
Mommy Vivian terus saja mondar-mandir di teras, hingga tidak terasa waktu pun sudah mendekati waktu Maghrib. Daddy Darwis dan Nenek Arini yang baru pulang dari sawah, tampak mengerutkan keningnya saat melihat wajah khawatir Mommy Vivian.
"Mommy ngapain mondar-mandir seperti ini?" tanya Daddy Darwis.
"Queen belum pulang Dad, Mommy sangat khawatir dan perasaan Mommy juga tidak enak."
"Queen belum pulang? biasanya jam segini Queen sudah ada di rumah," seru Daddy Darwis.
"Justru itu Dad, Mommy sangat khawatir."
"Palingan Queen sedang banyak pasien, atau mungkin juga ada pasien rawat inap jadi dia harus nginap di klinik," seru Nenek Arini.
"Tapi Queen akan memberi kabar Ma, kalau dia mau nginap di klinik tapi sekarang dia sama sekali tidak memberi kabar," sahut Mommy Vivian cemas.
"Ya sudah, kita tunggu saja di dalam siapa tahu sebentar lagi Queen pulang," seru Nenek Arini.
Akhirnya semuanya pun masuk ke dalam rumah, sedangkan Rifki yang saat ini masih berada di tempat kerja merasa sangat khawatir juga karena ponsel Queen tidak aktif sama sekali.
"Astaga, dia ke mana? kok, tumben ponselnya tidak aktif?" gumam Rifki.
Perasaan Rifki semakin tidak enak, dia pun memutuskan untuk pulang. Rifki sengaja lewat klinik Queen, dan terlihat kliniknya masih menyala.
"Loh, apa Queen belum pulang ya?"
Rifki pun menghentikan motornya di depan klinik dan langsung masuk ke dalam, Rifki pun masuk ke dalam ruangan Queen.
"Sayang!"
Ternyata ruangan Queen kosong, Rifki terus saja memanggil Queen hingga Ibunya Wildan pun keluar.
"Maaf Mas, Bu dokter gak ada di sini."
"Ibu sedang apa di sini?" tanya Rifki.
"Anak saya dirawat di sini, tadi Bu dokter ada yang memanggil katanya di kampung sebelah ada yang mau melahirkan."
"Hah, ada yang melahirkan? Queen kan, bukan bidan atau pun dokter kandungan, ngapain manggil Queen segala," seru Rifki merasa aneh.
"Saya kurang tahu, Mas."
"Kapan Queen berangkat?"
"Tadi sebelum Maghrib."
"Ya sudah, terima kasih ya, Bu."
Rifki pun segera keluar, di saat Rifki hendak naik ke atas motornya tiba-tiba ponselnya berbunyi dan tertera Nenek Arini di sana.
__ADS_1
📞"Halo Nek!"
📞"........."
📞"Apa? baiklah Nek, Rifki akan mencarinya."
Rifki tampak kaget dengan ucapan Nenek Arini yang mengatakan kalau Queen belum pulang, sedangkan di klinik Queen pun tidak ada.
Rifki pun kembali masuk ke dalam klinik dan menanyakan kepada Ibu Wildan.
"Maaf Bu, apa Ibu tahu tadi nama pasiennya siapa yang memanggil Queen?"
"Tadi kalau tidak salah, namanya Ibu Ningsih di kampung sebelah."
"Baiklah, terima kasih Bu."
Rifki pun segera menancapkan gasnya menuju kampung sebelah, di saat Rifki melewati jembatan ada perasaan lain tapi Rifki mencoba untuk membuang jauh-jauh perasaan itu, dia pun segera melanjutkan perjalanannya menuju kampung sebelah.
Sesampainya di kampung sebelah, Rifki menanyakan rumah Bu Ningsih yang sedang hamil dan ternyata di sana tidak ada yang namanya Bu Ningsih dan sedang hamil, ada juga Bu Ningsih yang usianya sudah lanjut usia.
"Ah, sial ke mana Queen?" gumam Rifki dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Rifki pun memutuskan untuk kembali tapi di perjalanan, Rifki seperti melihat Safa yang sedang ngobrol dengan seorang pria. Awalnya Rifki tidak peduli, tapi entah kenapa hatinya mengatakan kalau dia harus menyelidiki Safa.
Rifki pun mematikan motornya dan dia dorong kemudian dia sembunyikan motornya di balik pos ronda. Rifki mengendap-ngendap mendekati Safa supaya dia bisa mendengar apa yang diucapkan Safa kepada pria itu.
"Bagaimana, apa kamu sudah berhasil membuat wanita itu celaka?" tanya Safa.
Rifki tampak membelalakkan matanya, dia tidak mau gegabah karena dia belum bisa menyimpulkan siapa wanita yang sedang Safa bicarakan itu.
"Pokoknya jangan sampai ada yang tahu kalau itu suruhan aku, karena aku tidak mau sampai Rifki semakin membenciku. Aku tidak rela Rifki menikah dengan Queen, dan sekarang Queen sudah mati jadi, aku akan bebas mendekati Rifki lagi," seru Safa.
Rifki mengepalkan kedua tangannya, ternyata Safa yang berada di balik semua ini. Rifki segera menghampiri Safa dan menarik paksa tangan Safa supaya menghadap ke arahnya. Sedangkan pria suruhan Safa, sudah kabur melihat kedatangan Rifki.
"Rif-ki."
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Queen?"
"A-aku...a-ku..."
"JAWAB!" bentak Rifki.
Safa masih bungkam membuat Rifki semakin emosi, Rifki mencengkram wajah Safa sampai Safa meringis kesakitan.
"Sakit Rif."
"Cepat katakan, apa yang sudah kamu lakukan kepada Queen?"
__ADS_1
"Queen, dia jatuh ke sungai."
Rifki menghempaskan Safa membuat Safa tersungkur ke tanah.
"Kalau sampai terjadi apa-apa kepada Queen, aku pastikan, aku akan bunuh kamu dengan tanganku sendiri," seru Rifki dengan mata yang memerah.
Rifki mengotak-ngatik ponselnya, entah siapa yang Rifki hubungi. Setelah itu, Rifki segera naik ke atas motornya dan dengan cepat menuju jembatan. Sesampainya di jembatan, Rifki tampak celingukan mencari keberadaan Queen.
"Queen, kamu ada di mana? sayang, kamu di mana!" teriak Rifki.
Kondisi di jembatan sangatlah gelap karena belum ada penerangan di sana. Rifki menyalakan senter yang ada di ponselnya dan mengarahkan ke segala arah.
"Astagfirullah Queen, kamu di mana?" teriak Rifki dengan paniknya.
Air sungai malam ini sangatlah deras, hingga tidak lama kemudian dua orang teman Rifki datang dengan membawa pria yang tadi berbincang dengan Safa.
"Rif, ini orang yang kamu cari. Kita berhasil menangkapnya saat dia hendak kabur," seru teman Rifki.
Mata Rifki memerah, dia menghampiri pria itu dengan emosi yang sangat memuncak.
Buggg...
Rifki memukul pria itu dengan sangat keras. "Apa yang sudah kamu lakukan kepada Queen?" bentak Rifki.
"Maafkan aku Pak, aku hanya mengikuti apa yang disuruh Safa."
Bugg...
Rifki kembali memukul pria itu. "Aku tanya, apa yang sudah kamu lakukan kepada Queen!" teriak Rifki.
"Tadi aku berbohong mengatakan kalau istriku mau melahirkan padahal kenyataannya tidak, lalu aku menyuruh dokter itu untuk mengendarai motor aku yang sudah aku sabotase remnya dan tidak lama kemudian, motor itu oleng dan menabrak pembatas jembatan. Sedangkan dokter itu terpental jatuh ke dalam sungai."
Rifki tampak melotot, emosinya sudah tidak bisa tertahankan lagi. Dia memukuli pria itu dengan membabi buta, bahkan kedua temannya tidak sanggup menahan Rifki karena tenaga Rifki sangatlah kuat.
"Kurang ajar, brengsek kamu!" teriak Rifki.
"Sudah Rif, dia bisa mati."
"Biarkan dia mati, karena aku yang akan membunuhnya," sahut Rifki.
"Sadar Rif, kalau dia sampai mati justru kamu yang akan bermasalah, biar orang ini jadi urusan kita lebih baik sekarang kita minta bantuan kepada yang lainnya untuk mencari keberadaan pacar kamu."
Rifki sudah mulai bringas, bahkan saat ini dia seperti orang gila yang terus mencari keberadaan Queen. Sedangkan pria itu, langsung dibawa ke kantor polisi.
Keluarga Queen yang mendapat kabar buruk itu sangat kaget, Mommy Vivian dan Nenek Arini menangis histeris dan ikut mencari keberadaan Queen.
"Queen, kamu dimana sayang? jawab aku!" teriak Rifki.
__ADS_1
Airmata Rifki tidak bisa di tahan, airmatanya menetes dengan sendirinya sungguh Rifki sangat takut kehilangan Queen.