KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 48 Kades Tampan


__ADS_3

Queen kembali ke klinik, sedangkan Raffi segera membawa Papanya ke rumah sakit milik Nenek Arini.


Benar yang dikatakan Queen, Pak Kades langsung mendapatkan penanganan.


"Bagaimana Dok, keadaan suami saya?" tanya Bu Kades.


"Sepertinya suami Ibu harus istirahat total untuk sementara waktu, soalnya kadar gulanya sangat tinggi dan suami ibu jangan sampai kelelahan," sahut dokter.


"Baiklah dokter, terima kasih."


Dokter pun pergi dari ruangan rawat Pak Kades, Bu Kades dan Raffi masuk dan duduk di samping Pak Kades.


"Raffi, Papa sepertinya harus istirahat jadi kamu harus menggantikan Papa menjadi Kades, tugas Papa hanya tinggal satu tahun lagi," lirih Pak Kades lemah.


"Raffi tidak mau Pa, apaan jadi Kades mending Raffi mengurus usaha Raffi," tolak Raffi.


"Raffi, kamu juga kan tahu kalau di kampung kita itu tidak ada orang yang pendidikannya tinggi, mereka kebanyakan hanya lulusan Sekolah Dasar paling tinggi lulusan SMP jadi, mereka tidak akan mengerti dengan tugas Kades."


"Tapi Raffi juga tidak mengerti dengan tugas Kades, Pa."


"Kamu itu lulusan terbaik Universitas xxx, pasti kamu akan cepat mengerti. Lagipula, kalau ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa tanya sama Papa."


Raffi tampak berpikir, dia tidak tahu harus menyetujuinya atau tidak.


"Kita lihat saja nanti, Raffi harus pikir-pikir dulu."


"Tapi pikir-pikirnya jangan lama-lama Raffi."


Raffi tidak mendengarkan lagi ucapan Papanya itu, karena entah kenapa saat ini di otaknya hanya ada dokter cantik yang baru saja dia lihat.


Setelah beberapa saat, Pak Kades pun tertidur efek dari obat yang diberikan oleh dokter. Bu Kades menghampiri anaknya yang saat ini sedang melamun.


"Kamu kenapa? kok dari tadi Mama lihat, kamu melamun terus, apa yang sedang kamu lamunin?"


"Wanita yang tadi siapa? perasaan Raffi baru melihatnya?"


"Maksud kamu Dr.Queen? dia cucunya Nenek Arini, sudah lama dia tinggal di sini dan dia juga sudah membangun klinik di bekas gedung balai desa sana."


"Pantas saja Raffi baru melihatnya, kenapa Mama gak bilang ada wanita cantik seperti itu, mungkin Raffi akan pulang."


"Percuma dikasih tahu juga, Dr.Queen sudah menikah baru saja satu Minggu."

__ADS_1


"Astaga, Raffi telat. Apa dia menikah dengan orang sini?"


"Iya, dia menikah dengan Nak Rifki."


"Ya ampun, kenapa aku selalu kalah sama si Rifki sih," kesal Raffi.


Mama Raffi hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Raffi hanya bisa terdiam ternyata wanita cantik yang dia sukai sudah menikah.


Raffi dan Rifki dari dulu memang musuh bebuyutan, walaupun Rifki bukan dari keluarga kaya tapi Rifki selalu menang dibandingkan Raffi.


Contohnya saja dulu, Raffi dan Rifki bersaing untuk mendapatkan Safa namun Safa justru jatuh ke pelukan Rifki. Dan Raffi memutuskan untuk pergi dari kampung itu, tapi setelah Raffi pergi dia mendengar kalau Safa kabur di saat hari pernikahan mereka membuat Raffi sedikit senang karena bukan dia saja yang patah hati melainkan Rifki juga mengalaminya.


***


Sore pun tiba, Raffi memutuskan untuk pulang tapi Raffi ingin mampir dulu ke klinik Queen. Entah kenapa, Raffi justru semakin ingin mendekati Queen walaupun dia tahu kalau Queen sudah menjadi istri dari musuh bebuyutannya.


Sesampainya di depan klinik Queen, Raffi memperhatikan klinik itu dari dalam mobilnya dan terlihat Queen keluar dengan memapah salah satu lansia yang baru saja berobat kepadanya.


"Bu dokter, ini ada beras untuk membayar biaya pengobatannya," seru lansia itu dengan menyerahkan satu kantong kresek beras kepada Queen.


Queen tersenyum. "Tidak usah Nek, berasnya bawa lagi saja."


"Tidak apa-apa, saya melihat Nenek sehat saja sudah sangat bahagia. Nanti kalau Nenek masih merasa sakit, Nenek datang lagi ke sini dan jangan bawa apa-apa," seru Queen dengan ramahnya.


Nenek itu mengelus pipi Queen. "Kamu baik sekali Nak, Nenek do'akan semoga kamu selalu bahagia dan rezekinya melimpah."


"Amin, terima kasih Nek."


"Bu dokter, sekali lagi terima kasih karena sudah mau mengobati Nenek saya."


"Sama-sama."


Cucu Nenek itu pun akhirnya membawa Neneknya pulang, sedangkan Queen tampak tersenyum.


"Sungguh cantik sekali dokter itu," gumam Raffi.


Queen baru saja membalikan tubuhnya hendak masuk ke dalam klinik, sebuah motor berhenti di depan klinik membuat Queen mengurungkan niatnya untuk masuk.


Senyuman Queen mengembang saat melihat siapa orang itu.


"Sayang."

__ADS_1


Queen menghampiri Rifki dan langsung memeluk Rifki, tentu saja Rifki membalas pelukan istri tercintanya itu.


"Apa kerjaan kamu sudah selesai, sayang?" tanya Rifki.


"Sudah, barusan adalah pasien terakhir."


"Ya sudah, sana ambil tasnya kita pulang. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan."


"Huawaaa...jalan-jalan ke mana?"


"Keliling kota ini, kamu belum tahu kan keindahan kota ini?"


"Asyik, sebentar ya aku ambil tas aku dulu."


Queen pun segera berlari masuk ke dalam klinik untuk mengambil tasnya, sedangkan Raffi yang melihat kemesraan keduanya merasa kesal dan memutuskan untuk pergi dari dari sana.


Rifki menoleh untuk sesaat kepada mobil yang melintas ke hadapannya itu.


"Kok, sepertinya aku kenal dengan orang itu," gumam Rifki.


Tidak lama kemudian, Queen keluar dan mengunci kliniknya.


"Ayo sayang, kita pulang."


"Oke, pegangan ya, soalnya takut jatuh," seru Rifki.


"Siap."


Raffi pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat jengkel, entah kenapa Raffi kesal melihat Rifki dan Queen bermesraan seperti itu padahal mereka adalah suami istri.


"Sepertinya aku harus menerima tawaran Papa untuk menggantikan posisinya sebagai Kades," gumam Raffi.


Sementara itu, pasangan pengantin baru itu baru selesai mandi. Rifki sudah janji akan membawa Queen jalan-jalan.


"Nek, Queen sama Rifki pergi dulu ya, mau jalan-jalan," seru Queen.


"Iya, kalian hati-hati ya."


Queen dan Rifki pun pergi dari rumah Nenek Arini, mereka memutuskan jalan-jalan dengan menggunakan mobil karena Rifki tidak mau Queen sakit karena terkena angin malam.


Queen benar-benar sangat bahagia dan beruntung mempunyai suami seperti Rifki, karena Rifki begitu sangat menjaga dan menyayanginya dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


__ADS_2