
Setelah sarapan bersama, Putri dan kedua orangtua Queen pun memutuskan untuk pulang ke Jakarta karena Daddy Darwis harus mengurus perusahaannya.
Queen dan Rifki saat ini sedang membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke pantai.
"Bawa barang-barangnya jangan banyak-banyak sayang, soalnya kita cuma 3 hari."
"Iya, ini juga cuma satu tas kok."
Setelah beres, keduanya meminta izin kepada Nenek Arini.
"Kalian hati-hati ya, semoga pas pulang dari bulan madu ada berita baik," seru Nenek Arini.
"Amin."
Queen dan Rifki pergi ke pantai menggunakan mobil, selama dalam perjalanan Queen tampak bahagia dan antusias banget bahkan sekali-kali Queen bernyanyi-nyanyi riang membuat Rifki menyunggingkan senyumannya.
Rifki mengusap kepala Queen. "Hal sederhana seperti ini saja bisa membuatmu bahagia, pokoknya aku janji akan selalu membahagiakanmu, Queen," batin Rifki dengan senyumannya.
Selama ini Queen memang bagaikan burung dalam sangkar, gak pernah ke mana-mana. Sejak kecil dia dipaksa untuk belajar, belajar, dan belajar tanpa seorang teman.
Queen baru bisa hidup bebas saat dia menempuh pendidikan di Itali, itu pun dia jalani dengan penuh deraian airmata.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya pasangan pengantin baru itu sampai di sebuah pantai yang tidak jauh dari kampung Rifki. Pantai itu masih asri dan bersih, bahkan saat ini terlihat sepi karena mereka datang bukan di hari weekend.
Queen langsung keluar dari dalam mobil dan berlari menuju bibir pantai.
"Ya Allah, indah banget," gumam Queen.
Perlahan Rifki menghampiri Queen dan memeluk Queen dari belakang.
"Apa kamu bahagia, sayang?"
"Sangat bahagia, terima kasih ya sayang karena kamu sudah membuatku merasakan kebahagiaan yang luar biasa," sahut Queen dengan mata yang berkaca-kaca.
"Syukurlah kalau kamu bahagia, aku janji kalau aku akan selalu membahagiakan kamu dengan caraku sendiri."
Tes...
Airmata Queen menetes ke tangan Rifki membuat Rifki kaget dan membalikan tubuh Queen.
"Kamu kenapa, sayang? kok, nangis?"
"Aku adalah wanita yang paling menyedihkan di dunia ini, aku norak banget kan, Rif? saking bahagianya bisa menginjakan kaki di pantai, aku sampai nangis. Mungkin bagi sebagian orang tidak akan percaya kalau aku baru datang ke pantai, secara orangtuaku seorang pengusaha kaya tapi kenyataannya memang seperti itu, aku anak yang kuper dan tidak tahu apa-apa," seru Queen dengan tawanya tapi airmatanya tidak berhenti menetes.
Rifki menarik tubuh Queen ke dalam pelukannya, Rifki tidak bisa membayangkan semenderita itukah hidup istrinya di masa lalu.
"Sekarang kamu sudah menjadi istri aku, jadi kamu mau apa pun jangan sungkan untuk bilang sama aku dan aku Insya Allah akan berusaha mengabulkan semua keinginan kamu."
Queen semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Rifki, aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu melebihi apa pun," sahut Rifki.
Untuk beberapa saat, keduanya saling berpelukan hingga akhirnya Queen kembali bermain pasir dan air laut seperti anak kecil.
Sementara itu, Rifki justru mengabadikan setiap momen itu bersama Queen. Tawa Queen yang lepas, membuat Rifki beribu-ribu kali bertekad untuk mempertahankan tawa itu supaya tidak hilang dari wajah Queen dan menghapus semua kesedihan Queen.
Sampai suatu saat nanti, Queen akan lupa bagaimana rasanya sedih dan sakit hati.
Setelah Queen puas, Rifki pun mengajak Queen untuk ke kamar yang sudah dia sewa sebelumnya.
"Sayang, aku mandi dulu ya," seru Queen dengan mengambil handuknya.
"Tunggu, aku juga mau mandi."
Rifki segera menarik tangan Queen untuk masuk ke dalam kamar mandi, dan sudah dipastikan apa yang akan Pak Polisi lakukan kepada Bu dokter.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, setelah melakukan honeymoon yang singkat selama 3 hari, akhirnya Queen dan Rifki pun sudah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Kehidupan pasangan pengantin baru itu semakin bahagia.
"Sayang, nanti jangan dulu pulang, aku jemput sekalian," seru Rifki.
"Oke."
Rifki pun mencium seluruh wajah Queen sebelum dia berangkat dinas.
"Siap Bu dokter. Kalau begitu aku pergi dulu."
Rifki pun segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan Queen, Queen tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya.
Queen masuk ke dalam kliniknya dan memulai pekerjaannya. Tiba-tiba seorang pria seumuran Pak Haris datang dengan wajah yang pucat.
"Bu dokter! Bu dokter!" teriak pria yang bernama Wawan itu.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Queen.
"Bu dokter bisa datang ke rumah Pak Kades? soalnya saat ini Pak Kades sedang sakit parah dan beliau tidak mau di bawa ke rumah sakit, jadi bisakah Bu dokter datang ke rumah beliau dan memeriksa keadaan beliau? kata Bu Kades, beliau siap membayar berapa pun kalau Bu dokter bersedia datang," seru Pak Wawan.
Queen tidak bisa menolaknya, bukan karena bayaran yang besar tapi jiwa Queen yang sebagai dokter tidak bisa mengabaikan siapa pun yang membutuhkan pertolongannya.
"Baiklah, sebentar aku bawa alat-alat medis aku dulu," sahut Queen.
Queen pun segera membereskan barang-barang yang harus dia bawa, kemudian mengunci klinik dan memasang tulisan kalau hari ini klinik tutup.
"Silakan Bu dokter."
Pak Wawan membukakan pintu mobil untuk Queen, jarak rumah Pak Kades dengan klinik lumayan jauh dan kalau jalan kaki bisa menghabiskan waktu 20 menitan.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Queen pun sampai di rumah Pak Kades. Queen mengikuti langkah Pak Wawan menuju kamar pribadi Tuannya itu.
"Bu Kades, ini saya sudah membawa Bu dokter," seru Pak Wawan.
"Selamat pagi, Bu Kades!" sapa Queen.
"Selamat pagi, Bu dokter. Dok, tolong periksa suami saya dari tadi pagi kondisinya menurun. Dan akhir-akhir ini kondisi suami saya cepat lelah, suami saya sering merasa lapar tapi kenapa berat badannya justru menurun?" seru Bu Kades.
Queen pun segera memeriksa kondisi Pak Kades yang saat ini sudah sangat lemas itu.
"Sepertinya Pak Kades tekanan darahnya tinggi, beliau juga ada kadar gulanya tinggi," sahut Queen.
"Terus apa yang harus dilakukan?"
"Sepertinya Pak Kades harus dibawa ke rumah sakit, karena kebetulan saya tidak ada stok obat jadi, Pak Kades harus segera di bawa ke rumah sakit sekarang juga," sahut Queen.
"Saya tidak mau ke rumah sakit," lirih Pak Kades.
Queen tersenyum ramah kepada Pak Kades dan mengusap lengan Pak Kades, usia Pak Kades tidak jauh dengan Daddynya jadi, Queen menganggap kalau Pak Kades adalah Daddynya.
"Pak, apa Bapak ingin sembuh?" tanya Queen lembut.
Pak Kades menganggukkan kepalanya lemah.
"Kalau Bapak ingin sembuh, Bapak harus mau dirawat di rumah sakit karena kondisi Bapak saat ini tidak memungkinkan untuk dirawat di rumah. Saya jamin, tidak akan ada apa-apa dan Bapak akan segera sembuh. Jadi, Bapak mau ya di bawa ke rumah sakit?"
Seketika Pak Kades menganggukkan kepalanya dan menurut kepada ucapan Queen.
"Papa, bagaimana kondisi Papa, Ma?"
Seorang pria tampan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Papanya dengan berlari tergesa-gesa.
"Papa kamu harus segera dibawa ke rumah sakit, Raffi," sahut Bu Kades.
"Ya sudah, sekarang juga kita bawa Papa ke rumah sakit."
Queen mulai membereskan alat-alat medisnya.
"Ibu bisa bawa Pak Kades ke rumah sakit xxx, nanti saya akan mengabarkan kepada pihak rumah sakit untuk segera menangani Pak Kades," seru Queen dengan ramahnya.
Raffi yang dari tadi fokus hanya kepada Papanya, tidak sadar kalau di sana ada seorang dokter cantik.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Bu."
"Terima kasih ya Bu dokter, Pak Wawan tolong antarkan Bu dokter ke kliniknya."
"Baik Bu."
Queen pun pamitan dan segera pergi dari rumah Pak Kades itu, sedangkan Raffi masih tidak berpaling memperhatikan Queen sampai Queen menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Cantik," batin Raffi.