Kisah Cinta Kakak Beradik

Kisah Cinta Kakak Beradik
Bab 18


__ADS_3

Tidak terasa acara resepsi pun selesai. Daffa membawa Nadia ke rumah orangtua nya.


Sesampainya di dalam rumah, mereka langsung masuk ke dalam kamar Daffa.


"Kamu mau mandi sekarang" tanya Daffa.


"Emh kak Daffa duluan deh, aku mau menghapus make up ku dulu"


Setelah setengah jam berlalu, Daffa pun telah selesai dengan ritual mandi nya. Daffa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Daffa menghampiri Nadia yg belum selesai menghapus makeupnya di mejarias. Dia membuka resleting gaun pengantin yang masih Nadia kenakan, Nadia pun terlonjak kaget.


"kak ...."


"kenapa aku kan suami kamu sekarang, jadi kamu gak usah malu"


"tapi kak aku lupa gak bawa baju ganti"


"ya sudah gak usah pakai baju, inikan malam pertama kita" bisik Daffa lembut membuat bulu kuduk Nadia merinding.


"tapi kak...."


"ya sudah kamu cepetan mandi gih, nanti kamu bisa pake baju aku"


Nadia pun lansung bergegas menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi nya. Setelah selesai mandi, Nadia keluar dengan menggunakan bathrobe yg sudah tersedia d kamar mandi. Pelan² dia berjalan menghampiri Daffa.


"kak, bajunya mana"


Daffa yg sudah memakai piyama tidurnya, dia menoleh melihat Nadia yg habis mandi. Dilihatnya rambut Nadia yg masih basah terlihat semakin sexy menurut Daffa.


"ayo sini gak usah pake baju".


"kak...tadi kan janji mau pinjamin aku baju"

__ADS_1


Daffa pun terkejeh" ya sudah tuh lemari nya ada di situ, kamu pilih saja baju yg mau kamu pakai."


Nadia pun segera bergegas menuju lemari dan memilih baju mikik Daffa. Dia memilih piyama untuk di pakainya.


"daffa terkekeh saat melihat Nadia yg keluar dari kamar mandi menggunakan piyama yg kebesaran.


"sinih" ucap Daffa menggeser tubuhnya di atas ranjang tempat tidur, dan menepuk² kasur di sebelahnya supaya Nadia duduk di sebelahnya.


Nadia pun menghampiri Daffa dan duduk di sebelahnya.


"Daffa memandangi wajah Nadia. Di menyingkapkan rambut Nadia yg masih basah, dan terlihat leher jenjang milik Nadia. Daffa mendekatkan wajahnya ke leher Nadia dan mengecupnya bahkan menyesapnya hingga menimbulkan tanda merah.


"Aww..." Nadia menjerit.


kemudian Daffa menarik dagu milik Nadia dan menhadapkan wajah Nadia ke wajah miliknya. Dilihatnya bibir Nadia berwarna merah muda dsn dengan perlahan Daffa mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir itu, tapi dengan Refleks Nadia memalingkan wajahnya. Daffa sedikit memundurkan wajahnya dan menatap kembali wajah Nadia. Hingga kali ini tangan yg satunya memegang tengkuk Nadia dan yg satu lagi masih memegang dagu milik Nadia.


Daffa pun mulai mendekatkan lagi wajahnya, dan dia benar² mendaratkan bibirnya di bibir manis milik Nadia.


Nadia yg menerima serangan dari Daffa hanya bisa memejamkan matanya.


Daffa terkekeh melihat Nadia yg ngos²an dan masih memejamkan matanya. Daffa mengusap bibir Nadia yg basah bekas ciuman tadi hingga Nadia mulai membuka mata nya.


Dan...Cup...Daffa mengecup kembali bibir itu tp hanya sekilas.


Daffa merebahkan tubuh Nadia lalu menindihnya. "Apa boleh aku lakukan sekaranh?" tanya Daffa berbisik di kuping Nadia.


"Aku...aku...belum siap kak" ucap Nadia gemetar


Daffa melihat ketegangan di wajah Nadia dan akhirnya dia kembali duduk sambil menyenderkn punggungnya di tumpukan bantal. Dia menarik Nadia ke pelukannya dengan kepala Nadia berada di atas dada bidang milik Daffa.


"Nad, boleh aku tanya sesuatu tidak".

__ADS_1


'emh... boleh" jawab Nadia sambil menunduk.


"Apa aku boleh tau kenapa kamu menerima lamaran dari ku, apakah kamu menerimanya karena terpaksa?" tanya Daffa.


"Deg,,, Nadia terperanjat oleh pertanyaan Daffa".


Nadia diam seribu bahasa


"kenapa tidak dijawab"


"Emh....sebenarnya aku....emh aku..... memang terpaksa menerimanya" jawab Nadia yg tidak berani menatap wajah Daffa.


"Gak papa aku hargai kejujuranmu"


Nadia mendongak, "Apa kak Daffa gak marah sama aku"


"Buat apa aku marah, aku mengerti kok kamu kan belum lama kenal sama aku, jadi wajarlah kalau kamu terpaksa menerima ku jadi suamimu".


"Terus apa kakak juga terpaksa menerima perjodohan ini" tanya Nadia.


" Tidak" jawab singkat Daffa.


Nadia menatap mata Daffa mencari kebohongan di matanya, dan ternyata tidak ada.


"Dulu aku trauma akan percintaan, aku sudah tidak percaya dengan yang namanya Cinta, Aku berubah menjadi orang yg ssngat dingin, hatiku benar² sudah beku, tapi setelah melihat mu pertama kali di rumahku, entah mengapa,hatiku langsung mencair.


"Secepat itu?" tanya Nadia


"iya". Melihatmu waktu itu membuat jantungku berdetak lebih cepat, ada rasa yg tak biasa di dalam sini" ucap Daffa sambil memegang tangan Nadia dan mengarahkan ke dadanya. Aku jatuh hati padamu, aku terpikat oleh pesona mu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada mu."ucap Daffa sambil mengecup puncuk kepala milik Nadia.


Nadia pun mendongak menatap wajah Datfa.

__ADS_1


"Ya sudah ayo tidur, aku tidak akan memaksamu kalau kamu belum siap" ucap Daffa memeluk Nadia.


Ada perasaan bersalah karena dia telah menolak suaminya, ternyata secepat itu Daffa mencintainya. Tapi entah siapa yg ada di dalam hati Nadia saat ini, Nadia pun tidak tahu. Bahkan Nadia masih di bingungkan dengan situasi yg terjadi kemarin.


__ADS_2