Kisah Cinta Kakak Beradik

Kisah Cinta Kakak Beradik
Bab 7


__ADS_3

Vano melihat jam di tangannya baru menunjukan pukul setengah sembilan malam, dia berjalan menuju kamarnya Nadia. Di lihatnya Nadia belum tidur dia sedang mengerjakan tugas² kuliahnya.


"Nad, kamu blm tidur?".


"Belum kak, tumben kakak masuk ke kamar Nadia, ada perlu apa kak".


"Nad, ada yang ingin bicarakan sama kamu".


" Apaan sih kak, kok serius amat".


"kamu kenal sama om Satya kan".


"iya".


"Kamu udah kenal sama anaknya?".


" emh... maksud kakak,, kak Daffa?".


"iya, Nad".


"Terus?".


"Gini, tadi Ayah telpon, Ayah bilang kalau keluarga Satya ingin melamar kamu Nad,"


"Apa?".


"iya, kalau kamu mau menerimanya keluarga om Satya akan datang melamar kerumah Nad".


"Maksud kakak, kak Daffa mau melamar Nadia gituh?".


"iya".


"tapi kak, kak Daffa kan udah tua kak, dia kan seumuran sama kakak".

__ADS_1


"oh jadi menurut kamu, kakak ini sudah tua".


"bukan begitu kak, tapi kan kalau seumuran kakak harusnya dia sudah berkeluarga, dia sudah punya anak 2 kayak kakak".


"iya kan dia berniat ingin membangun rumah tangga sama kamu".


"tapi kak, aku kan belum kenal betul sama dia,".


"kamu bisa mengenalnya setelah kalian menikah Nad".


"ahhh" Nadia mengusap wajahnya kasar dan mengacak2 rambutnya sendiri karena frustasi, di satu sisi dia sedang oatah hati karena ditinggal kekasih hati, disatu sisi lagi dia frustasi karena ada irang yang baru dia kenal aka melamarnya.


"beri aku waktu untuk berpikir kak".


"iya, silahkan kami pikirkan terlebih dahulu".


Kakak pergi tidur dulu ya udah malam ini. kamu juga tidur, jangan terlalu dipikirkan.


Malam harinya, Nadia tidak bisa tidur, "kenapa cobaan berdatangan dengan berbarengan seperti ini" ucapnya dalam hati.


Keesokan harinya Nadia bangun kesiangan karena semalam dia tidak bisa tidur, dan kakaknya pun gak membangunkannya karena dia tahu, kalau Nadia sedang banyak pikiran.


"Nad, kamu sudah bangun, ucap Sarah saat melihat Nadia turun dari tangga.


"iya kak, kepalaku pusing banget".


"Kamu gak kuliah,Nad".


"nggak kak, kayak nya aku izin duku deh kak,".


"Ya udah kamu makan dulu gih, trus kamu minum obat, ada parasetamol di kotak obat".


"iya kak".

__ADS_1


Setelah selesai makan dan minum obat, Nadia duduk di sofa ruang tv. Disitu terdapat Sarah yng sedang bercengkrama bersama kedua anaknya.


"Nad, kakak sudah tau tentang lamaran Daffa buat kamu".trus jawaban kamu bagaimana?


" entahlah kak, aku pusing banget ini mikirinnya".


"Kamu jangan lupa istikharah Nad, minta petunjuk sama Allah dan mohonlah padaNya,supaya kamu diberikan jalan yang terbaik".


"iya kak, makasih nasihatnya".


Setelah menunaikan sholat dzuhur dan tak lupa Nadia melaksanakan istikharah, Nadia beranjak merebahkan badannya di kasur, dan tak lama ponsel nya berdering, dan dilihat nomer Bunda yg ada di layar hp nya.


"Halo, asssalamualaikum Bun",


"Waalaikumsalam sayang"


"Apa bunda nelpon Nadia mau menanyakan jawaban dari Nadia?"


"kok kamu suudzon sih sama Bunda, bunda kan kangen sama kamu".


"habisnya semua orang nanyain hal itu² aja sama Nadia".


"Sayang, Ayah kamu menyuruh kamu izin dulu dari kampus, Ayah ingin kamu pulang dulu ke Bandung, Ayah mau bicara sama kamu".


"Tuh kan bener, ujung²nya masalah itu lagi yg di bahas".


"bukan begitu sayang, bagaimana pun kamu harus memberikan jawaban mu kepada keluarga Om Satya".


Ya udah deh besok aku mau izin dulu ke kampus".


"Gak perlu Sayang, sepertinya kakak kamu, sudah minta izin ke kampus kamu deh"


"segitunya ya kalian merencanakan ini semua".

__ADS_1


"Sayang kami gak mungkin menjerumuskan mu nak, kami menjodohkan kamu karena kami tau asal usul keluarga Om Satya, dan kita juga tau kalau nak Daffa anak yang baik.


"Terserahlah, aku ngomong pun gak akan ada yg denger juga".


__ADS_2