
Queen saat ini sedang memeriksa beberapa pasien, tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk. Queen membukakan pintu ruangannya.
"Maaf Bu dokter, apa anda sedang membutuhkan baby sitter?" tanya seorang wanita muda.
"Ah iya, tapi kamu tunggu dulu sebentar ya, soalnya aku mau periksa pasien aku dulu."
"Baik, Bu dokter."
Wanita muda itu pun menunggu di luar ruangan Queen, tidak lama kemudian Queen selesai memeriksa pasiennya dan Queen pun menyuruh wanita muda itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi Bu dokter."
"Silakan duduk."
"Terima kasih, Bu dokter."
"Nama kamu siapa?" tanya Queen.
"Nama saya Fitri, Bu."
"Apa kamu sudah punya pengalaman mengurus bayi?" tanya Queen.
"Belum, tapi saya punya adik banyak Bu dokter jadi setidaknya saya tidak awam-awam banget karena saya sudah terbiasa mengurus adik-adik saya dari bayi sampai besar."
"Oh oke, aku ingin kamu mengurus anakku dengan sepenuh hati. Aku ingin kamu anggap Putra sebagai adik kamu yang harus kamu urus dan jaga dengan sebaik mungkin."
"Baik Bu dokter."
"Baiklah, kamu bisa mulai bekerja besok dan jangan lupa kamu bawa baju soalnya aku ingin kamu tinggal di rumah dan satu Minggu sekali, kamu boleh pulang."
"Iya, Bu dokter. Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih Bu dokter sudah mau menerima saya."
"Sama-sama, Fitri."
Fitri pun memutuskan untuk pulang dan bersiap-siap karena besok, dia akan mulai bekerja.
Hari ini Queen begitu sangat sibuk, setelah satu bulan lebih dia tinggal di Jakarta membuat pasien berbondong-bondong datang ke klinik Queen.
Di saat Queen sedang memeriksa pasien, tiba-tiba Raffi datang dengan senyumannya yang mengembang.
"Selamat siang, Bu dokter cantik!"
Queen pun menoleh, suasana hati Queen berubah kesal saat melihat ada Raffi di sana.
"Bu dokter, sudah waktunya jam makan siang, aku ke sini datang untuk mengajak Bu dokter makan siang bersama," seru Raffi dengan santainya.
Queen tidak memperdulikan Raffi, dia terus saja memeriksa pasien. Tapi Raffi justru semakin nekad, dia terus saja mengikuti Queen membuat Queen semakin tidak suka kepada Kades tampan itu.
"Maaf Pak, bisakah Bapak pergi dari sini?" seru Queen dingin.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu mau makan siang denganku."
Queen menatap tajam ke arah Raffi. "Pak, aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya suami, jadi aku gak mungkin menerima tawaran Bapak!" sentak Queen.
"Aku tidak peduli, kamu sudah punya suami atau belum. Aku bingung, kenapa kamu lebih memilih Rifki dibandingkan denganku? aku lebih kaya daripada dia, dan aku juga tak kalah tampan, sudahlah tinggalkan Rifki dan menikahlah denganku, aku akan membuatmu bahagia," seru Raffi.
"Dasar gila, pergi dari sini atau aku berteriak supaya warga datang ke sini," ancam Queen.
"Aku ini Kades di sini, mereka akan merasa takut kepadaku dibandingkan denganmu jadi percuma kamu berteriak. Lagipula, aku gak ngapa-ngapain kamu kok, aku hanya mengajakmu makan siang."
"Pergi dari sini!" bentak Queen.
Raffi tidak memperdulikan bentakan Queen, justru dia malah tersenyum. Queen yang semakin emosi, akhirnya mendorong tubuh Raffi sampai keluar dari kliniknya.
"Aku minta, jangan datang lagi ke sini atau aku akan bilang sama Rifki, apa yang sudah kamu lakukan dan katakan kepadaku!" sentak Queen.
"Sedikit pun aku tidak takut kepada dia, satu hal yang harus kamu ingat, aku akan menyerah untuk bisa mendapatkanmu," sahut Raffi dengan senyumannya.
Queen menutup pintu kliniknya dengan kasar. "Dasar, gila."
Queen segera masuk ke dalam ruangannya, Queen benar-benar tidak habis pikir, masih ada di dunia ini pria gila yang dengan terang-terangan memintanya untuk menjadi istri padahal semua orang tahu kalau Queen sudah menikah dengan Rifki.
"Dia benar-benar sudah gila," gumam Queen dengan geramnya.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Queen segera membereskan barang-barangnya dan keluar dari klinik. Queen duduk di depan klinik menunggu kedatangan Rifki, entah kenapa Queen saat ini menjadi was-was.
"Loh, kenapa dengan istriku? serindu itukah kamu sama aku," goda Rifki.
"Iya, aku rindu sama suamiku ini," sahut Queen dengan wajah yang sedih.
Semenjak tadi Queen bertemu dengan Raffi dan Raffi mengatakan hal yang sangat menyebalkan, Queen merasa takut kehilangan Rifki.
"Kalau mau pelukan lama di rumah saja, kalau di sini malu dilihat orang-orang yang lewat," seru Rifki.
Queen pun melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Rifki, lalu Queen segera naik ke atas motor Rifki dan memeluk perut Rifki dengan sangat erat.
"Ayo kita pulang, aku sudah rindu sama Putra."
"Oke."
Rifki pun dengan cepat melajukan motornya menuju rumah Nenek Arini, tapi sebelum pulang, mereka mampir dulu ke rumah Rifki untuk mengambil Putra yang tadi Queen titipkan di mertuanya.
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Queen akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan keperluan Putra dan suaminya.
"Sayang, bantuin pakaikan seragam dong!" teriak Rifki.
__ADS_1
Queen merebahkan tubuh Putra di ranjang bayinya, lalu menghampiri suaminya.
"Biasanya juga pakai seragam sendiri, kenapa sekarang jadi manja," ledek Queen.
"Habisnya sekarang kamu jadi jarang memperhatikanku, lebih sering memperhatikan Putra."
"Kamu cemburu sama Putra?"
"Sedikit."
"Astaga Mas, Putra kan masih bayi sedangkan kamu sudah tua, masa iya cemburu sama Putra."
Queen pun selesai memakaikan seragam kepada Rifki, kemudian mengambilkan kopi untuk Rifki.
"Pagi ini baby sitter Putra mulai bekerja."
"Kamu sudah menemukan orangnya?"
"Sudah, namanya Fitri. Kemarin dia datang ke klinik untuk melamar jadi baby sitter."
Rifki tampak manggut-manggut, setelah selesai ngopi, Queen dan Rifki pun turun ke bawah untuk sarapan bersama.
Queen menggendong Putra, ternyata Fitri sudah ada di bawah.
"Sayang, ini katanya orang yang akan menjadi baby sitternya Putra," seru Nenek Arini.
"Ah iya, Fitri kenalkan ini suami aku."
Fitri tampak terpesona kepada Rifki, dia baru pertama kali ini melihat pria setampan Rifki.
"Se-lamat pagi, Pak."
"Pagi."
Rifki terlihat sangat dingin dan langsung duduk di meja makan bersama Nenek Arini. Queen menjelaskan apa saja yang harus Fitri lakukan selama menjadi baby sitter tapi Fitri tampak tidak fokus karena pandangannya teralihkan kepada Rifki.
"Apa kamu mengerti, Fitri?"
"Ah iya Bu dokter, saya mengerti."
Setelah selesai sarapan, Queen dan Rifki pun pamit kepada Nenek Arini.
"Sayang, kok aku gak suka ya sama baby sitter Putra," seru Rifki setelah sampai di klinik Queen.
"Kenapa?"
"Entahlah, pokoknya aku kurang suka sama dia."
"Jangan begitu ah, aku lihat Fitri anak yang baik."
__ADS_1
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya."
Rifki menciumi seluruh wajah Queen, dan segera pergi meninggalkan klinik Queen. Rifki memang belum pernah bertemu dengan Fitri dan ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan gadis muda itu, tapi entah kenapa Rifki kurang suka dengan Fitri.