Kisah Cinta Kakak Beradik

Kisah Cinta Kakak Beradik
Bab 22


__ADS_3

Nadia mendorong tubuh Reifan, lalu dia berlari menuju pintu dan langsung membuka kunci pintu kamar. Dia terus berlari keluar kamar dan Reifan pun masih mengejarnya, hingga di saat ingin masuk ke kamar nya, Reifan yg berhasil mengejar Nadia lalu menarik Nadia ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, aku sudah kasar sama kamu".


"Lepaskan aku Rei... kamu jangan macam² ya sekarang aku ini kakak iparmu!!!" ucap Nadia sambil melepaskan pelukannya.


Nadia memundurkan tubuhnya ke pintu kamarnya.


"Aku mohon Nad, aku perlu bicara sama kamu, ada banyak yg harus kamu jelaskan sama aku".


"Aku gak mau!"


"Aku janji aku gak akan nyakitin kamu lagi" ucap Reifan hendak meraih tangan Nadia.


"Jangan sentuh aku" ucap Nadia ketakutan hingga Nadia menutupi bagian dada nya dengan tangannya.


"Barusan aku khilaf Nad, aku minta maaf, aku butuh bicara sama kamu ada yg ingin aku sampaikan sama kamu".


"nggak... aku gak mau" ucap Nadia membuka pintu kamarnya lalu dia masuk dan langsung menutup pintu kamarnya, tidak lupa dia juga langsung menguncinya.


"Nad, aku mohon aku ingin bicara sebentar saja aku ingin penjelasan darimu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu sama kamu" Reifan bicara sambil mengetuk² pintu kamar Nadia.


Setelah lama tidak ada jawaban, Reifan pun berhenti mengetuk pintu. Dia duduk ber


sender di pintu kamar Nadia.


Tak lama kemuadian dia mendengar ada suara mobil Daffa yg terparkir di halaman rumahnya. Reifan pun berdiri dan meninggalkan kamar Nadia.

__ADS_1


Daffa keluar dari mobil dengan menjinjing beberapa paperbag, dia berjalan menuju ke kamarnya.


"Nad, buka pintunya" Daffa mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa" tanya Nadia dari dalam kamar.


"Ini aku, Daffa"


Nadia pun mengusap airmatanya dan bergegas membuka pintu kamarnya. Dia membuka kunci dan membuka pintu sedikit karena takut yg datang adalah Reifan. Dan setelah dia tau kalau yg datang adalah Daffa dia membukanya dan langsung memeluknya.


"Kak Daffa kenapa lama sekali perginya" ucap Nadia sambil terisak kembali.


"Ada apa, kamu kenapa" tanya Daffa


Nadia mendongak dan melepaskan pelukannya. "Tidak ada apa2".


"Ayo ceritakan semuanya sama kakak, sekarang kakak itu suami kamu, tapi kamu boleh menganggap kakak ini teman kamu, teman mencurahkan segala isi hatimu".


"nggak papa kok kak, aku cuman kangen sama Ayah dan Bunda, aku kesepian disini."


"Memangnya mamah kemana?"


"Mamah tadi pergi ke supermarket"


Daffa memeluk Nadia,"kamu gak usah takut ya, aku ada disini sekarang".


Nadia pun membalas pelukan Daffa. Entah kenapa walau mereka baru saling mengenal, tapi Nadia merasa aman berada di sisi Daffa. Apa mungkin karena Daffa sekarang sudah syah menjadi suaminya atau entah karena apa, Nadia pun masih di bingungkan dengan keadaan ini.

__ADS_1


Daffa melonggarkan pelukannya dan meraih paperbag yg ia bawa tadi.


"Ini aku belikan kamu beberapa pakaian, semoga saja kamu suka".


"Nadia mendongak menatap Daffa, lalu dia meraih paperbag tersebut dan mengeluarkan isinya. Dilihatnya beberapa setel pakaian dan pastinya pakaian mahal.


"Kok kak Daffa beliin aku pakaian mahal sih, nanti sore juga kak Vano kesini mau nganterin pakaian aku".


"ini kan sudah kewajiban aku sebagai suami mu".


"Tapi kak aku kan belum menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri".


"Tidak usah dipikirkan, aku ikhlas kok memberikannya untukmu, walau kamu belum siap menjadi istriku seutuhnya tapi aku akan tetap berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu"


"Dan aku akan sabar menunggu sampai kamu benar² siap". Dan sampai waktunya tiba, izinkan aku menjadi teman mu".


"Terimakasih banyak kak" ucap Nadia sambil memeluk Daffa.


"Ya sudah kamu ganti baju dulu sanah, kita jalan²".


"Jalan² kmn kak?"


"Terserah kamu mau kemana".


"Aku mau ke mall".


"Oke, ayo".

__ADS_1


__ADS_2