
Queen sampai di rumah Nenek Arini dan Nenek Arini langsung merawat Queen.
"Terima kasih ya, Rifki, kamu sudah mencari Queen," seru Mommy Vivian.
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu, Rifki pulang dulu soalnya masih ada hal yang harus Rifki selesaikan."
"Iya Nak, sekali lagi terima kasih," seru Daddy Darwis.
Rifki pun pergi, dada Rifki sudah sangat sesak menahan emosi yang sudah tertahan sejak kemarin. Dengan langkah pasti, Rifki mendatangi rumah Safa.
Tok..tok..tok..
Mama Safa pun membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Rifki sudah berdiri di depan rumahnya dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat.
"Nak Rifki, a-da a-pa ya da-tang ke ru-mah Ibu?" tanyanya dengan gugup.
"Mana Safa?"
"Sa-fa ti-dak a-da di ru-mah."
"Ke mana dia?"
Mama Safa terlihat sangat ketakutan, dia tidak tahu harus berkata apa karena kalau dia berbohong, Rifki sudah pasti akan mengetahuinya.
"JAWAB Bu, jangan buat aku bersikap kasar kepada Ibu!" bentak Rifki.
Mama Safa sampai tersentak kaget mendengar bentakan Rifki, anak yang selama ini selalu bersikap sopan dan terlihat ramah berubah menjadi kasar.
Mama Safa hanya diam, sehingga membuat Rifki semakin kesal. Akhirnya dengan amarah yang memuncak, Rifki pun menerobos masuk ke dalam rumah Safa untuk mencari keberadaan Safa.
"Safa, keluar kamu!" teriak Rifki.
Mama Safa benar-benar ketakutan, dia hanya bisa menangis sembari mengikuti langkah Rifki.
Rifki begitu sangat emosi, dia mencari ke setiap ruangan yang ada di rumah itu. Namun, Rifki sama sekali tidak menemukan keberadaan Safa.
Rifki mulai bringas, dan menatap tajam ke arah calon mertua yang tidak jadi itu.
"Cepat katakan dimana Safa?"
"Rifki, Ibu mohon maafkan Safa," seru Mama Safa dengan deraian airmata.
"Kalau seorang polisi memaafkan seorang penjahat, itu namanya diskriminasi dan negara ini akan hancur."
"Safa bukan penjahat."
"Safa sudah menyuruh orang untuk membunuh Queen, dan Queen sampai jatuh ke sungai dan baru ditemukan pagi ini. Apa itu bukan namanya penjahat? Safa berusaha menghilangkan nyawa seseorang dengan disengaja dan direncanakan, apa Ibu ingin melindungi seorang pembunuh?" sentak Rifki.
"Rifki, Ibu mohon jangan jebloskan Safa ke penjara biar Ibu saja yang menggantikan Safa untuk masuk penjara, Ibu mohon."
"Bu, ini bukan sinetron atau pun drama yang dengan mudahnya bisa menggantikan posisi seseorang untuk menerima hukuman. Memangnya Ibu pikir, kepolisian di negara ini bodoh mau melakukan hal seperti itu? cepat katakan, di mana Safa berada?"
__ADS_1
Pranggg...
Terdengar bunyi sesuatu terjauh dan ternyata itu adalah Safa, Rifki segera mencari sumber suara itu dan menemukan Safa yang hendak kabur dengan dibantu oleh Ayahnya.
Tentu saja dengan sigap, Rifki mengejar keduanya dan Rifki berhasil menangkap Safa.
"Mau ke mana kamu?"
"Rifki, saya mohon jangan bawa Safa ke kantor polisi," seru Ayah Safa.
Rifki tidak mendengarkan ucapan Ayahnya Safa, dia pun segera menghubungi rekan-rekannya untuk datang ke rumah Safa. Sementara itu, Safa sudah terlihat pasrah dan dia sudah tidak bisa berkutik lagi.
Tidak lama kemudian, beberapa orang rekan Rifki datang.
"Bawa wanita ini ke kantor polisi dan jebloskan ke dalam penjara."
"Siap, Pak."
Mama dan Ayah Safa tampak histeris melihat anaknya dibawa oleh polisi, tapi Rifki sama sekali tidak merasa kasihan.
Setelah melihat Safa di bawa oleh rekan-rekannya, Rifki pun langsung pergi meninggalkan kedua orangtua Safa yang sedang menangis.
***
1 bulan kemudian...
Setelah menunggu, akhirnya hari yang dinanti-nantikan Queen dan Rifki datang. Hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua, keduanya sangat bahagia karena akhirnya setelah berbagai masalah muncul, keduanya akan segera menjadi pasangan suami istri.
Sore ini, Rifki akan mengucapkan ijab kabul di sebuah hotel yang sudah disiapkan oleh kedua orangtua Queen.
"Kakak kenapa?" tanya Putri.
"Kakak sangat gugup, Putri."
Putri pun menggenggam tangan Kakaknya itu untuk memberikan semangat dan mengurangi rasa gugup yang sedang dirasakan oleh Queen.
Berbeda dengan Rifki yang saat ini terlihat sangat gelisah, bahkan Rifki sepertinya sudah tidak enak duduk.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu Nur.
"Rifki takut Bu, takut kejadian dulu terulang lagi. Dulu Safa kabur di saat Rifki akan mengucapkan ijab kabul, dan sekarang Rifki benar-benar takut akan terjadi hal yang sama lagi," sahut Rifki dengan wajah yang cemas.
"Nak, Safa dan Queen adalah dua wanita yang berbeda. Ayah sudah memastikan kalau saat ini Queen ada di dalam sebuah ruangan dan sebentar lagi Queen akan datang," seru Ayah Haris menenangkan putranya itu.
Benar saja, pintu ruangan itu terbuka terlihat Queen berjalan dengan anggunnya sembari merangkul lengan Daddy Darwis.
Rifki reflek berdiri seakan menyambut kedatangan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Airmata Rifki menetes dengan sendirinya, saking bahagianya Rifki bisa melihat calon istrinya berjalan menghampirinya.
Rifki semakin terisak melihat Queen semakin mendekat dengan senyumannya yang mengembang.
Queen berdiri di hadapan Rifki, lalu menghapus airmata Rifki.
__ADS_1
"Kenapa menangis?"
"Aku bahagia sayang, karena hari ini pengantin wanitaku tidak kabur."
Queen tersenyum, akhirnya keduanya duduk di kursi yang sudah disediakan. Rifki mulai menjabat tangan Daddy Darwis, dan dengan tegas serta lancar mengucapkan ijab kabul.
"Alhamdulillah."
Semuanya mengucapkan Hamdallah secara bersamaan, Queen mencium punggung tangan Rifki sedangkan Rifki menyimpan satu tangannya lagi di atas kepala Queen.
"Terima kasih, sudah mau menjadi istriku dan menerima aku apa adanya," seru Rifki.
Queen kembali tersenyum, dan Rifki pun mencium kening Queen membuat semua orang tersenyum bahagia melihatnya bahkan Daddy Darwis menyeka sudut matanya yang sudah mengeluarkan airmata.
Setelah acara ijab kabul selesai, Rifki dan Queen mulai melakukan prosesi sungkeman kepada kedua orangtua mereka masing-masing.
"Selamat sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Jadilah istri yang berbakti kepada suamimu, maafkan Mommy karena sampai kamu menikah pun, Mommy belum bisa membahagiakanmu," seru Mommy Vivian dengan deraian airmata.
Queen tidak bisa menahan airmatanya, airmata Queen menetes dan Queen langsung memeluk Mommynya itu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Setelah cukup lama Queen berpelukan dengan Mommynya, Queen pun beralih kepada Daddynya yang saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya dengan airmata yang terus berjatuhan.
"Daddy."
"Anak Daddy."
Daddy Darwis langsung memeluk anak sulungnya itu dengan sangat erat, bahkan saat ini Daddy Darwis terisak menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
"Maafkan Daddy, sayang. Selama ini Daddy belum bisa membahagiakanmu, Daddy hanya bisa membuatmu sedih dan terluka."
"Queen sudah memaafkan Daddy, jadi Daddy tidak perlu merasa bersalah lagi."
Queen melepaskan pelukannya, dia menghapus airmata Daddynya dengan tangannya sendiri. Lalu Queen mencium kening Daddynya.
"Queen sayang sama Daddy, justru Queen ingin mengucapkan terima kasih sama Daddy, berkat Daddy, Queen bisa bertemu dengan Rifki."
"Berbahagialah sayang, Daddy akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."
Daddy Darwis mencium kening anaknya sangat lama, setelah itu saat Rifki yang sungkeman kepada Daddy Darwis.
"Terima kasih Dad, sudah memberikan harta yang paling berharga untuk Rifki."
"Tolong jaga dan bahagiakan Queen, selama ini Daddy belum bisa melakukannya jadi Daddy mohon sekarang ini adalah tugas kamu untuk membahagiakan anakku."
"Baik Daddy."
Daddy Darwis memeluk Rifki, suasana saat ini sangatlah mengharu biru. Hingga akhirnya malam pun tiba, di malam resepsi mereka sangat bahagia. Rifki tidak melepaskan tangan Queen walau hanya sebentar saja.
Rifki benar-benar sangat bahagia dan resepsi pernikahan mereka pun berjalan dengan lancar dan meriah.
__ADS_1