KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)
Bab 27 Kekhawatiran Rifki


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Queen dan Rifki pun sampai di rumah sakit.


"Terima kasih."


"Sama-sama, nanti kamu pulang jam berapa?"


"Entahlah, mungkin jam 21.00 malaman."


"Oke, nanti aku jemput."


"Hah, gak usah aku bisa pulang sendiri," tolak Queen.


"Memangnya kamu gak takut kalau pulang sendiri?"


Queen terdiam, dia tampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia takut banget apalagi harus naik taksi, tapi dia juga gengsi kalau harus minta di jemput sama Rifki.


"Takut sih, tapi------"


"Ya sudah, nanti malam aku jemput kamu. Sekarang aku kembali bertugas lagi."


Queen menganggukkan kepalanya, Rifki pun mulai meninggalkan rumah sakit dan Queen tampak menyunggingkan senyumannya.


Sementara itu, Daddy Darwis dan Mommy Vivian sedang pergi bersama Nenek Arini melihat kolam ikan yang sekarang sudah mulai beroperasi. Sedangkan Putri dan Alfa lebih memilih di rumah, Alfa menghampiri Pak Darna.


"Pak, apa saya boleh tanya?"


"Mas Alfa mau tanya apa?"


"Apa Queen sudah lama dekat dengan polisi itu?"


"Oh, maksud Mas Alfa, Mas Rifki ya? mereka tidak terlalu dekat kok, tapi Non Queen dan Mas Rifki suka jogging bersama kalau hari Minggu."


Dada Alfa tiba-tiba terasa sesak mendengar penjelasan Pak Darna, Alfa merasa sangat cemburu kepada Queen yang dengan mudahnya dekat dengan pria lain.


Alfa pun masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di ruangan keluarga, kejadian tadi malam terbayang kembali membuat Alfa sangat geram.


"Sial, kamu sangat licik, Putri," geram Alfa dengan menjambak rambutnya sendiri.


Tidak lama kemudian, Putri pun datang dengan membawakan minuman dingin untuk Alfa.


"Kak, ini aku bawakan minuman dingin untuk Kakak, soalnya hari ini terasa sangat panas," seru Putri.


Alfa menatap Putri dengan tatapan tajamnya, lalu dengan amarah yang memuncak, Alfa pun bangkit dari duduknya dan menepis gelas minuman dingin itu sehingga gelasnya jatuh dan pecah berserakan.


"Apa kamu memasukan obat sialan itu lagi ke dalam minumanku!" teriak Alfa.

__ADS_1


Airmata Putri seketika kembali menetes, bahkan Bi Atikah sama Pak Darna langsung masuk mendengar bunyi gelas pecah dan teriakan Alfa tapi mereka tidak berani mendekat.


"Kamu dan keluarga kamu sudah membuat hidupku hancur, dan aku sangat membencimu!" bentak Alfa.


Alfa dengan cepat mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi meninggalkan Putri yang sedang terisak dengan tangisannya.


Putri memegang perutnya dan kepalanya yang terasa pusing, hingga tidak lama kemudian Putri pun jatuh tak sadarkan diri. Pak Adnan dan Bi Atikah panik, mereka pun segera menghampiri Putri. Pak Adnan menghubungi Nenek Arini membuat semuanya panik.


Daddy Darwis segera pulang dan membawa Putri ke rumah sakit tempat Queen bekerja. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit.


"Dokter, tolong!" teriak Daddy Darwis.


Queen yang memang sedang memantau di IGD, langsung menoleh saat mendengar teriakan orang yang sangat dia kenal.


"Putri," batin Queen.


Semua suster sedang sibuk, hingga reflek Queen pun mendorong brankar menghampiri Daddynya.


"Queen."


"Tidurkan dia di sini," seru Queen dingin.


Daddy Darwis pun segera menidurkan Putri di atas brankar dan Queen dengan cepat mendorong brankar itu dibantu oleh Daddynya.


"Terima kasih Nak, kamu mau membantu adikmu," seru Daddy Darwis disela-sela mendorong brankar.


"Kamu bisa lihat Darwis, anak yang selama ini kamu sia-siakan menolong anak kesayanganmu," seru Nenek Arini.


Daddy Darwis menundukkan kepalanya, begitu pun dengan Mommy Vivian yang sudah menitikkan airmatanya.


Mereka menunggu hasil pemeriksaan Putri...


"Bagaimana dokter keadaan Putri?" tanya Queen.


"Sepertinya kondisinya sudah sangat parah, mungkin untuk saat ini pasien harus bed rest gak boleh melakukan apa pun. Kalau pasien bisa mendapatkan donor ginjal, itu akan lebih baik," sahut Dr.Berta.


Queen terdiam dan menatap Putri dengan tatapan iba. Bagaimana pun Putri adalah adiknya, meski pun selama ini dia sudah sering melakukan kejahatan terhadapnya tapi Queen tidak bisa memungkiri kalau Queen menyayangi Putri.


"Dr.Queen bisa diskusi dengan keluarga, kalau seandainya barang kali ada keluarga yang mau mendonorkan ginjalnya tapi itu pun harus cocok dan sehat karena satu keluarga belum tentu ginjalnya akan cocok. Inilah jalan satu-satunya supaya nyawa pasien bisa tertolong."


"Iya dok, terima kasih."


Putri di bawa ke ruangan rawat inap, sedangkan Queen pergi ke ruangannya. Queen terduduk di kursi kebesarannya, pikirannya melayang ke mana-mana, hatinya begitu gelisah memikirkan kondisi adiknya itu.


Tidak terasa waktu pun berjalan dengan sangat cepat. Queen membereskan barang-barangnya, dia pun berjalan gontai ke lobi rumah sakit dan ternyata di sana sudah ada Rifki yang menunggu.

__ADS_1


Rifki memejamkan matanya dengan posisi terduduk, Queen tampak memperhatikan Rifki lalu senyumnya kembali tersungging.


"Aku tampan, kan?" seru Rifki.


Seketika Queen kaget sampai melotot, perlahan Rifki membuka matanya dan tersenyum.


"Jadi kamu pura-pura tidur?"


"Siapa yang pura-pura, memang aku tidak tidur kok."


Queen terlihat kesal dan segera pergi meninggalkan Rifki.


"Gitu aja ngambek."


"Sudah buruan, aku capek pengen cepat-cepat istirahat," seru Queen.


Rifki pun menyerahkan helm kepada Queen, perlahan Rifki sudah mulai melajukan motornya. Mata Queen sudah tampak lelah, hingga tanpa terasa, Wajah Queen terjatuh di pundak Rifki saking ngantuknya.


Rifki kaget dan langsung menghentikan motornya.


"Astaga, untung cantik main tidur aja, sengantuk itukah kamu Bu dokter?" gumam Rifki.


Rifki pun menarik kedua tangan Queen untuk memeluknya perutnya, perlahan Rifki mulai melajukan motornya dengan sangat pelan karena takut Queen jatuh.


Rifki mengendarai motornya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi harus memegang tangan Queen.


Membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk Rifki sampai di rumah Nenek Arini karena Rifki harus pelan banget supaya Queen tidak terjatuh.


"Queen, bangun Queen, sudah sampai," seru Rifki.


Queen mulai menggerakkan tubuhnya dan langsung membuka mata.


"Astagfirullah, maaf aku ketiduran."


"Gak apa-apa, pasti kamu capek banget. Ya sudah, sekarang kamu masuk sana dan istirahat."


"Baiklah, sekali lagi terima kasih ya."


Rifki menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Rifki mulai memperhatikan setiap sudut rumah Nenek Arini.


"Kok, rumahnya gelap seperti ini? mana sepi lagi," gumam Rifki.


Rifki hendak menanyakan kepada Queen, tapi Queen sudah terlanjur masuk ke dalam rumah. Rifki pun mulai menyalakan motornya, tapi jiwa polisinya merasakan ada hal yang janggal dengan keadaan rumah Nenek Arini yang tidak biasanya sampai gelap gulita seperti itu.


"Kok aku merasa ada yang aneh ini, apa aku tunggu saja ya di sini untuk memastikan kalau Queen baik-baik saja," batin Rifki.

__ADS_1


Rifki pun memutuskan untuk menunggu beberapa menit di depan gerbang rumah Nenek Arini hanya untuk memastikan kalau Queen baik-baik saja dan membuktikan kalau perasaannya salah.



__ADS_2