuka, dan terlihat Putri berdiri di ambang pintu.
"Putri, ada apa?"
"Bisakah Putri bicara sebentar sama Kak Queen?"
"Masuklah."
Putri pun perlahan menghampiri Queen, Putri tampak menundukkan kepalanya. Dilihatnya perut Putri sudah mulai terlihat, karena saat ini usia kandungan Putri sudah menginjak usia 4 bulan.
Queen menarik pelan tangan Putri supaya duduk di sampingnya.
"Ada apa, Putri?" tanya Queen dengan menggenggam tangan Putri.
"Kak, maafkan Putri ya, karena selama ini Putri sudah jahat sama Kakak," seru Putri dengan deraian airmata.
Queen menghapus airmata Putri dengan tangannya. "Kakak sudah memaafkan kamu, jadi kamu tidak usah meminta maaf lagi."
"Kakak memang sangat baik dan berhati malaikat, walaupun Putri sudah sangat jahat sama Kakak tapi Kakak gak pernah marah sama Putri."
Queen menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya. "Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu sekarang kita jalani saja kehidupan kita ke depannya."
Putri melepaskan pelukannya. "Kak, Putri ada satu permintaan untuk Kakak, maukah Kakak mengabulkannya?"
"Permintaan apa? kalau Kakak sanggup mengabulkannya, insya Allah Kakak akan mengabulkan permintaanmu," sahut Queen.
"Kak, penyakit Putri sudah semakin parah tapi Putri berusaha menjaga kandungan Putri. Jika suatu saat nanti, Putri sudah tidak bisa bertahan lagi dengan penyakit Putri, tolong jaga anak Putri."
__ADS_1
Queen membelalakkan matanya mendengar ucapan Putri.
"Hanya Kakak yang bisa menjaga anak Putri, Putri mohon sayangi anak Putri seperti anak Kakak sendiri."
Airmata Queen akhirnya menetes, lagi-lagi Queen menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya.
"Kamu jangan patah semangat, Kakak yakin kamu adalah wanita kuat dan kamu akan bisa bertahan lebih lama lagi."
Putri sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sungguh beruntung mempunyai Kakak yang sangat baik tapi sayang, dia yang sudah berbuat jahat kepada Kakaknya.
Sementara itu, di rumah Safa...
"Kurang ajar, jadi Rifki mau menikah dengan wanita itu? aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi," geram Safa.
***
Keesokan harinya...
Mommy Vivian dan Bi Atikah sedang menyiapkan sarapan untuk semuanya. Satu persatu anggota keluarga mulai keluar dan duduk di meja makan.
"Queen mana?" tanya Daddy Darwis.
"Kak Queen masih di kamarnya, Dad," sahut Putri.
Tidak lama kemudian, Queen pun menuruni anak tangga dengan melihat-lihat ponselnya.
"Pagi semua!"
Mommy Vivian langsung mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Queen.
"Terima kasih, Mom."
"Makan yang banyak sayang, jangan sampai kamu sakit di hari pernikahan kamu nanti," seru Daddy Darwis.
"Iya Dad."
Sementara itu, di kediaman Rifki....
Ayah Haris memberikan sebuah map kepada Rifki membuat Rifki mengerutkan keningnya.
"Apa ini, Yah?" tanya Rifki.
"Ini surat kepemilikan sawah milik Ayah."
"Buat apa, Ayah memberikannya kepada Rifki?"
"Kamu kan mau menikah, dan hanya ini yang bisa Ayah berikan untuk kamu. Kamu bisa menjual sawah itu untuk biaya gedung dan yang lainnya," sahut Ayah Haris.
Rifki tersenyum dan menyerahkan kembali surat kepemilikan sawah itu.
__ADS_1
"Ayah tidak usah menjual sawah itu, masalah gedung dan yang lainnya biar Rifki urus sendiri, insya Allah Rifki bisa membayarnya karena selama ini Rifki juga punya tabungan."
"Tapi nyewa gedung itu mahal, Nak, uang tabunganmu bisa habis," seru Ibu Nur.
"Tidak apa-apa Bu, uang bisa dicari tapi kebahagiaan susah untuk mencarinya. Ibu dan Ayah ingat, 4 tahun lalu bagaimana terpuruknya Rifki bahkan Ibu dan Ayah menanggung malu atas semuanya. Rifki sudah yakin untuk menikahi Queen karena Queen adalah wanita yang sangat sempurna untuk Rifki dan untuk saat ini hanya Queen kebahagiaan Rifki. Jadi, Rifki akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Rifki."
"Ya sudah, kalau memang itu yang menjadi keputusanmu. Tapi, Ayah dan Ibu mengizinkan kamu untuk menjual sawah itu, jika kamu mengalami kekurangan biaya," seru Ibu Nur.
"Iya Bu, terima kasih."
Sebenarnya Rifki tidak ingin acara pernikahan yang mewah, tapi profesi dia yang sebagai polisi dan Queen seorang dokter, mengharuskan dia melakukan pernikahan yang sedikit mewah karena Rifki ingin membahagiakan Queen.
Seperti biasa, Rifki akan berangkat bareng dengan Queen dan mengantarkan Queen terlebih dahulu ke klinik.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di klinik Queen.
"Sayang, maaf jika nanti beberapa hari ke depan kita bakalan jarang ketemu soalnya aku harus mengurus berkas-berkas untuk sidang nikah kita," seru Rifki.
"Iya, tidak apa-apa, aku do'akan semoga semuanya lancar sampai hari pernikahan kita nanti."
"Amin, kamu jangan nakal selama kita jarang bertemu."
"Nakal apaan, seharusnya aku yang bilang kaya gitu bukan malah kamu," seru Queen.
"Kalau aku sudah jelas gak bakalan nakal, nah, kamu kan banyak pasien pria yang datang ke sini baik yang benar-benar berobat mau pun yang cuma buat godain kamu doang. Jadi, lain kali kamu harus pintar sedikit jangan main masukin pasien pria sembarangan," kesal Rifki.
"Astaga, kamu cemburu?"
"Iyalah masa enggak."
Queen menangkup wajah Rifki dengan gemasnya.
"Sudah ah, sana berangkat kalau kamu masih di sini, bisa-bisa kita bertengkar dengan alasan yang sama sekali tidak penting."
Rifki tersenyum dan akhirnya memeluk Queen. "Maaf, sayang."
"Sial, kenapa dari hari ke hari mereka semakin mesra saja. Pokoknya aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua," gumam Safa.
Safa memang menjadi manusia yang tidak ada kerjaan, karena setiap hari dia akan diam di dekat klinik Queen hanya untuk memata-matai Queen dan Rifki.
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya."
Rifki pun melepaskan pelukannya. "Sudah sana, kamu masuk karena aku akan pergi dari sini setelah kamu masuk ke klinik kamu," seru Rifki.
"Baiklah, kamu hati-hati ya."
Rifki pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Queen pun memutuskan untuk masuk ke dalam kliniknya.
Rifki segera memakai helmnya, tapi entah kenapa perasaan Rifki menjadi tidak enak. Rifki tampak celingukan ke sana ke mari, tapi Rifki sama sekali tidak melihat siapa pun ada di sana.
__ADS_1
"Perasaan, ada yang sedang memperhatikan," gumam Rifki.
Rifki terdiam sebentar, hingga akhirnya Rifki pun segera meninggalkan klinik Queen. Rifki tidak tahu saja kalau selama ini Safa memang selalu memantau Queen dan bersembunyi di balik pohon b